Utang Luar Negeri Menurut Pandangan Islam

Utang Luar Negeri Menurut Pandangan Islam

Ditulis oleh Yuda Andika Darmawan

Persoalan utang-piutang memang lazim terjadi, baik secara individu, perusahaan, maupun pemerintah. Dalam konteks utang pemerintah, banyak negara di dunia menerapkan utang luar negeri dalam jumlah besar, untuk menutupi budget deficit atau untuk membiayai pengeluaran pemerintah lainnya. Budget Deficit, sendiri diartikan sebagai motif untuk menstimulus perekonomian. Ketika konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga menurun, sedangkan nilai produksi yang dilakukan perusahaan juga menurun, pemerintah perlu menggenjot perekonomian dengan meningkatkan pengeluarannya supaya perekonomian tetap tumbuh. Alhasil, deficit tersebut harus ditutupi dengan hutang.

Jika menilik sejarah perekonomian islam, sangat minim bersentuhan dengan utang dan defisit anggaran. Pada masa Rasullullah hal itu hanya terjadi sekali, yakni saat pembebasan Mekah (Fathu al-Makkah). Mengingat ketika itu Mekah mengalami pergantian kekuasaan dan sistem ekonomi secara radikal. Tetapi defisit kas negara segera dilunasi pada periode perang Hunain. Kemudian perekonomian saat itu pulih kembali. Perekonomian Islam yang sehat ini diteruskan pada masa Khulafurasyidin, ketika itu kondisi ekonomi selalu seimbang atau surplus. Karena prinsip yang dipegang kala itu adalah prinsip kesederhanaan dan kemampuan, dan juga bertumpu pada instrument zakat, yang menggiring kepada minimnya utang luar negeri.

Abdurahman Al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam (2001) menyatakan utang luar negeri ibarat instrumen penjajahan, karena salah satu aspek buruk dari membengkaknya utang luar negeri adalah hilangnya cita-cita kemandirian sebuah bangsa. Hal ini disebabkan oleh syarat dan kondisi yang tetapkan oleh negara pemberi utang. Negara tersebut bisa mendikte perekonomian suatu negara sesuai yang ia kehendaki. Contohnya saja ketika Indonesia mengalami krisis di tahun 1998, IMF yang sejatinya adalah “rekan” Amerika memberi hutang untuk pemulihan ekonomi. Memang benar perekonomian kala itu bisa dipulihkan, akan tetapi ada harga yang harus dibayar mahal oleh Indonesia. Demi meningkatkan ekspor, banyak lahan pertanian dan juga hutan dialihfungsikan menjadi perkebunan yang nantinya akan diekspor. Hal ini tentunya merusak lingkungan yang dirasakan akibatnya oleh masyarakat luas. Petani juga akan semakin termarjinalkan karena lahan pertaniannya telah menjadi korban dari “pembebasan lahan” dari industri. Hal ini disebut oleh Noam Chomsky sebagai “penduniaketigaan” suatu negara.

Perihal utang negara yang melibatkan pihak asing sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hal itu bisa dilihat dari beberapa aspek. Pertama, utang yang didsarkan pada riba. Bunga utang jelas dilarang oleh Islam, apapun bentuknya.

يَا أيَُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتقَُّوا اللَََّّ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِِّبَا إِنْ كُنْتمُْ مُؤْمِنِينَ ) ٢٧٨ (فَإنِْ لَمْ تفَْعَلُوا فَأذَْنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللََِّّ وَرَسُولِهِ

وَإِنْ تبُْتمُْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أمَْوَالِكُمْ لا تظَْلِمُونَ وَلا تظُْلَمُونَ ) ٢٧٩

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Q.S. Al-Baqarah: 278-279)

Kedua, merendahkan martabat suatu bangsa. Padahal Islam sangat menjunjung tinggi intregitas suatu bangsa. Selain itu nilai manfaat yang diterima oleh negara belum tentu berbanding dengan beban yang ia tanggung. Di sisi lain, bantuan luar negeri telah membuat negara-negara kafir mendominasi, mengeksploitasi, dan menguasai kaum muslimin dalam jeratan utangnya. Kaum muslimin tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Dengan demikian, islam tidak menganjurkan adanya utang luar negeri, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat genting yang mengancam kesejahteraan rakyat banyak.

Utang luar negeri telah banyak diterapkan di berbagai negara untuk stimulus perekonomian dan menutupi budget deficit yang memang sengaja diterapkan. Sebagai agama yang kaffah, tentunya hal ini tak luput dari kacamata islam. Menurut pandangan islam, utang luar negeri ini mencederai kedaulatan negara. Sudah banyak kasus di dunia dimana negara peminjam didikte perekonomiannya oleh negara yang memberi pinjaman. Selain itu, bunga pinjaman tak pernah lepas dari utang luar negeri. Bunga pinjaman tentunya dilarang oleh islam. Dan terbukti, utang luar negeri jika diterapkan telah menyebabkan kekacauan ekonomi dunia, seperti kasus di Uni Eropa. Sudah sepatutnya kita kembali kepada prinsip-prinsip syariah, untuk menjaga kestabilan perekonomian dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *