Valentine, sabi gak ya ?

Valentine, sabi gak ya ?

Yang Termasuk Mendekati Zina

  “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya itu adalah perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa 17:32]

Apabila dilakukan survei, mungkin kebanyakan umat muslim saat ini telah mengerti bahwa berzina merupakan perbuatan terlarang. Oleh karena besarnya dosa dari perbuatan tersebut, maka sudah selayaknya perbuatan itu tidak didekati. Namun, larangan untuk mendekati zina bukan sekedar konsekuensi logis, tetapi merupakan sebuah pelarangan tersendiri yang jelas. Dalam Al-Israa ayat 32, firman Allah berbunyi “janganlah kamu mendekati zina”, bukan “janganlah kamu berzina”.

Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa hal-hal yang dapat menjerumuskan pada perzinaan adalah dilarang. Namun, apa-apa saja yang termasuk dalam mendekati zina mungkin akan berbeda-beda menurut pendapat tiap orang, sehingga dikatakan “Bagiku, ini dan itu tidak termasuk mendekati zina”. Akan tetapi tentunya pemahaman yang lebih mendekati kebenaran adalah apabila dalam melihat pelarangan ini, kita mengambil definisi dari pihak yang mengeluarkan larangan tersebut.

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian zina anak keturunan Adam yang pasti ia jumpai, zina kedua mata adalah melihat, zina lidah adalah mengecap, zina hati adalah berangan dan bernafsu, dan kemaluan akan membenarkan hal tersebut atau mendustakannya.” dan pada riwayat lainnya “Kedua tangan berzina dan zinanya adalah menyentuh, kedua kaki berzina dan zinanya adalah berjalan, mulut berzina dan zinanya adalah mencium”. [1]

Hadis ini dimengerti keterkaitannya sebagai mendekati zina. “…Kemaluan akan membenarkan hal tersebut atau mendustakannya” berarti tindakan nyata berzina, dan bagian zina seperti “kedua tangan berzina…” “zina kedua mata…” adalah landasan berdefinisi tentang mendekati zina.

Mendekati zina dapat dipahami berupa kontak fisik secara langsung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Sungguh, ditikamnya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dan besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya”[2]

Dan adapula yang bukan berupa kontak fisik secara langsung, misalnya pada mata yang termasuk mendekati zina diperjelas dengan dua hadis lain,
“Tundukkanlah pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”[3]
“Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Karena pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.”[4]

Selain itu, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan dalam bukunya tentang mendekati zina dengan lisan, bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab “mulut dan kemaluan”. [5]

Menebar kasih sayang di hari valentine
Telah dimengerti bahwa hubungan dengan yang bukan mahram baik kontak fisik langsung maupun tidak langsung dapat termasuk pada mendekati zina, lalu bagaimana dengan kegiatan mendekati zina yang dilakukan terang-terangan pada hari yang khusus? Sebuah hari di mana orang-orang merayakan sebuah produk kebudayaan dengan berduaan, berbagi hadiah kepada lawan jenis yang dicintainya dengan ucapan-ucapan romantis yang menunjukkan ketulusan dalam syahwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya), kecuali orang yang terang-terangan (melakukan kemaksiatan).” [6]

Diringkas dari perkataan Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman asy-Syibli rahimahullah,
“Ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu mempunyai penyebab-penyebab. Penyebab yang paling besar ialah larut dalam urusan keduniaan, tidak acuh dengan urusan akhirat dan berani melakukan kemaksiatan kepada Allah. Bisa saja seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan tertentu, atau sudah terbiasa tidak acuh dan berani melakukan maksiat, sehingga akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut. Akibatnya, teguran tidak akan lagi berguna, nasihat tidak akan lagi bermanfaat. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari tempat yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun panggilan itu diulang dan diulang lagi.”[7]

Dan Allah lebih mengetahui yang sebenarnya.

Wahyu Adji Nur Ridho
Kepala Departemen Kastrad FSI FEB UI 2017

——-
1-HR Muslim dalam shahihnya No. 4802
2-HR Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 16880, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5045
3-HR Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir 8/314 dihasankan oleh al-Albani dalam ash-shahihah no. 1470
4-HR Tirmidzi No. 2777, hasan gharib.
5-HR Ahmad, 2/291, 392, 442, dishahihkan al-Albani dalam silsilah al-hadits ash-shahihah No. 977
6-HR Bukhari No. 6069 dalam Fathul Bari
7-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam terjemahan Wa Laa Taqrabu az-Zina (Jangan Dekati Zina) hal. 67-68

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *