Sekelumit Tentang Rohingya

Sekelumit Tentang Rohingya

Apa yang terlintas di benak Anda semua ketika mendengar kata Rohingya? Sebuah etnis minoritas di Myanmar yang mengalami diskriminasi sedemikian hebatnya? Sebuah etnis minoritas tak bertuan yang mengalami penyiksaan dan terlunta-lunta? Jika pertanyaan tersebut terbesit di benak Anda, maka memang benar itulah adanya. Sebuah LSM kesehatan asal Perancis, Medicines san Frontiers bahkan menyebut etnis Rohingya sebagai satu dari sepuluh etnis minoritas di dunia yang berada dalam bahaya kepunahan. Pada tahun 2013 pula, Perserikatan Bangsa Bangsa menyatakan bahwa Rohingya adalah etnis yang paling teraniaya di dunia. Tentu saja kita tidak bisa mengabaikan fakta keterasingan etnis Rohingya saat ini yang harus melakukan eksodus besar-besaran dari tanah airnya di Rakhine, Myanmar akibat serangkaian tekanan, terror, pencabutan hak, hingga pembantaian yang telah terjadi selama kurun waktu 55 tahun sejak tahun 1962. Namun, tentu saja sebagian besar pembaca masih awan tentang siapa sesungguhnya etnis Rohingya itu dan mengapa Myanmar sangat memusuhi etnis Rohingya.

Dahulu, negara bagian Rakhine/Arakan di Myanmar lebih dikenal dengan nama Rohang. Sementara, penduduk yang menghuni daerah tersebut dikenal dengan sebutan Rooinga atau Rohingya. Hal ini diperkuat oleh Francis Buchanan, peneliti asal Skotlandia menyatakan dalam artikelnya “A Comparative Vocabulary of Some of the Languages Spoken in the Burma Empire” pada tahun 1799 bahwa kaum Mohammedan (pengikut Muhammad atau Muslim) telah lama menetap di Arakan dan menyebut diri mereka sebagai Rooinga yang berarti pribumi asli Arakan. Selain itu, sensus penduduk yang dilakukan oleh Inggris di Myanmar pada tahun 1826 hingga 1941 telah mengidentifikasikan etnis Rohingya sebagai Arakan Mohammedans. Sebuah penelitian dari Oxford University pada tahun 1935 – 1942 juga menyebutkan bahwa sudah ada etnis yang mendiami Arakan sejak abad ke-delapan masehi yang kebudayaannya sama tua dengan usia Monumen Batu Ananda Sandra. Dokumentasi yang dilakukan oleh SIL International, lembaga bahasa dunia yang berafiliasi dengan PBB juga menyatakan bahwa Bahasa Rohingya termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Arya dan terdaftar dalam tabel ISO 639-3 dengan kode “rhg”. Tentu saja fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa etnis Rohingya memiliki akar sejarah yang kuat sebagai etnis pribumi yang telah lama mendiami bumi Rakhine/Arakan di Myanmar.

Berangkat dari asal-usul etnis Rohingya, tentu akan timbul pertanyaan perihal alasan dibalik Myanmar sangat memusuhi etnis Rohingya. Sebagian besar pembaca pasti akan mengaitkan isu tersebut dengan isu agama yang merupakan perbedaan yang paling mencolok antara Rohingya dengan sekitarnya. Namun kenyataannya, isu politik dan ekonomi juga turut serta mendorong dan memperparah konflik yang menimpa etnis Rohingya saat ini. Rakhine/Arakan pada dasarnya telah dianugerahi oleh Allah SWT dengan kekayaan alam yang melimpah. Forbes bahkan menyatakan bahwa Rakhine memiliki kandungan minyak bumi dan gas alam lepas pantai sebanyak 11 triliun dan 23 triliun kaki kubik. Selain itu, ada banyak sekali potensi bisnis yang dapat dikembangkan di Rakhine karena didukung oleh letak geografis Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh serta wilayahnya yang subur dan terhubung langsung dengan samudera. Menurut Siegfried O Wolf, Kepala Bidang Penelitian pada South Asia Democratic Forum saat diwawancarai oleh Deutsche Welle, etnis Rohingya dianggap sebagai saingan tambahan sekaligus ancaman terhadap warga Rakhine dalam mencari pekerjaan dan berwirausaha sehingga menyulut konflik horizontal berkepanjangan. Hal ini didukung pula oleh pemberitaan Guardian yang menyatakan bahwa proyek pembangunan pipa gas “Shwe” yang mengalirkan gas ke China telah merampas ribuan hektar tanah dan menghancurkan ekosistem lingkungan penduduk Rakhine sehingga menimbulkan pengangguran yang pada akhirnya menyulut konflik persaingan antar etnis. Konflik tersebut kemudian semakin diperparah dengan pemerintah Myanmar yang tidak mengupayakan sebuah rekonsiliasi dan mendukung aksi kelompok fundamentalis. Dan oleh karena ketiga isu tersebut, kasus kekerasan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap etnis Rohingya selalu meningkat setiap tahunnya sehinggga mengharuskan mereka untuk melakukan eksodus besar-besaran ke negara-negara tetangga demi menyelamatkan diri.

Kondisi terkini etnis Rohingya juga amat memerihatinkan. Membisunya Aung San Suu Kyi selaku Counsellor Myanmar semakin memberikan ketidakjelasan terhadap nasib etnis Rohingya. Menurut International Organisation for Migration (IOM) menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 18.445 penduduk Rohingya terpaksa melarikan diri ke Bangladesh akibat pertumpahan darah yang terjadi di Myanmar. 20 orang pengungsi diantaranya yang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita bahkan dikabarkan tewas tenggelam saat berusaha melintasi perairan Bangladesh seperti yang dilansir oleh BBC pada 31 Agustus 2017. Selain itu, pengakuan salah seorang etnis Rohingya setempat bernama Abdullah kepada Reuters pada Rabu, 30 Agustus 2017 menyatakan bahwa keadaan Rakhine saat ini sangat mencekam. Rumah-rumah penduduk dibakar secara brutal sehingga mengharuskan penduduk setempat mengungsi dan menyelamatkan diri. Anak-anak dan orang tua terpisah dan beberapa diantaranya hilang atau tewas. Selain itu, Noor Begum, seorang perempuan Rohingya yang selamat di perbatasan Bangladesh mengaku kepada BBC bahwa ia tidak ingin pulang ke desanya dan lebih memilih mati di Bangladesh ketimbang harus berhadapan dengan tentara yang tentu saja akan membunuhnya juga. Tidak hanya warga setempat, keprihatinan juga dirasakan oleh beberapa wartawan Agence France-Presse (AFP) yang mengatakan bahwa terlihat banyak sekali rumah warga yang terbakar sehingga mengindikasikan kekerasan belum bisa mereda dalam kurun waktu dekat. Hal senada juga diungkapkan oleh Sanjukta Sahany, salah satu pejabat IOM di perbatasan Bangladesh yang menyebutkan bahwa kondisi pengungsi Rohingya sangat mengenaskan, sebagian besar pengungsi menderita luka serius akibat tembakan senjata api maupun luka bakar. Mereka juga mengalami kelaparan, kelelahan, dan trauma setelah berhari-hari menyelamatkan diri. Vivian Tan, juru bicara United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) bahkan memberikan keterangan secara gamblang kepada Al-Jazeera pada 3 September 2017 tentang kondisi salah seorang pengungsi wanita yang terluka dan harus kehilangan suaminya karena ditembak oleh tentara dan terpisah dengan anaknya yang berumur 18 bulan.

Tentu saja fakta-fakta diatas akan menggelitik nurani pembaca yang budiman perihal bagaimana membantu meringankan penderitaan yang tengah dirasakan oleh etnis Rohingya saat ini. Tentu saja Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an, surat Al-Maidah ayat 2 agar kita harus saling tolong menolong antar sesama umat manusia.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Oleh karena itu, atas dasar kemanusiaan dan sebagai upaya mencegah agar hal serupa tidak terjadi lagi, kita sebagai rekan-rekan sesama muslim dapat mengusahakan empat hal dibawah ini

Pertama, sebagai bagian dari masyarakat global, kita sudah barang tentu memiliki peran serta dalam mendesak lembaga-lembaga internasional agar mampu memberikan jaminan keadilan dan keamanan bagi etnis Rohingya. Meskipun ASEAN mandul dalam bersuara akibat prinsip non-intervensi antar anggotanya, tentu saja kita masih bisa mendesak lembaga internasional lain yang lebih berpengaruh seperti PBB agar dapat membantu menyelesaikan krisis Rohingya. Saat ini, seluruh lembaga internasional di dunia telah menggunakan prinsip Responsibility to Protect (R2P/RtoP) yang diadopsi oleh PBB pada tahun 2005 untuk mencegah praktik kejahatan kemanusiaan sehingga menjadi kewajiban mereka agar dapat membantu menyelesaikan krisis Rohingya. Selain itu, suara melalui berbagai NGO internasional juga sangat berpengaruh dalam mendesak PBB untuk merealisasikan resolusi No. 70/233 tentang krisis kemanusiaan di Myanmar. Oleh karena itu, peran serta komunitas internasional memang sangat diperlukan dalam menekan pemerintah Myanmar.

Kedua, kita tentu saja dapat mendesak pemerintahan Aung San Suu Kyi untuk mengambil tindakan nyata dalam rangka menyelesaikan krisis Rohingya atas nama demokrasi dan kemanusiaan. Meskipun kemenangan partainya sempat membawa angin segar terhadap perdamaian etnis Rohingya. Namun, selama lebih dari satu tahun berkuasa, Aung San Suu Kyi belum mampu meredam konflik kemanusiaan di Myanmar.

Ketiga, kita sudah pasti dapat bergerak langsung membantu etnis Rohingya melalui berbagai NGO lokal di Indonesia yang rutin menyalurkan bantuan kepada mereka. Meskipun bantuan yang mengalir bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan, tentu saja sedikit banyaknya bantuan tersebut dapat meringankan penderitaan dan kesulitan yang tengah dialami oleh etnis Rohingnya.

Keempat, kita dapat melakukan kampanye yang dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus, baik melalui media sosial maupun platform lainnya sehingga krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar dapat menjadi perhatian di dunia internasional. Tentu saja dalam berkampanye, kita juga harus mematuhi kode etik dan tidak menyebarkan berita hoax yang dapat memperuncing masalah.

Demikianlah hal-hal yang dapat disampaikan kepada pembaca mengenai keadaan etnis Rohingya saat ini. Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan kepada kita maupun saudara-saudari kita yang tengah diberikan cobaan di Myanmar.

 

Referensi

Buchanan-Hamilton, Francis (1799). “A Comparative Vocabulary of Some of the Languages Spoken in the Burma Empire” (PDF). Asiatic Researches. The Asiatic Society. 5: 219–240.

Canal, Gabriela. “Rohingya Muslims Are the Most Persecuted Minority in the World: Who Are They?. 10 Februari 2017. https://www.globalcitizen.org/en/content/recognizing-the-rohingya-and-their-horrifying-pers/. (diakses pada 07 September 2017)

The Guardian. “The dirty fossil fuel secret behind Burma’s democratic fairytale”. 26 April 2013. https://www.theguardian.com/environment/earth-insight/2013/apr/26/fossil-fuel-secret-burma-democratic-fairytale. (diakses pada 07 September 2017)

The Guardian. “Is Rohingya persecution caused by business interests rather than religion?”. 4 Januari 2017. https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2017/jan/04/is-rohingya-persecution-caused-by-business-interests-rather-than-religion. (diakses pada 07 September 2017)

BBC. “Warga Rohingya: Menakutkan, desa dibakar, banyak anak dan orang tua terpisah”. 30 Agustus 2017. http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41096793. (diakses pada 07 September 2017)

Deutsche Welle. “Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui” . 04 September 2017. http://www.dw.com/id/rohingya-di-myanmar-apa-yang-perlu-diketahui/g-40343623. (diakses pada 07 September 2017)

Maulana, Viktor. “Puluhan Muslim Rohingnya Tenggelam Saat Mencoba Kabur ke Bangladesh”. 31 Agustus 2017.  https://international.sindonews.com/read/1235678/40/puluhan-muslim-rohingnya-tenggelam-saat-mencoba-kabur-ke-bangladesh-1504181211. (diakses pada 07 September 2017)

Iqbal, M. “Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Rohingya?”. 20 November 2016. http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/11/19/ogw9ws408-apa-yang-bisa-kita-lakukan-untuk-rohingya. (diakses 07 September 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *