Titip Absen, Apa salahnya ?

Titip Absen, Apa salahnya ?

“Bro, TA-in gue ya.”

“Coy, gue nitip absen dulu ya hari ini. Bangun kesiangan nih gue.”

“Gan, minta tolong TA ya. Gue lagi ada rapat Kepanitiaan.”

“Tong, gue TA dong. Males gue ama dosennya. Bikin ngantuk.”

Mungkin sebagian dari kita pernah mendengar atau pernah melakukan hal yang satu ini. Titip presensi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan titip absen, merupakan salah satu dari berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan kampus. Tipsen terjadi ketika seorang atau beberapa mahasiswa yang tidak hadir dalam kelas di suatu mata kuliah meminta bantuan teman sekelasnya yang  hadir dalam mata kuliah tersebut untuk menandatangani daftar hadir atas nama dirinya. Entah sejak kapan fenomena ini terjadi, tipsen seolah-olah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan dengan dalih ‘membantu teman’ bagi sebagian mahasiswa. namun fenomena titip absen ini menjadi pro dan kontra di lingkungan akademisi kampus.

Alasan dari pelaku yang sengaja melakukan titip absen ini pun beragam, dari alasan klasik seperti bangun kesiangan, ada urusan organisasi atau kepanitiaan hingga ingin mengerjakan tugas pada mata kuliah lain.

Namun, sang pelaku titip absen tidak bisa melakukannya seorang diri. Sang pelaku membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk memegang ‘amanah’ absen dirinya. Ada orang yang dengan senang hati menerima ‘amanah’ absen tersebut dan ada juga yang tidak.

Bila orang tersebut menerima titipan presensi ditanya alasannya melakukan hal tersebut, biasanya akan menjawab,

“Kasihan dia, soalnya kalau absennya dia kosong lagi, gak bisa ikut ujian.”

Atau

“Kasihan dia, soalnya dia udah baik banget sama gue.”

… dan hal-hal pembenaran sejenis yang menjadikan sang pemegang ‘amanah’ seakan-akan melakukan kebajikan atas kegiatan ‘terpuji’ miliknya itu.

Tetapi hal yang harus dipertanyakan adalah,  apakah hal ini termasuk bantuan yang bersifat kemanusiaan, atau termasuk kecurangan bahkan penipuan ?

Sejatinya, dalam hal ini ada empat hal yang perlu diwaspadai :

Pertama,titip absen termasuk dalam perbuatan bohong atau dusta. Rasulullah bersabda;

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan ke dalam surga. Tidaklah seseorang berbuat jujur hingga Allah mencatatnya sebagai orang yang selalu jujur. Dan berbohong itu membawa kepada kejelekan, dan kejelekan itu menghantarkan ke dalam neraka. Sungguh seseorang terbiasa bohong hingga Allah mencatatnya sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari no. 6094, Muslim no. 2607)

Kedua, khianat terhadap penanggung jawab perkuliahan. Rasulullah bersabda;

Dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Maukah kamu aku beritahukan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?” – diulangi hingga tiga kali – Kami menjawab, ”Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, ”Menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua.” Sedangkan beliau (pada waktu itu) dalam keadaan bersandar, lalu beliau duduk kemudian meneruskan sabdanya, “Ketahuilah! Dan perkataan palsu dan kesaksian palsu.” Beliau terus-menerus mengulanginya sampai-sampai kami berkata, ”Andai saja beliau diam”. (Muttafaqun ‘alaih)

Keadaan Rasulallah yang mengubah posisinya dari bersandar kepada duduk tegak mengisyaratkan pentingnya hal yang akan dibicarakan, penekanan akan keharamannya dan juga besarnya keburukan perkara ini. Sebab, perkataan atau kesaksian dusta lebih mudah terjadi pada manusia dan ketidakpedulian terhadapnya banyak berlaku. Sedangkan syirik, maka hal itu jauh dari hati seorang muslim. Begitu pula durhaka, hal ini secara naluriah ditolak oleh manusia.

Rasulullah terus-menerus mengulangi perkataannya yang terakhir ini sampai-sampai para sahabat berkata, ”Andai saja beliau diam”, karena mereka tidak suka terhadap sesuatu yang menyebabkan beliau marah.

Ketiga, ia telah menjadikan orang yang tidak hadir ini mendapatkan tunjangan kehadiran yang dengan itu ia mengambil keuntungan tersebut secara bathil. Sederhananya, hal ini sama dengan membantu orang dalam keburukan. Boleh saja membantu dengan niat kebaikan, tetapi apakah bila dilakukan dengan cara yang melanggar syariat akan tetap menjadi baik? Tentu saja tidak. Allah berfirman dalam surat Al Maidah ayat 2 yang artinya;

 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Keempat pelaku TA umumnya beranggapan bahwa yang dia lakukan itu boleh, atau sekalinya dia menganggap itu sebuah dosa, itu hanya dosa yang ringan sehingga si pelaku akan meremehkan dosa yang ia lakukan. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita darinya. Beliau bersabda

“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang…” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani, dan lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 2686)

Dengan demikian jelas sudah bahwa sejatinya perbuatan menitipkan presensi (atau yang lebih akrab dengan tipsen) merupakan sebuah tindakan tidak terpuji, lagi melanggar syariat, sekalipun dengan niat ingin membantu orang lain.

Lalu, solusinya bagaimana?

Terdapat empat  solusi yang dapat dilakukan

  1. Meminta izin secara resmi

Jika terjadi hal mendesak yang mengharuskan kita untuk tidak hadir dalam kelas, cobalah terlebih dahulu meminta izin kepada dosen yang terkait. Atau apabila kita sakit, berikan surat keterangan dokter pada  saat kita sudah sembuh.

  1. Gunakan ‘Jatah Bolos’

Terdapat aturan yang melegalkan kita untuk tidak hadir dalam kelas di perkuliahan. Minimum absen di kelas sebesar 85% dari total perkuliahan selama satu semester. Karena itu bijaklah dalam menggunakan hak ini.

  1. Atur waktu dengan baik

Jika sedang hectic dalam suatu kepanitiaan atau organisasi sehingga mengurangi waktu tidur, maka belajarlah mengatur waktu dengan baik agar tidak bangun kesiangan.

  1. Perbaiki adab mencari ilmu, minimal ingatlah orangtua di rumah

Terkadang, ‘titip absen’ dilakukan bukan karena terlambat bangun pagi, tetapi karena alasan malas. Sungguh, semangat dan bersungguh-sungguh merupakan salah satu syarat untuk dapat meraih ilmu. Apa yang akan orangtuamu katakan jika mereka mengetahui kau jauh-jauh pergi dari rumah hanya untuk malas?

Muhammad Avri Firdaus.

Staf Departemen Kajian Strategis Dakwah 2016

Forum Studi Islam FEB UI

 

referensi

http://yogananta-ramadhan-fk14.web.unair.ac.id/artikel_detail-135898-FATWA-Hukum%20%E2%80%9D%20Titip%20Absen%20%E2%80%9C.html

Balada Titip Absen (Part 2)

2 thoughts on “Titip Absen, Apa salahnya ?

  1. Ai

    Maaf mau ralat nih…
    Untuk jatah bolos di ui itu sudah berkurang. Minimal kehadiran itu menjadi 85%. Setau saya ketentuan tersebut berlaku di tahun ajaran ini, 2016-2017, alias semester ganjil ini…
    Takutnya ada yang menjadikan ini referensi dan mengambil jatah bolos 20%, eh malah enggak bisa ikut ujian…

    Terimakasih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *