Untukmu sang Pencari Kebenaran

Untukmu sang Pencari Kebenaran

Untukmu sang Pencari Kebenaran

Oleh : Jabbar Hidayatullah (jabbar22hidayatullah@gmail.com)
Staff Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis

Saat ini kita diberi kebebasan dalam berbicara sebagai bagian dari hak asasi manusia dan kemerdekaan berpendapat. Maka, fenomena merebaknya berbagai pendapat baik secara lisan maupun tulisan di berbagai media massa menjadi hal yang tidak aneh. Satu wujud nyata atas kemerdekaan berpendapat dan berekspresi saat ini adalah munculnya berbagai pendapat dalam menafsirkan agama Islam –Al Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam-. Merebaknya berbagai penafsiran tersebut diikuti dengan perkembangan berbagai aliran-aliran dalam tubuh umat Islam yang setiap aliran tersebut mendeklarasikan kebenaran dan kesesuaian mereka dengan kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Berbagai aliran telah menyebar luas di masyarakat. Ahmadiyah, Syi’ah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), Jaringan Islam Liberal (JIL), serta berbagai aliran-aliran lain masuk ke setiap lapisan masyarakat diikuti dengan doktrin-doktrin kelompok berselimut ajaran agama. Pada posisi ini, penulis tidak ingin memojokkan atau memberi label salah dan benar kepada setiap kelompok. Penulis hanya ingin menjawab pertanyaan “Bagaimana menemukan kebenaran di antara kelompok-kelompok Islam yang ada?”

 

Hakikat Kebenaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata kebenaran merupakan kata benda yang berasal dari kata benar yang berarti keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Islam mengartikan kebenaran dengan pengertian yang berbeda namun tidak bertentangan dengan pengertian yang diberikan oleh KBBI. Pengertian tentang kebenaran tersebut termaktub dalam Al Quran

“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) termasuk orang yang ragu”[1]

Ayat tersebut berkaitan dengan kisah Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Al Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa apa yang Allah kisahkan tentang Nabi ‘Isa adalah suatu kebenaran yang nyata[2]. Pada ayat lain Allah mengatakan

“Kebenaran itu dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali kamu (Muhammad termasuk orang-orang yang ragu.”[3]
Al Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini menyatakan sesungguhnya kebenaran yang hakiki berasal dari Allah.[4]

Meyakini bahwa Allah adalah sumber kebenaran membawa konsekuensi bagi seseorang untuk meyakini apa yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai kebenaran. Hal ini disebabkan, segala sesuatu yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada hakikatnya bersumber dari Allah Subhana wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

”… Dan (juga) karena Allah telah menurunkan Kitab (Al Quran) dan Hikmah (Sunnah) kepadamu,…”[5]

Pada ayat lain Allah berfirman,

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (Al Quran) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”[6]

Bahkan, Allah Subhana wa Ta’ala mengancam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan ancaman yang keras jika beliau berdusta dalam wahyu yang Allah turunkan kepadanya, sebagaimana terdapat dalam Al Quran,

“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian, Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya).”[7]

Al Hafizh Ibnu Katsir menerangkan tentang surah Al Haqqah ayat 44-47 bahwa Allah menjelaskan tentang murninya Al Quran dari penambahan dan pengurangan oleh tangan-tangan manusia dan jin serta kemuskilan adanya pertentangan antara Al Quran dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Jika terdapat pertentangan pada keduanya maka telah terjadi kedustaan atas nama Allah ‘Azza wa Jalla karena tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya disebabkan keduanya bersumber dari Allah Ta’ala seperti disebutkan pada ayat yang telah lalu.[8]

Jika telah dipahami bahwa kebenaran yang hakiki ada pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya –selain itu adalah salah- maka seseorang telah mengenggam dua pedoman yang tidak akan menyesatkan, dia telah berjalan diatas jalan yang malamnya terang seperti siang,[9] telah mulai menapaki jalan yang lurus dan menyelisihi jalan-jalan seruan syaithan di kanan dan kirinya yang menyimpang.[10]

 

Terpecahnya Umat

Dari Abu ‘Amir al Hauzaniy ‘Abdillah bin Luhay, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, bahwa dia (Mu’awiyah) pernah berdiri di hadapan kami maka dia berkata: “Ketahuilah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah berdiri di hadapan kami kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 golongan dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Adapun 72 masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga, yaitu Al Jama’ah”.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah No. 4597 dan perawi lainnya).

Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sungguh akan terjadi pada umatku, apa yang terjadi pada umat Bani Israil sedikit demi sedikit sehingga jika ada diantara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, niscaya aka nada pada umatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya Bani Israil berpecah belah menjadi 72 jalan dan umatku akan berpecah menjadi 73 jalan, setiap dari mereka di neraka kecuali satu”. Para shahabat bertanya: “Dan siapakah dia wahai Rasulullah?” Dia menjawab: “Apa yang aku dan para shahabatku berada diatasnya”.” (Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dengan derajat hasan karena banyaknya penguat. Shahih Sunan At Tirmidzi no. 2129).[11]
Dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata orang yang hidup sepeninggal beliau akan banyak melihat perpecahan di kalangan umat Islam. Maka wajib bagi orang tersebut untuk berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa ar Rasyidin yang telah mendapat petunjuk, menggigitnya dengan gigi geraham serta menjaga diri dari setiap praktek ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi karena praktek ibadah yang tidak diajarkan oleh Nabi tersebut adalah kesesatan.[12]
Tiga buah hadits diatas merupakan sebuah kabar dari Rasulullah bahwa setelah beliau meninggal, umat Islam akan menemui banyak perselisihan dan terpecah belah hingga 73 golongan. Perselisihan dan perpecahan yang diberitakan Rasulullah merupakan mukjizat tersendiri bagi beliau karena keadaan umat Islam saat ini persis sama dengan apa yang beliau kabarkan. Seperti telah dikemukakan diawal, umat Islam, khususnya Indonesia, telah terpecah menjadi banyak kelompok yang mengusung paradigm-paradigma kelompoknya masing-masing.
Sekalipun perpecahan yang dikabarkan dalam berbagai hadits telah terjadi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan jalan keluar untuk bisa menemukan kebenaran dari kekeruhan perselisihan yang terjadi. Bersamaan dengan pemberitahuan tentang perpecahan yang terjadi di tengah umat, Rasulullah juga menyebutkan jalan kebenaran yang hakiki sesuai dengan petunjuk ilahiyyah. Jalan keluar yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah tetap berjalan diatas ajaran yang telah digariskan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Maka tidaklah Islam menghalau seseorang dari sesuatu kecuali diberikan jalan keluarnya.

 

Mengapa Memilih Jalan Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum?

Sesungguhnya telah banyak ayat dan hadits yang menerangkan tentang keutamaan para shahabat Nabi diatas seluruh manusia. Keutamaan terbesar yang dimiliki oleh para shahabat adalah keberadaan mereka disisi Nabi ketika memulai dakwah dimasa-masa sulit dan penuh penolakan. Hal tersebut menyebabkan sedikitnya infaq dan sedekah mereka dizaman itu lebih bernilai harganya dibanding banyaknya sedekah seorang muslim dizaman sekarang. Jika di zaman itu para shahabat tidak menginfakkan harta mereka maka tidak ada orang lain lagi yang akan menginfakkan harta mereka demi dakwah Islam. Hal ini berimplikasi pada kurangnya sumber daya yang dimiliki oleh kaum muslimin dizaman Nabi untuk bisa melakukan ekspansi dakwah. Sedangkan pada zaman ini, ketiadaan infaq dari seorang muslim maka infaq tersebut akan tergantikan oleh infaq dari muslim yang lain dengan segera. Ditambah lagi kondisi aman sejahtera yang dihadapi membuat dakwah Islam bisa dilakukan dengan lebih nyaman.
Hal lain yang mengharuskan seorang muslim mengikuti para shahabat dalam beragama adalah jaminan ridha dan surga yang Allah janjikan kepada para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka seperti firman Allah,

“Dan orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang agung.”[13]

Di ayat lain Allah juga berfirman,

“Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka…”[14]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan tentang kemuliaan para shahabat beliau seperti diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan kalian mencaci shahabatku. Andaikan kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai infak satu mud15 atau setengahnya dari mereka”.[16]
Pada hadits yang lain, Rasulullah memuji para shahabatnya dengan mengatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi yang pernah ada. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para shahabat), kemudian masa setelahnya, kemudian masa setelahnya,…”.[17]
Merujuk kepada para shahabat dalam pemahaman beragama adalah suatu kewajiban yang tidak boleh ditolak dan dibantah. Ketika mereka bersepakat atas suatu keputusan maka wajib bagi kaum muslimin untuk mengikuti kesepakatan mereka. Hal ini dikarenakan mereka adalah orang-orang yang paling paham Al Quran dan Sunnah Rasul, paling sungguh-sungguh dalam mengamalkan keduanya, dan orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk mendampingi Rasul-Nya.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tiada satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali aku mengetahui dimana atau berkenaan dengan siapa ayat itu turun. Maka, sekiranya ada orang yang lebih mengetahui Kitab Allah daripada aku dan aku bisa mencapai orang itu dengan kendaraan, aku pasti akan datang untuk belajar kepadanya.”[18] Beliau juga berkata: “Jika seseorang diantara kami (para shahabat) mempelajari (menghafal) sepuluh ayat Al Quran maka dia tidak berani menambahnya sebelum benar-benar mengerti dan mengamalkannya.”[19]

Berdasarkan pembahasan-pembahasan tersebut, hal yang harus kita lakukan adalah menuntut ilmu agama untuk mengetahui kelompok mana yang berjalan diatas jalan Rasulullah dan para shahabatnya. Pada saat kita mengetahui menyimpangnya suatu kelompok dari jalan para shahabat, wajib bagi kita meninggalkannya. Sebaliknya, disaat kita mengetahui kelompok yang beragama sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah dan dipahami serta dipraktekkan oleh para shahabat, wajib bagi kita berjalan dan mengikuti pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.
Terakhir, terdapat dua perkataan dari dua imam besar kaum Muslimin. Perkataan pertama adalah milik Imam Malik bin Anas rahimahullah yang mengatakan, “Tidak akan baik urusan akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.”[20] Kalimat ini menunjukkan bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk mengikuti cara-cara beragama para shahabat Nabi demi terwujudnya kebaikan dalam setiap urusan mereka. Kalimat kedua adalah nasihat yang mendalam dari Imam al Auza’I agar terus berdiri diatas jalan para shahabat. Beliau berkata, “Sabarkanlah dirimu diatas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para shahabat tegak diatasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apapun yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan orang-orang terdahulu yang shalih karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.”[21]
Semoga tulisan ini bisa menjadi awal bagi kita untuk bisa menetap diatas kebenaran yang sesuai dengan kebenaran yang bersumber dari Allah dan diamalkan oleh para shahabat. Wallahul Musta’an.

Faqir ilallah.

 

[1] QS. Ali ‘Imran:60
[2] Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, 2/85, (Ed. Terj)
[3] QS. Al Baqarah:147
[4] Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, 1/289, (Ed. Terj)
[5] QS. An Nisa:113
[6] QS. An Najm:2-4
[7] QS. Al Haqqah:44-47
[8] Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, 8/223, (Ed. Terj)
[9] Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/6, (dalam Untukmu yang Berjiwa Hanif)
[10] Diriwiyatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ahmad, An Nasa`i, Ad Darimi dari Shahabat Ibnu Mas’ud (dalah Fathul Majid ‘ala Syarh Kitab at Tauhid, hal.48-49)
[11] Derajat Hadits Perpecahan Umat (http://almanhaj.or.id/content/453/slash/0/kedudukan-hadits-tujuh-puluh-tiga-golongan-umat-islam/)
[12] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan shahih (dalam Arba’in Nawawiyyah, hadits 28)
[13] QS. At Taubah:100
[14] QS. Al Fath:18
[15].1 Mud sama dengan dua telapak tangan orang dewasa
[16] Diriwayatkan Bukhari (3362) dan Muslim (2541) (dalam Mulia dengan Manhaj Salaf)
[17] Diriwayatkan oleh Bukhari (2652) dan Muslim (2533) (dalam Mulia dengan Manhaj Salaf)
[18] Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, 1/xviii
[19] Ibid.
[20]http://muslim.or.id/4328-lebih-penting-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid.html
[21] Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/174 no. 315) (dalam Prinsip Dasar Islam menurut Al Quran dan as Sunnah yang Shahih)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *