“Ukhti, Jangan Baper”

“Ukhti, Jangan Baper”

Oleh: Nunik Sugiani

Staff Departemen Muslimah Learning Centre FSI FEB UI 2016

 

Fulan bin Fulan membagikan status Tere Liye

 

MLC

“Haaaa…. so sweet bangeeett… Jangan-jangan ini buat gue lagi. Kan terakhir dia cuma ketemu gue tadi waktu rapat. Senangnyaaa,”ucap gadis berkerudung merah jambu itu diatas bed-nya, sambil meloncat-loncat kegirangan.

“Hello, ada gue juga tadi. Ada si fulanah, fulanah, dan fulanah yang lain. Jangan Baper deh,”timpal teman sekamarnya.

“Ihh.. apa salahnya sih khusnudzon. Jadi bingung niih. Kasih like atau komentar nggak ya? Takutnya ntar gue dikira terlalu peka lagi.” ucapnya kesal namun tetap cengar-cengir memandangi layar handphonenya.

Hhhh… Akhawat fillah sering begitu tidak? Sering menyambung-nyambungkan hal yang sebenarnya tidak nyambung jika ada kaitannya sama ikhwan yang itu tuuh.  Sering merasa GR kalau si ikhwan yang itu membagikan status-status  seperti diatas, padahal belum tentu yang dibagikan adalah yang dia rasakan.

Tahukah? Kalau benar seperti itu, berhati-hatilah, sepertinya virus baper mulai merajai diri kamu. Tapi, selain baper bentuk diatas, baper atau biasa disebut  bawa perasaan ini juga bisa terjadi karena hati yang sensitiv. Dikit-dikit orang ngomong apa, tersinggung, sedih, nangis, sakit hati, besok-besoknya jadi nggak mau ngobrol. Hhh wanita banget deh yaa… Tapi yang akan kita bahas disini adalah baper yang seperti diceritakan pada ilustrasi tadi.

Akhawat fillah, Islam adalah agama kasih sayang.  Kalau masih ragu, buka lagi Al-qur’annya. Jelas tertulis “Arrahmaanirrahim” pada ayat kedua surat Al-fatihah, yang artinya “Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”. Sebagai mahluk, tentulah kalau ada kasih dan sayang di dalam diri, itu sudah merupakan suatu ketetapan Allah. Kasih sayang itu terwujud di dalam perasaan.

Nah, terus gimana kalau dikit-dikit baper, dikit-dikit baper? (Baper kok dikit-dikit.. wgwg)

Ketika kita sudah dijangkit oleh virus bernama baper, sudah bisa dipastikan hati kita menjadi tidak tenang. Semua yang seharusnya biasa saja, menjadi canggung ketika dilakukan bersamaan dengan si ikhwan yang dibaper-in. Dan yang sudah pasti terjadi, adalah hati yang sudah terbagi fokus, antara fokus pada-Nya atau padanya yang bikin baper. Hhh

Cara-cara ini barangkali akan mampu mengurangi sedikit banyak tingkat kebaperan kalian terhadap lawan jenis. Lakukan dengan niat yang bersih, hati yang tulus, dan kemauan yang kuat, in sha Allah hasilnya Allah yang urus.

Yang pertama adalah, hindari interaksi yang berlebihan dengan lawan jenis. Biasanya baper muncul karena terlalu seringnya intensitas kongkow-kongkow tidak jelas dengan lawan jenis. Interaksi ini tidak hanya secara langsung saja ya Ukh, lewat dunia maya pun tergolong interaksi, mulai dari whatsapp, BBM, facebook, Line IG dan segala macam socmed lainnya. Berinteraksi lah seperlunya, jangan overdosis :v

Yang kedua, jangan pernah bercanda soal hati kepada lawan jenis, terlebih lagi tentang pernikahan hhhh. Ini rentan sekali menjadi muasal kebaperan itu. Barangkali, yang kedua ini juga boleh diperuntukkan kepada ikhwan. Ikhwan yang baik tidak akan mengatakan hal tersebut di waktu yang prematur, dan orang yang belum pasti benar akan menjadi pendampingnya. Baik ikhwan maupun akhwat seharusnya bisa saling menjaga apa-apa yang mereka nyatakan, agar tidak terjadi kebaperan yang tidak diinginkan.

Yang ketiga, berbaik sangkalah. Jika dalam suatu kondisi, seorang ikhwan menawarkan atau bahkan memberikan bantuan kepadamu, berkhusnudzon lah. Khusnudzon bagaimana? “Waah,, jangan-jangan ikhwan ini suka sama gue”.No. bukan khusnudzon seperti itu yang dimaksud. Itu namanya suudzon. Orang ikhwan niatnya baik, malah dikira suka. Hhhh sa ae Ukh. Khusnudzon lah, bahwa setiap laki-laki memang memiliki naluri melindungi, maka sudah hal yang biasa jika mereka bersikap baik. Dan lagi, mereka bersikap baik bukan hanya kepadamu ukhti yang cantik, tapi juga kepada semua orang. J

Yang keempat, sibukkanlah diri dengan kebaikan-kebaikan. Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan, maka pastilah kita disibukkan dengan keburukan. “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,”(As-Syams:8). Pada dasarnya manusia seperti sekeping koin yang mempunyai dua sisi, kebaikan dan keburukan. Jika kebaikan yang dipilih, maka pastilah keburukan tertutup. Jika ketakwaan dipilih, maka pastilah kebaperan akan terhindarkan. Menyibukkan diri disini, tidak hanya berfokus pada kebaikan untuk kehidupan dunia, namun juga kebaikan untuk akhirat. Setiap muslim jika seluruh waktunya dioptimalkan, tidak akan ada kata menganggur didalamnya. Karena, bahkan dalam keadaan berbaring saja kita bisa melakukan kebaikan dengan dzikrullah, mengingat Allah. Sungguh beruntug menjadi bagian dari agama ini.

Yang kelima, mintalah kepada yang Maha mengabulkan semua permohonan. Tidak ada salahnya jika memang harus meminta agar kita tidak menjadi muslimah yang baper-an. Meminta agar hanya Dia yang memenuhi seluruh hatimu, bukan dia yang membuatmu baper. Meminta didekatkan kepada-Nya, bukan kepadanya yang membuatmu baper. “Yaa Muqollibal quluub, Tsabbit qolbi ala diinik wa ‘alaa tho’atik”. Karena hati sesuatu yang gampang terbolak-balik, maka meminta ketegaran hati untuk terus berada dalam jalan agama-Nya.

Yang keenam, bersabarlah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar. Jika pun haus baper dengan lawan jenis, baperlah pada tempat, orang dan waktu yang tepat. Jangan teburu-buru, karena semua yang terburu-buru sesungguhnya datang dari setan.

Tulisan ini barangkali akan tetap abadi di halaman web ini, namun apalah arti abadi jika hanya dalam bentuk tulisan, bukan kebermanfaatan karena pengamalannya. Selamat mengamalkan Sholihah.

               

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *