#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 2) – Menjadi Minoritas, Menguatkan Persaudaraan

#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 2) – Menjadi Minoritas, Menguatkan Persaudaraan

oleh Fatiya Rumi Humaira di Seoul, Korea Selatan

Ketika di Indonesia penduduk muslim terpecah belah menjadi berbagai golongan dan aliran (saya sendiri tidak hafal ada apa saja), justru dengan tinggal di negeri minoritas islam-lah kita lebih bisa merasakan persatuan dan persaudaraan antara umat muslim. Simpelnya, ya mau gimana lagi, tempat beribadah pun sangat terbatas – apalagi mesjid besar. Boro-boro pilih-pilih mesjid, karena dari awal mesjidnya ya memang hanya itu.

Beberapa pengalaman selama satu minggu pertama bulan Ramadhan ini mengajarkan saya pentingnya hubungan antara muslim – lebih sempitnya lagi yaitu hubungan sesama muslim dari Indonesia.

Buka bersama di KBRI Seoul

Jika ditanya mengenai study abroad, mungkin banyak yang akan mengomentari tentang kemungkinan terserang homesick selama berada di negara yang asing dengan budaya yang berbeda. Nyatanya… untukku pribadi (dan mayoritas teman-teman disini), kami tidak terlalu merasakan homesick itu. Bukan homesick, tapi mungkin lebih tepatnya foodsick dan peoplesick. Yang kita rindukan bukan Indonesia, tetapi orang-orangnya; baik itu keluarga, teman atau orang-orang berharga lainnya. Ini mungkin masih bisa diobati terutama dengan kemajuan jaman, dengan tetap mengontak orang-orang tersebut. Bisa via skype, line call, chatting, dsb.

Tapi yang paling utama… foodsick?

Lidah orang Indonesia sangat dimanjakan dengan bumbu yang banyak dan makanan yang enak-enak. Makanan Korea yang cenderung tawar atau pedas (tetapi pedas tanggung, tidak seperti di Indonesia) dan sebagian besar selalu mengandung babi sangat membuat kami merindukan makanan Indonesia. Untungnya setiap hari sabtu selalu ada buka bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Yeouido, Seoul. Jarak tempuh dari asrama ke KBRI yang cukup jauh, hampir 1 jam tidak menghalangi tekad kami untuk nostalgia makanan Indonesia. Perjuangan kami tidak sia-sia, karena kami bisa mencicipi tahu isi, bubur kacang ijo, soto ayam, kerupuk udang, teh manis… yang sangat jarang bisa ditemui. Tahu asli Korea rasanya cenderung tawar dan masyarakat sini tidak mengenal teh botolan yang diberi gula: kebanyakan teh pasti tawar dan pahit.

Suasana berbuka di parkiran mobil KBRI Seoul

Satu hal yang sangat terasa adalah banyaknya orang Indonesia yang tersebar di seluruh Korea Selatan. Jangankan Korea, di satu kota Seoul saja sudah ada banyak sekali. Mayoritas adalah mahasiswa, baik mahasiswa full student S1, S2 atau exchange student seperti saya. Layaknya mahasiswa pada umumnya, sisa makanan berlebih langsung ludes hanya dalam hitungan 15 menit ketika pegawai KBRI sudah memberikan izin bagi kami untuk membungkus sisa-sisa makanan.

Ifthar di Seoul Central Mosque, Itaewon

Lagi-lagi, layaknya mahasiswa Indonesia pada umumnya, kami mengejar buka puasa gratis di tempat lain. Kali ini tujuan kami adalah mesjid Itaewon, sekaligus shalat taraweh disana. Sebelum bulan Ramadhan, saya pernah melihat pengumuman bahwa mesjid Itaewon selalu mengadakan ifthar atau buka puasa gratis setiap harinya selama bulan Ramadhan. Pengumuman itu tidak menjelaskan dengan detail apakah akan selalu dibagikan makanan berat atau hanya takjil seperti mesjid-mejid pada umumnya di Indonesia. Saya dan beberapa teman saya berencana datang ke Itaewon sebelum waktu magrib untuk bisa melihat buka puasa di mesjid Itaewon. Apabila disajikan makanan berat, maka kami akan makan di mesjid tetapi jika tidak, ya sudah kami akan makan di salah satu dari restoran halal yang tersebar di area sekitar mesjid.

Hari itu kami datang terlambat dan waktu sholat magrib sudah tiba saat kami masih di tanjakan menuju mesjid. Ketika akhirnya sampai, orang-orang sedang membereskan sisa-sisa takjil dan bersiap-siap memulai sholat magrib berjamaah. Hanya sedikit sekali takjil yang tersisa. Tempat sholat sendiri dibagi menjadi 3 bagian: lantai 1 (di luar mesjid) dan 2 (bagian utama mesjid) untuk ikhwan, lantai 3 untuk akhwat dan ada satu mushola di samping mesjid khusus untuk akhwat yang membawa anak kecil.

Kondisi mesjid yang sudah ramai membuat saya sulit untuk naik ke lantai 3. Saya bertemu dengan seorang akhwat dari Malaysia yang menyuruh saya untuk mengambil takjil terlebih dahulu di mushola akhwat di samping mesjid. Ternyata disinilah tempat takjil untuk akhwat disajikan, karena dilarang makan dan minum di lantai 3. Ada banyak ibu-ibu dengan anak-anak kecilnya dari berbagai negara dan ras.

Saat saya baru selesai wudhu, saya sempat melihat beberapa ikhwan yang tidak ikut sholat berjamaah tapi berdiri nongkrong di dekat parkiran mesjid seakan-akan menunggu sesuatu. Entah apa. Tidak begitu peduli, saya pun sholat magrib di mushola kecil di samping mesjid tersebut. Pertanyaan berikutnya muncul setelah sholat: saya harus kemana? Pada saat itu saya kita tidak akan dibagikan makanan berat untuk berbuka, cukup dengan takjil yang sudah dibagikan tadi. Maka saya keluar dari mushola dengan niat mencari teman saya yang lain ketika saya melihat pemandangan di luar – yang sudah berubah total.

Sudah terbentuk antrian panjang ikhwan yang mengantri makanan untuk berbuka puasa. Antriannya sangat panjang (saya tidak bisa melihat ujungnya). Ikhwan-ikhwan yang tadi saya lihat nongkrong di dekat parkiran mesjid? Mereka sekarang ada di urutan paling depan antrian. Sepertinya mereka sudah sangat… penuh persiapan. Kalau untuk istilah anak FEB UI mungkin ambi mengambil makanan berbuka.

Saya hanya memerhatikan antrian panjang yang sepertinya antara tidak bergerak atau bergerak sangat lamban tersebut dari pintu mushola akhwat dan bertanya-tanya apa yang harus saya lakukan: pergi, atau mencari dimana antrian akhwat? Ternyata pertanyaan saya cepat terjawab karena langsung datang ikhwan yang mengantarkan nampan-nampan makanan ke mushola tempat saya berada. Subhanallah. Ketika ikhwan harus mengantri panjang dan cukup lama (sempat ada gosip bahwa biasanya antrian akan memakan waktu satu jam, tapi untungnya yang terjadi hanya sekitar 30-40 menit; kata teman saya yang ikut dalam antrian tersebut), akhwat hanya harus duduk manis menunggu makanan diantarkan ke depan hidung. Mungkin salah satu tujuannya karena anak-anak kecil (yang banyak dibawa oleh ibu-ibu disini) harus diproritaskan.

Makanan diantarkan ke musholla akhwat

Menu hari itu: makanan Pakistan. Nasi Biryani dan semacam Kare Ayam

Makanan yang disajikan adalah makanan Pakistan. Kenapa bukan makanan melayu?—pertanyaan ini sempat terpikir tapi belum saya temukan jawabannya. Saya juga sempat melihat ada spanduk dengan bendera negara bersangkutan. Mungkin ada sponsor ifthar ini atau pihak pemberi dana lainnya. Jumlah yang berbuka puasa disini sangat banyak. Saya sempat melihat panci tempat memasak makanan ini – cukup besar jika manusia berendam di dalamnya.

Setelah berbuka puasa, dilanjutkan dengan sholat isya dan taraweh. Disini imamnya diganti setelah 8 rakaat taraweh. 8 rakaat pertama taraweh dilaksanakan dengan bacaan-bacaan yang cukup panjang, tapi setelah imamnya diganti menjadi jauh lebih cepat. Selalu seperti itu. Saya juga baru tahu kalau kebiasaan ceramah/khutbah antara sholat isya dan taraweh itu hanya ada di Indonesia.

To be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *