Udah Bayar Utang Belum?

Udah Bayar Utang Belum?

 

[Ladies Udah Bayar Hutang Belum?]

 

Di antara kita, pasti ada kan yang belum bayar hutang puasa di tahun-tahun sebelumnya? Hayoo ngaku!

Nah, apa sih hukum membayar hutang puasa? Terutama bagi wanita, pasti kalian harus mengorbankan beberapa hari puasa wajib kalian di bulan Ramadhan setidaknya satu minggu.

Ada beberapa orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa namun diperhitungkan sebagai hutang dan wajib dibayarkan ketika Ramadhan berakhir, yaitu:

Orang sakit, musafir, wanita hamil, melahirkan, dan menyusui, serta wanita haid atau nifas.

Aisyah radhiyallahu’anhu berkata:

 “Dahulu aku memiliki tanggungan/hutang puasa Ramadhan, dan tidaklah aku bisa mengqadha’nya (karena ada halangan sehingga tertunda) kecuali setelah sampai bulan Sya’ban.” (H.R. Al-Bukhari)

Hadist di atas menunjukkan bahwa membayar hutang puasa dapat dilakukan mulai dari syawal hingga sya’ban yang berarti 11 bulan selain Ramadhan. Akan tetapi, ada hari-hari tertentu yang diharamkan seseorang untuk berpuasa, yakni hari Jumat (kecuali puasa daud), hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah), hari raya idul adha, dan hari raya idul fitri.

Nah, berikut merupakan penjelasan lengkap mengenai hukum belum membayar puasa

  1. Mengqadha setelah Ramadhan berikutnya

Ada beberapa orang yang tidak sempat membayar hutang puasanya karena udzur tertentu, misalnya sakit parah selama setahun, hamil 9 bulan, menyusui, atau hal lain diluar kemampuan, maka ia berkewajiban mengqadha (membayar hutang puasa) setelah Ramadhan berikutnya.

  1. Mengqadha tanpa membayar fidyah

Melakukan perbuatan menunda-nuda dan menyepelekan membayar hutang puasa sangat tidak diperbolehkan. Namun, apabila hal ini sudah terlanjur dilakukan, ada beberapa hal yang harus diperbuat, yaitu bertaubat kepada Allah SWT dan berusaha tidak mengulangi perbuatan tersebut. menqadha atau membayar hutang puasa setelah ramadhan berakhir, membayar fidyah atau tidak (bergantung pada kepercayaan yang dianut).

Ada perbedaan pendapat dari para ulama mengenai membayar fidyah untuk hutang puasa. Para ulama hanafiyah berpendapat bahwa mereka tidak wajib bayar fidyah. Mereka cukup mengqadha puasa. Imam al-Albani pun juga beranggapan sama. Menurut beliau tidak ada sabda Rasulullah Saw yang menjelaskan tentang kewajiban membayar fidyah. Pendapat ini didasari oleh surat Al-Baqarah ayat 184:

“Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-aqarah: 184)

  1. Mengqadha dan membayar fidyah

Ulama dari golongan hababilah, syafi’iyah dan malikiyah berpendapat bahwa seseorang yang belum membayar hutang puasa hingga tiba Ramadhan wajib baginya untuk membayar denda (kaffarah) berupa fidyah atau makanan pokok kepada kaum fakir miskin. Besar fidyah yang dibayarkan harus disesuaikan dengan jumlah hari ia tidak berpuasa. Di mana sehari besarnya setara 1 mud atau 6 ons.

  1. Cukup membayar fidyah

Bagi orang-orang yang hutang puasanya terlampau banyak karena ia udzur, misalnya hamil atau menyusui selama bulan puasa atau orang berusia lanjut yang lemah, maka menurut ulama mereka diperbolehkan membayar fidyah saja. Tidak perlu mengqadha. Pendapat ini mengacu pada hadist yang berbunyi:

Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.(HR. Abu Dawud)

 

Setelah membaca paparan di atas, sudahkah kalian mengetahui kewajiban mana yang harus kalian lakukan untuk melunasi hutang puasa? Ngomong-ngomong, Ramadhan sebentar lagi tiba, nih. Yuk, bayar hutang puasanya!

 

Hukum Belum Membayar Hutang Puasa Ramadhan dan Dalilnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *