Rohingya

Rohingya

“Kemanusiaan itu tak mengenal batas negara dan agama. Ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim” – Helvy Tiana Rosa

Sejarah

Rohingya, sebuah kelompok etnik yang tinggal di Negara bagian Rakhine (Arakan), Myanmar. Nenek moyang Rohingya berasal dari campuran Arab, Turk, Persian, Afghan, Bengali dan Indo-Mongoloid. Ada beberapa versi tentang asal kata “Rohingya” Rohingya berasal dari kata “Rohang”, nama kuno dari “Arakan” Sehingga orang yang mendiaminya disebut “Rohingya”. Versi lain menyebutkan bahwa istilah “Rohingya” disematkan oleh peneliti Inggris Francis Hamilton pada abad 18 kepada penduduk muslim yang tinggal di Arakan. Populasi Rohingya diperkirakan mencapai 1,3 juta jiwa.

Arakan (Rakhine) sebelum bergabung dengan Union of Myanmar pada 1948 berturut-turut dikuasai oleh kerajaan Hindu, Islam (abad 15-18), dan Buddhist. Arakan adalah negara bagian dari Union of Myanmar yang terletak di sisi barat laut Myanmar berbatasan dengan Bangladesh. Nama Arakan berubah menjadi “Rakhine” pada tahun 1930 dan belakangan disebut juga “Rakhaing”. Nama “Rakhine” merujuk pada etnis Rakhine Buddhist (Moghs), sehingga istilah “Rakhine” tidak mewakili etnis Rohingya muslim.

Etnis Rohingya sudah hidup disana sejak abad 7 Masehi. Kemudian sebagai Muslim dengan nama kerajaan Arakan, mereka sudah ada sejak tahun 1430 sampai 1784 Masehi. Jadi sekitar 3,5 abad mereka dalam kekuasaan kerajaan Muslim hingga mereka diserang oleh Kerajaan Burma, dan dianeksasi oleh Inggris. Setelah itu mereka dibawa menjadi bagian dari British India yang bermarkas di india meskipun India saat itu juga belum merdeka. Ketika Burma merdeka tahun 1948, ada 137 etnis yang ada di Burma. Namun Myanmar tidak mengakui keberadaan etnis Rohingya sebagai etnis yang ada di tanah Burma. Mereka dinilai minoritas dari segi warna kulit dan bahasa serta dianggap lebih dekat kepada orang Bangladesh walaupun mereka bukan orang Bangladesh.

 Diskriminasi dan Penindasan

Sejak sebelum Burma merdeka tahun 1948, Etnis muslim Rohingya selama puluhan tahun sudah mengalami diskriminasi dan penindasan baik oleh Negara maupun etnis mayoritas di Myanmar. Ribuan orang Rohingya dibunuh karena mereka dianggap minoritas dan bukan bagian dari Burma. Kekerasan terhadap etnis Rohingya terus berulang setelah Burma merdeka. Status mereka pun stateless atau tidak memiliki kewarganegaraan karena Pemerintah Myanmar menegaskan bahwa etnis Rohingya tidak memenuhi syarat kependudukan sejak negara tersebut menggunakan hukum militer pada 1982. Berdasarkan peraturan tersebut, orang yang memiliki status penduduk penuh adalah anggota kelompok etnis yang telah tinggal permanen di masa modern Myanmar sejak 1823 padahal ketika merdeka, Burma memasukkan negara bagian Arakan sebagai bagian dari Burma, tetapi tidak mengakui orang Rohingya atau Muslim Arakan sebagai etnis yang eksis di sana padahal mereka sudah ada sebelum negara ada. Karena tidak diakui sebagai warga negara, etnis Rohingya pun tidak memperoleh kebebasan dan hak-hak warga negara pada umumnya seperti tidak dapat mengakses fasilitas pendidikan, kesehatan, tidak dapat beribadah dengan bebas dan hak-hak warga negara lainnya.

Operasi tentara sering kali dilakukan sejak 1950-an dan yang paling sadis adalah Na Sa Ka Operation yaitu meliputi kekerasan, pengusiran, Burmanisasi, halangan untuk menikah, dan pemerkosaan. Praktik ini dianggap sebagai state violence, dimana negara melakukan genosida, pembantaian etnis (ethic cleansing), yang kemudian berkembang menjadi kejahatan sipil antar orang Rohingya dengan orang Arakan lain. Menurut Heru Susetyo, pendiri Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA), orang Arakan non Muslim sebenarnya cukup peaceful (tenang) dan anti kekerasan. Menurut beliau mereka terprovokasi oleh media, pemerintah, dan agitasi (hasutan untuk melakukan huru-hara) dari tokoh-tokoh yang tidak bertanggung jawab sehingga timbul kekerasan terhadap etnis Rohingya.

Sejak tiga tahun terakhir, serangan-serangan yang ditujukan kepada etnis Rohingnya menyebabkan 280 orang tewas dan 140.000 orang dikucilkan ke kamp-kamp hutan di pinggiran Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine. Di sana mereka hidup menyedihkan dan sulit mendapat kesempatan kerja. Karena kekerasan yang dialami terus menerus, Etnis Rohingya pun berbondong-bondong pergi meninggalkan Myanmar menuju Negara lain untuk mencari perlindungan. Negara tujuan utama mereka adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim yaitu Malaysia. Mereka pergi ke Malaysia untuk mencari suaka dan pekerjaan.

Kondisi saat ini

Di tahun 2015 ini, aksi melarikan diri lebih dari 25,000 orang etnis Rohingya dengan menggunakan perahu mencuat jadi topik berita di tataran internasional. Masalah muncul terkait sikap pemerintah di tiga Negara yang menjadi tujuan para pegungsi etnis Rohingya, yakni Thailand, Malaysia dan Indonesia. (Sabtu, 23/Mei/2015/10:01 WIB) jumlah pengungsi dari Rohingya, Bangladesh dan Myanmar yang ada di Aceh berjumlah 1.722 jiwa, terdiri dari 1.239 jiwa laki-laki, 244 jiwa perempuan, dan 238 jiwa anak-anak. Para pengungsi sudah ditempatkan di tempat pengungsian yang tersebar di 4 daerah yaitu 560 jiwa di Kab Aceh Utara, 47 jiwa di Kab Aceh Tamiang, 682 jiwa di Kota Langsa, dan 433 jiwa di Kab Aceh Timur. Saat ini keadaan para pengungsi Rohingya yang berada di Aceh mengalami kondisi yang memprihatinkan. Sekitar 70 dari 682 imigran Rohingya yang sejak Jumat (15/5) lalu mendarat dan ditampung di kompleks Pelabuhan Kuala Langsa, mengalami diare dan beberapa orang lainnya mengalami sakit kepala, batuk, perut kembung, dan gangguan pencernaan.

Atas nama harkat dan martabat sebagai manusia dan sebagai bagian dari elemen terpelajar kita tidak boleh hanya diam dan membiarkan perikemanusiaan terdegradasi. Saudara kita tidak bisa menikmati masa-masa remajanya, bayi-bayi kurus kering perawakannya, derai tangis mereka bercucuran tiada henti. Sudah saatnya kita bergerak, rasa empati yang diwujudkan dalam bentuk bantuan baik materi dan non-materi serta do’a sangat mereka butuhkan. Let’s Help Rohingnya, Save Rohingnya.

 

Sumber :

http://herususetyo.com/2012/08/24/rohingya-101/

http://www.koran-sindo.com/read/999702/149/faktor-ekonomi-kerap-menjadi-pemicu-1431311728

http://www.dw.de/inilah-profil-manusia-perahu-rohingya/a-18467515

http://aceh.tribunnews.com/2015/05/22/puluhan-imigran-rohingya-diare

http://news.okezone.com/read/2015/05/15/18/1150247/mengenal-imigran-rohingya-dari-myanmar

http://nasional.kompas.com/read/2015/05/23/10013701/Wapres.Perintahkan.BNPB.Bantu.Pengungsi.Rohingya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *