#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 3) – Siapkan Jawaban Sebelum Ditanya

#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 3) – Siapkan Jawaban Sebelum Ditanya

oleh Fatiya Rumi Humaira di Seoul, Korea Selatan

Kyung Hee University memiliki tiga asrama kampus. Yang pertama adalah asrama pertamaku, Sehwa Hall, dengan fasilitas yang sangat nyaman tapi satu kekurang fatal: tidak ada dapur. Tidak ada dapur menjadi tantangan berat bagi seorang muslim, tentunya karena sulitnya menemukan makanan halal. Tidak hanya sulit mencari makanan yang bebas dari hal-hal yang haram (misalnya susu sapi pun bisa haram karena memakai gelatin/letichin, produk turunan babi,dalam proses produksinya), tapi juga makanan yang halal cenderung lebih mahal – karena yang murah ya daging babi.

Pada tanggal 23 juni, atau hari ke-6 Ramadhan, adalah hari pindahan. Untungnya di kampus dengan motto Towards Global Eminence ini terdapat cukup banyak sesama mahasiswa dari Indonesia yang sukarela membantu pindahan saya.

Lobby asrama pertama saya – Sehwa Hall.

“Mianhada – Sorry!” ujar Ajusshi itu ketika memakan es krim di depanku.

Selagi sibuk merapikan barang-barang untuk pindahan, temanku menyarankan untuk mengemas pakaian dengan menggunakan vacuum pack – semacam tas plastik praktis yang bisa disedot udaranya sehingga pakaian bisa sangat ditekan dan menghemat tempat packing. Untuk menggunakannya, saya harus meminjam vacuum cleaner dari kantor janitor di asrama. Janitor disini ada tiga orang ajusshi (‘bapak-bapak’ dalam bahasa Korea): yang sangat baik dan ramah, yang baik, dan yang sering tampak jutek. Sampai saat ini saya belum sempat menanyakan namanya dan hanya mengingatnya dengan sebutan tadi. Saat saya meminjam vacuum cleaner, kebetulan ada ajusshi yang sangat baik dan ramah sedang berjaga sambil memakan es krim coklat sambil mengobrol dengan ajusshi baik yang lainnya. Perlu diperhatikan juga bahwa orang Korea umumnya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sangat rendah, dan ketiga ajusshi ini tidak ada yang bisa berbahasa Inggris. Tapi biasanya mereka tidak peduli bahwa kami tidak bisa berbahasa Korea dan selalu nyerocos dengan bahasa Korea, walaupun kami tidak mengerti dan hanya bisa menebak-nebak artinya.

Tidak ada bedanya dengan hari itu. Melihat saya, ajusshi yang sangat ramah itu berusaha mengajak saya ngobrol. Tapi kali ini saya bisa menangkap setidaknya satu kata dari ucapannya. Kurang-lebih seperti “********… Ramadhan ***?”

Mendengar kata yang familiar itu, saya menganggukan kepala. Ajusshi tersebut tampak bangga bahwa dia mengetahui bulan Ramadhan, lalu melihat ke es krim coklat yang sedang dimakannya. “Mianhada!” ucapnya padaku. Artinya adalah maaf – ini salah satu kosakata yang mudah. saya berusaha memberitahu bahwa “tidak apa-apa, terima kasih”… tapi lalu dia melanjutkan dengan berkata “sorry!” untuk memastikan bahwa saya mengerti apa yang dia ucapkan. Saya hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum lebar.

…Saya tidak pernah berekspektasi akan mendapatkan permintaan maaf dari orang Korea yang sedang makan di depan saya ketika bulan puasa. Mungkin karena asrama ini terdiri dari 50% mahasiswa internasional, maka ajusshi-ajusshi itu pun lebih familiar dengan muslim. Muslim disini pun cukup unik – saya juga pernah melihat mahasiswa laki-laki dari Arab yang ditanyai mengenai rutinitasnya sholat jumat lalu ia menjawab santai bahwa ia jumatan cukup di kamarnya saja. Itu, saya lebih tidak mengerti.

Pindahan — demi makanan yang lebih baik

Pindahan di sore hari, di tengah-tengah puasa. Keterbatasan finansial, keterbatasan bahasa untuk mencari jasa pindahan, lokasi antar asrama yang hanya berkisar 500 meter (walaupun harus naik dan turun tanjakan), dan adanya teman-teman yang sudah seperti keluarga dan siap membantu… menjadi faktor-faktor utama suksesnya pindahan asrama ini.Bahkan roommate saya sebelumnya yang terkenal mager juga membantu banyak dalam proses pindahan. Hingga dibantu oleh senior dari Indonesia yang sedang S2 disini sekaligus teman baik kakak saya.

Normalnya, apabila di Indonesia, mungkin ide pindahan di tengah-tengah hari dengan membawa barang yang tidak sedikit dan harus pindahan manual dengan mendaki tanjakan hingga naik tangga ke lantai 4 (karena tidak ada eskalator di asrama baru) akan terasa aneh. Disini? Tidak bisa terpikir untuk mengeluh, karena memang sudah seharusnya begitu. Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, bukan alasan untuk menghindari pekerjaan yang tidak-begitu-berat-tapi-merepotkan seperti pindahan. Lagi-lagi, bahagianya dari menjadi minoritas adalah persaudaraan kuat antara sesama minoritas yang saling membantu untuk beradaptasi dan bertahan hidup disini.

Keluarga sesama Exchange Student dari Indonesia di Kyung Hee University

Diskusi Agama dengan roommate baru

Di Korea, harga tempat tinggal biasanya sangat mahal. Terutama di Seoul, minimal sekitar 2 juta rupiah untuk satu kamar yang sangat kecil – itupun biasanya pasti harus berdua satu kamar. Asrama baru saya, I-House 1, memiliki sewa bulanan sebesar 3 juta rupiah – dan itupun termasuk kategori murah disini. Untungnya asrama ini memiliki dapur sehingga saya bisa memasak sendiri agar bisa menghemat pengeluaran.

Pindah asrama dengan kamar baru berarti memiliki teman sekamar atau roommate baru. Sebelum pindah, saya sudah sempat menanyakan identitas teman sekamar nantinya (murni ditentukan oleh pihak asrama dan universitas). Namanya Lee Jongmin, keturunan Korea asli tapi lama tinggal di Kanada sehingga berkewarganegaraan Kanada. Orang yang baik, tapi kebiasaan kami benar-benar bertentangan. Dia suka minum, merokok dan sangat suka memakan babi. Kami hanya menertawakan perbedaan kami sambil sepakat untuk berusaha menjembatani perbedaan tersebut.

Lucunya adalah melihat reaksinya saat saya – mau tidak mau – menjelaskan tentang islam. Pertama, puasa. Saya menjelaskan bahwa memiliki “jam khusus” untuk makan selama satu bulan ini dan meminta maaf di awal jikalau saya memasak di jam sahur akan mengganggu dia. Reaksinya sangat terkejut saat saya bilang saya tidak boleh makan ataupun minum dari sekitar jam 3 pagi hingga jam 8 malam. Ini… masih normal. Dia cukup mengerti, walaupun tetap terkejut.

Selanjutnya, saya harus sholat, dan lebih baik saya menjelaskan terlebih dahulu mengenai apa yang akan saya lakukan. Menjelaskan bahwa setiap harinya saya harus shalat 5 kali sehari, dan dengan polosnya dia bertanya “selama kamu sholat, apakah aku boleh.. bergerak?”

“berapa jam lamanya kamu sholat?” tanyanya, sambil bersiap-siap pergi. Seakan-akan saya akan mengusirnya…

“hanya beberapa menit…” jawabku, ikut terkejut karena reaksinya.

Jawaban-jawaban yang harus disiapkan

Selama menjadi exchange student dan berhadapan dengan orang-orang yang tidak familiar dengan islam, biasanya pertanyaan yang akan dihadapi kurang lebih akan sama. Walaupun sudah sering menghadapinya, sampai sekarang saya masih tidak tahu jawaban tepatnya. Kali inipun tidak berbeda: roommate baru saya menanyakan hal-hal yang sama:

“mengapa kalian tidak bisa makan babi?”

“karena dilarang di agama kami, tertulis dalam Al-Qur’an…”

“hanya karena itu?” tanyanya dengan ekspresi tidak percaya. Untuk pertanyaan ini, jawaban apa yang tepat?

Atau

“apa kalian boleh merokok?”

“boleh, tapi aku sendiri tidak suka, makanya tidak merokok..”

“kenapa merokok yang merugikan orang lain tidak dilarang, tapi minum alkohol yang hanya merugikan diri sendiri justru dilarang?”

“mengapa kalian sama-sama orang Indonesia dan sama-sama muslim, tetapi ada yang memakai hijab ada yang tidak?”

“apa kalian boleh pacaran?”

Hingga pertanyaan unik seperti

“kalau mencium bau babi yang sedang dimasak, apa boleh?” tanyanya sambil memasak babi di dapur kamar.

Saya berusaha menjawab sebisanya, tapi sejujurnya banyak yang membuat saya berpikir ulang dan sadar bahwa saya tidak tahu apa jawaban yang paling tepat. Sebagai agen muslim, kita harus memberikan imej yang baik tetapi juga tidak berbohong. Untungnya disini mereka tidak melihat muslim sebagai agama teroris; kemungkinan besar karena pada dasarnya tidak begitu tahu banyak mengenai lika-liku agama lain selain yang mayoritas ditemui di Korea.

MERS

Di Korea, sempat booming mengenai banyaknya virus MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang mematikan dan berasal dari Timur Tengah. MERS bahkan membuat perekonomian Korea melamban karena turunnya sumbangan dari sektor pariwisata dan orang-orang yang takut akan MERS memilih untuk tidak keluar rumah, sehingga konsumsi menurun. Awalnya saya sempat takut bahwa adanya MERS akan membuat adanya diskriminasi terhadap orang-orang Timur Tengah yang mayoritas adalah islam dan merupakan pengunjung-pengunjung utama Mesjid Itaewon, tapi untungnya tidak. Apalagi ketika isu MERS sedang hebohnya, saya harus memakai masker kemana-kemana demi mencegah penularan; masker disertai hijab, kadang seakan saya memakai cadar… sesama teman Indonesia yang berhijab sempat waswas sendiri, tapi untung segalanya berakhir baik-baik saja.

Cinta bukan pembenaran

Sabtu kedua di bulan Ramadhan, saya kembali berbuka puasa di KBRI, Yeouido, Seoul. Hari ini menunya adalah sup daging, kolak, ayam goreng, sambal (yang sangat membahagiakan, dibanding kimchi yang selalu kita temui dimanapun). Jumlah pengunjung pun bertambah – kali ini tidak ada lagi makanan untuk dibungkus karena semuanya sudah dilahap habis.

Kebetulan hari itu adalah hari yang sama dengan dilegalkannya same sex marriage di seluruh negara bagian Amerika Serikat. Di jalan pulang dari KBRI, kami pulang dengan naik bis dan memerhatikan pasangan di depan kami – pasangan heteroseksual biasa. Tempat duduk di bis itu tidak ada yang dua kursi kosong dan berdampingan, hanya ada beberapa kursi untuk satu orang yang kosong. Sang gadis duduk di salah satu kursi, sedangkan pacarnya berdiri di sebelahnya. Berdiri… padahal banyak kursi yang kosong. Fenomena ini sangat sering kami lihat di Korea: dimana sang pria akan mencari-cari alasan untuk tetap “nempel” dengan sang perempuan, walaupun kadang caranya tidak masuk akal. Sewaktu musim dingin, sang pria akan berbagi setengah mantelnya kepada pacarnya sehingga mereka berdua akan berdempetan (karena sempit) dengan berbagi satu mantel untuk berdua. Apabila hujan dan keduanya membawa payung, maka mereka hanya akan memakai satu payung agar bisa berbagi dan bisa punya alasan untuk berdekatan dan kontak fisik.

Kembali pada pasangan kekasih di bis, ternyata akhirnya sang pria… duduk di lengan kursi sang gadis sambil merangkul gadis tersebut. Di Korea, generasi tua (bapak-bapak/ibu-ibu/kakek-nenek) biasanya memilih transportasi umum kereta subway dibanding bis, sehingga bis biasanya lebih penuh dengan anak muda. Ini juga membuat lebih banyaknya Public Display of Affection (PDA)yang bisa dilihat di bis dibanding di subway. Tidak aneh jika berjalan-jalan di Korea dan melihat banyaknya adegan drama-drama romansa Korea di pinggir jalan: sepasang kekasih yang berpelukan erat tidak mau berpisah di stasiun, pasangan yang berciuman mesra di depan convenience store hingga di pemberhentian bis… dan banyak lagi. Mungkin “adegan-adegan” ini terlihat romantis di layar drama televisi, tapi dalam realita di depan mata… mungkin malah membuat yang melihat merasa tidak nyama. Saya sendiri awalnya sangat cuek dengan pasangan-pasangan kekasih dan PDA yang mereka pamerkan, tetapi lama kelamaan mulai merasa terganggu dan agak geuleuh (istilah Bahasa Sunda).

Disini, motel atau hotel khusus untuk hubungan seksual juga ada dimana-mana dan sudah lumrah jika pasangan yang berpacaran pergi kesana. Tarif sewanya juga per jam. Tidak hanya itu, vending machine di dekat toilet-toilet biasanya menjual kondom dengan mudahnya bagi yang membutuhkan.

Kembali ke perjalanan pulang dari KBRI… kami mendiskusikan mengenai betapa romantisme terlalu dilebih-lebihkan di zaman ini. Banyak pasangan yang sangat cuek untuk bermesraan di depan umum karena percaya bahwa itu semua romantis; padahal bagi yang melihat hanya bisa melihat permainan nafsu dan pihak laki-laki yang kerap mencari-cari kesempatan untuk menyentuh pacarnya. Kebetulan hari itu bertepatan dengan hari dimana sosial media heboh dengan hastag “Love wins”; dan sejak kapan segala yang berdasarkan cinta menjadi pembenaran untuk segalanya? Karena cinta, karena romantisme, maka apakah pasangan-pasangan kekasih tadi merasa bahwa kemesraan di depan umum adalah hal yang benar untuk dilakukan, tanpa memikirkan efek negatif, misalnya, kepada anak-anak kecil yang ‘ternodai’ yang dengan mudah bisa melihat aktivitas ‘romantis’ mereka? Karena cinta, maka pernikahan yang tidak menyumbangkan manfaat kepada society haruslah diperbolehkan, karena melarang cinta adalah hal yang sangat jahat – padahal banyak nafsu, atau hanya nafsu, yang terselip dalam romantisme yang diperjuangkan tersebut.

Lalu bukankah itu tujuan utama dari berpuasa di bulan Ramadhan – menahan nafsu? Sayangnya tidak semua orang berpuasa. Atau.. tidak benar-benar melaksanakan shaum sesuai dengan artian sebenarnya yang diperintahkan dalam Al-Qur’an.

 

To be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *