#CeritaPyan : Tabligh Akbar Tokyo (Part 4)

#CeritaPyan : Tabligh Akbar Tokyo (Part 4)

Selama Ramadan, KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) mengadakain rangkaian acara untuk memeriahkan bulan yang mulia ini. Termasuk di antaranya ada Tabligh Akbar yang diselenggarakan setiap minggu, mengundang ustad dari Indonesia untuk menyuguhkan siraman rahani pada masyarakat muslim di Tokyo.

Dalam acara Tabligh Akbar tersebut pengelolaannya diserahkan kepada beberapa komunitas pelajar muslim di Tokyo. Waseda mendapat bagian minggu ketiga. Maka pada pengajian rutin Waseda, dibuatlah panitia kecil untuk mengurus acara tersebut. Cas cis cus, jadi. Risiko jadi yang paling muda di kelompok tersebut adalah harus sendiko dawuh, nurut disuruh ikut serta dalam kepanitiaan. Yasudahlah…

Awalnya saya kira cuma disuruh angkat-angkat barang dekorasi atau menyiapkan konsumsi buka puasa (siapa tau dapet jatah lebih). Ternyata saya kebagian menjadi MC acara. gubrak. Jelas in bukan tipikal kerja saya yang biasanya bermain (dalam arti yang sebenarnya) di belakang panggung. Tapi yasudahlah, setidaknya pilihan ini lebih baik dari pada disuruh qiroah yang bila saya lakukan berpotensi membuyarkan acara.

Acara dimulai selepas shalat ashar di aula Sekolah Repulik Indonesia Tokyo (SRIT). Saya membuka acara dengan menyapa semua audien, “Assalakum wr wb bapak, ibu, mas, mbak, dan adek-adek” Waktu itu saking groginya berdiri di depan ratusan orang kaki saya sampai gemetaran. “Apa kabar semuanya?” Saya coba basa-basi dan mengatur nafas agar lebih tenang.

Sebagai selingan acara beberapa video diputar. Salah satu video yang saya perhatikan cukup menarik: the purpose of life. Anak muda punya cara tersediri untuk berdakwah.

Sampai pada acara puncak, saya mempersilakan Ustad Tatan untuk memberikan tausyiah. Bapak yang berasal dari Tasik namun lancar berbahasa Jerman ini cukup tegas dalam menyampaikan nasihat, tidak banyak menggunakan istilah rumit yang berbusa busa sehingga mudah diterima.

Beliau menyampaikan tentang pentingnya konsistensi Ibadah dalam bulan Ramadan. Meskipun di bulan Ramadan kita memang dianjurkan memperbanyak ibadah, tapi bukan berarti pasca Ramadan kualitas dan kuantitas ibadah kita menurun drastis. Justru Ramadan menjadi momentum kita untuk semakin meningkatkan kapasitas diri dalam beribadah kepada-Nya.

Beliau juga menekankan tentang pentingnya ikhlas dan bersabar dalam beribadah. Akan banyak godaan yang datang selama berpuasa. “Saya salut sama pemuda muslim di sini. Di musim panas seperti ini, semakin lama siangnya, semakin pendek roknya.” Canda beliau diikuti tawa dari sebagian yang mengerti, sebagian lagi manggut manggut.

Pembacaan kesimpulan dari moderator menutup tausyiah. Saya pun mengarahkan audien untuk menata posisi persiapan ta’jil. Tak lama kemudian muadzin mengumandangkan adzan, yang berarti saya bisa bisa menyantap es teler dan gorengan khas Indonesia yang sudah tersaji. Alhamdulillah…

Setelah shalat maghrib kami semua antri menuju aula lantai dasar. Satu persatu kami mengambil makanan. Senang rasanya bisa berbuka dengan menu masakan Indonesia: Ayam kecap, telur bumbu bali, bakwan, dan sup kambing. Dan yang paling penting: gratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *