Rokok, Apakah Haram?

Rokok, Apakah Haram?

Berbicara mengenai hukum rokok tentu merupakan masalah yang belum selesai untuk kita perbincangkan. Masyarakat, ustadz-ustadz, ulama dan para kyai di negeri ini sampai saat ini masih belum menemukan kata mufakat menghukumi benda yang satu ini, rokok. Dinilai dari sisi kesehatan, semua orang telah sepakat bahwa rokok menjadi penyebab banyak penyakit, salah satunya adalah kanker paru-paru, yang menjadi salah satu penyebab terbesar kematian saat ini. Upaya menyuarakan dampak negatif rokok pun telah banyak dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari kelompok-kelompok kecil masyarakat sampai ke peraturan pemerintah yang mencoba membatasi penjualan rokok. Namun demikian, rokok di negeri ini masih saja laris manis terjual.

Menelisik dari pandangan agama, seperti yang telah disinggung di awal, kita sebagai umat Islam belum menemukan kata sepakat mengenai hukum rokok. Sejauh ini, Majelis Ulama Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan fatwa tentang pelarangan rokok, namun belum menentukan hukumnya secara pasti, apakah dilarang karena makruh atau dilarang karena keharamannya. Hal ini tentu saja masih menjadi peluang bagi mereka yang merokok untuk berpandangan bahwa rokok hanya sekedar makruh, artinya masih ada sedikit kelonggaran ketika mereka melanggarnya. Padahal dalam ilmu ushul fikih, sesuatu hal yang makruh jika dilakukan terus menerus maka hukumnya bisa berubah menjadi haram. Seandainya mereka sadar, sebenarnya sudah tak ada celah lagi bagi mereka untuk melanggar larangan ini.

Sebagai muslim, kita seharusnya bisa memilih setiap perbuatan yang bermanfaaat bagi diri kita sendiri. Terlebih, dalam sabdanya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ciri-ciri kebaikan dari islamnya seseorang adalah meninggalkan apa yang tak bermanfaat bagi dirinya. Beranjak dari hadist ini, maka seharusnya mereka yang merokok bisa sadar, bahwa rokok yang mereka hisap itu, sejatinya tak ada manfaatnya bagi mereka, bahkan justru membahayakan kesehatan mereka dan sudah seharusnya mereka meninggalkannya sebagai pengamalan dari hadist diatas.

Lebih dari itu, sebenarnya ada larangan yang lebih keras menyangkut rokok ini.

Allah berfirman,

” وَلَا تُلۡقُواْ بِأَيۡدِيكُمۡ إِلَى ٱلتَّہۡلُكَةِ‌ۛ وَأَحۡسِنُوٓاْ‌ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ”

“dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al-Baqoroh : 195)

Lihatlah, pada ayat ini Allah melarang kita untuk membinasakan diri sendiri dan jika kita cermati, merokok dapat digolongkan dalam perbuatan membinasakan diri sendiri, mengingat dampak negatifnya bagi si perokok yang dapat menghantarkan kepada kematian. Dalam kajian ushul fiqh, sebuah larangan asalnya berimplikasi pada pengharaman, kecuali ada petunjuk lain yang menghantarkan kepada implikasi lainnya, seperti makruh atau mubah. Dalam hal ini (masalah larangan rokok), adakah kita temukan petunjuk lain tersebut sehingga kita bisa menggeser hukum asalnya yang merupakan pengharaman dari larangan diatas, kepada hukum lain seperti mubah atau makruh ??

Mungkin akan banyak yang berpendapat bahwa para kyai di pondok-pondok saja mereka masih merokok, artinya mereka tak berani mengharakam benda yang satu ini. Sebagai muslim, seharusnya kita pintar menyikapi perbuatan manusia. Setiap manusia bisa salah dan bisa benar, semua dinilai dari kesesuaiannya dengan kitabullah dan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang tidak sesuai dengan keduanya, maka kita tinggalakan, siapapun yang melakukannya, dan apapun yang sesuai dengan keduanya, sudah sepatutnya kita menerimanya, dari siapapun kebenaran itu datang.

Akan lebih menarik jika kita kutip pendapat ulama mutaakhir syafii’iyaah mengenai hal ini, mengingat sebagian besar masyarakat kita adalah penganut madzhab syafi’i. Ibnu ‘Allaan Al-Bakriy As-Shiddiiqiy Asy-Syaafi’i (wafat 1057 H) rahimahullah telah menulis sebuah kitab khusus tentang pengharaman rokok yang beliau beri judul ” الدُّخَانِ تَنَاوُلِ بِتَحْرِيْمِ الإِخْوَانِإِعْلاَمُ” (Pemberitahuan kepada saudara-saudaraku akan haramnya merokok). Beliau berkata dalam kitab tersebut:

وقد اتَّفق العلماءُ على حِفْظ العقول وصونها من المغيِّرات والمخدِّرات، وكلُّ مَن امتصَّ هذا الدخان مقرٌّ بأنَّه لا بدَّ أن

يدوخ أوَّلَ تناوله، ويكفي ذلك دليلاً على التحريم؛ لأنَّ كل ما غيَّر العقل بوجه من الوجوه، أو أثَّر فيه بطريق تناوله –

حرامٌ

“Para ulama telah sepakat tentang penjagaan akal dan melindunginya dari perubah-perubah dan pembuat melayang. Dan semua orang yang mengisap rokok mengakui bahwasanya ia pasti pening tatkala pertama kali mengisap rokok. Maka hal ini sudah cukup sebagai dalil/argumen akan haramnya rokok. Karena semua perkara yang merubah akal dengan model apapun atau mempengaruhi akal dengan mengonsumsinya maka hukumnya adalah haram” (Dinukil dari kita Ad-Dalaail al-Wadhihaat hal 169). Pendapat Ibnu ‘Allan ini tentu bukan satu pendapat dikalangan syafi’yah. Masih banyak ulama-ulama lain yang juga berpendapat sama dengan pendapat beliau.

Terakhir, sebenarnya sudah tidak ada lagi hujjah bagi mereka yang mencoba mengotak-atik hukum larangan merokok. Toh sudah banyak pendapat ulama yang menyatakan tentang pelarangannya. MUI pun, sebagai lembaga yang resmi, sudah mengeluarkan fatwa pelarangan rokok. Tinggal semuanya diserahkan ke pribadi masing-masing umat islam, maukah mereka menerima larangan ini dan meninggalkan rokok secara total, atau justru sebaliknya, terus menjadi budak benda beracun satu ini, rokok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *