#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 1)

#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 1)

oleh Fatiya Rumi Humaira di Seoul, Korea Selatan

Salah satu tantangan dari studi di luar negeri adalah saat bulan ramadhan. Hukumnya sudah jelas: berpuasa dimulai dari waktu subuh hingga waktu magrib (saatnya matahari tenggelam). Selama 20 tahun di Indonesia, saya sendiri sudah terbiasa dengan jam subuh dan magrib yang selalu sekitar jam segitu-segitu saja; tapi ketika tinggal di luar negeri yang memiliki empat musim dan berada lebih utara dari Indonesia, saya harus membiasakan diri dengan perbedaan ramadhan disini. Perbedaan paling jelas yang pertama adalah lamanya berpuasa

Di Korea Selatan – khususnya pada tahun 2014 – bulan Ramadhan jatuh pada musim panas, sehingga saya harus berpuasa selama sekitar 17 jam dari sekitar jam 3 subuh hingga jam 8 malam. Musim panas juga berarti suhu sehari-hari berkisar di 30 derajat celcius. Sebagai orang yang sudah terbiasa dengan panasnya Jakarta, sebenarnya masih lebih panas di Jakarta – tetapi disini mataharinya jauh lebih terik, mungkin karena lebih timur. Teriknya matahari benar-benar menyiksa mata hingga memakai kacamata hitam menjadi suatu kebutuhan, bukan cuma gaya-gayaan. Satu hal yang saya syukuri adalah walaupun musim panas tetapi masih berangin, dan membuat panasnya menjadi lebih bisa dihadapi.

Perbedaan pertama masih sangat dasar, karena menurut saya pribadi yang paling penting adalah perbedaan yang kedua. Penuansaan. Jika saya tidak mempunyai keluarga yang sama-sama beragama islam, teman-teman di Indonesia yang bersemangat menyambut bulan ramadhan, dan lembaga-lembaga atau media yang senantiasa mengingkatkan datangnya bulan ramadhan, mungkin saya bisa saja lupa kapan datangnya ramadhan. Apabila tidak ada kesadaran diri, tidak ada yang berbeda dari lingkungan sekitar. Orang-orang disini beraktivitas seperti biasa, bahkan mayoritas tidak tahu apa itu puasa.

Populasi muslim di Korea berkisar 0,1%-0,2%, dan itupun kebanyakannya adalah dari orang asing non-Korea.. Mayoritas disini beragama kristen protestan dan bisa didapati gereja di setiap penjuru kota; mungkin setiap beberapa kilometer selalu ada gereja, kecil ataupun besar. Bahkan lebih mudah menemukan gereja di Korea Selatan daripada menemukan mesjid di Indonesia… jadi bisa dibayangkan sendiri seberapa banyaknya.

Selain kristen, yang juga menjadi mayoritas adalah tidak mempunyai agama; terutama anak muda. Tidak mempunyai kepercayaan disini agak sulit untuk benar-benar didefinisikan antara apakah mereka tidak percaya tuhan (atheis), tidak percaya agama (agnotis), atau hanya tidak peduli sama sekali dengan kepercayaan ataupun konsep tentang keberadaan Tuhan; campuran dari ketiganya. Untungnya, tidak mempunyai agama tidak membuat mereka menjadi diskriminatif atau melecehkan. Sebaliknya, mayoritas yang tidak memiliki kepercayaan justru memiliki respek yang cukup tinggi bagi mereka yang memiliki kepercayaan terhadap suatu agama yang kuat. Umumnya mereka cukup menghargai; tetapi mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu apa itu hijab dan mengapa orang memakainya, mereka tidak tahu apa itu mesjid, bahkan ada yang mengira kalau tempat beribadah muslim juga sama-sama di gereja. Pengetahuan mereka terhadap islam umumnya adalah yang menutup rambutnya biasanya karena agama (walaupun tidak tahu untuk apa, seberapa pentingnya, dan kenapa harus menutup rambut) dan biasanya juga tidak bisa memakai suatu jenis makanan – persisnya apa, mereka tidak tahu. Sedangkan sisanya adalah sedikit populasi yang menganut agama buddha.

“South Korea has no majority religious group. Its population includes a plurality of people with no religious affiliation (46%) and significant shares of Christians (29%) and Buddhists (23%)” – PEW Research Center, 2014.

Pembiasaan

Dibandingkan mengeluhkan tentang tambahan beberapa jam durasi puasa, yang lebih terasa berat adalah tidak adanya penuansaan bulan ramadhan sama sekali. Tidak ada iklan-iklan tv mengucapkan selamat berpuasa, tidak ada penjual takjil menjelang magrib, tidak ada dekorasi-dekorasi ramadhan dimanapun. Di saat Indonesia sedang heboh dengan perdebatan antara menghormati yang berpuasa atau menghormati yang tidak berpuasa, disini bahkan mayoritas tidak tahu tentang apa itu ramadhan. Restoran-restoran tetap buka seperti biasanya, tidak ada yang berbeda. Selama membaca argumen beberapa tokoh yang memperjuangkan untuk “Selalu menghormati agama yang lebih mayoritas” , saya sempat berpikir: jika kepercayaan yang mayoritas adalah tidak memiliki agama (karena sepertinya populasinya semakin bertambah mengungguli agama lainnya disini), bagaimana caranya untuk memghormati kepercayaan mayoritas tersebut? Apakah solusinya dengan menyingkirkan tempat-tempat ibadah? Tentu tidak masuk akal. Masalah agama dan toleransi bukan hanya tentang banyak populasi penganutnya ataupun sesimpel mana yang menjadi mayoritas dan menjadi minoritas – lebih dari itu.

Selama beberapa hari pertama puasa di Korea Selatan, saya seringkali melewatkan waktu sahur. Waktu subuh jam 03.15 berarti saya harus sahur sekitar 02.30, dan seringkali saya tidak terbangun. Tidak hanya itu, di awal ramadhan saya masih tinggal di asrama yang tidak memiliki dapur, sehingga saya hanya bisa menggunakan microwave untuk menghangatkan makanan. Awalnya saya kira ini akan sangat riskan, mengingat magrib baru tiba pukul 19.57 (matahari benar-benar baru mulai tenggelam di jam itu: pukul 18.00 masih terang benderang seperti layaknya sore hari di Indonesia) tetapi ternyata bebannya tidak jauh dengan berpuasa di Indonesia. Banyak yang mengkhawatirkan kondisi saya, tapi sungguh baik-baik saja; buka ya pas magrib, berhenti makan ya sebelum subuh. Tidak hanya saya, tetapi kebanyakan teman-teman yang berpuasa disini juga merasa begitu. Kebetulan juga, bulan juni adalah bulan hujan untuk Korea Selatan, sehingga cuaca yang sebelumnya selalu terik dan panas menusuk mulai menjadi lebih adem, mendung dan kadang turun hujan pada beberapa hari awal ramadhan. Mungkin ini berkah ramadhan.

Taraweh Pertama

Saya rindu iklan sirup di TV, pertanda bulan ramadhan datang. Tidak hanya iklan sirup… tapi penuansaan ramadhan pada umumnya. Ramadhan disini sama-sama dimulai pada 18 Juni. Demi mencari penuansaan tersebut, saya dan Kak Anis (FIB 2009) yang sama-sama kuliah di Kyung Hee University sepakat untuk taraweh pertama di Seoul Central Mosqueyang berlokasi di Itaewon. Itaewon sendiri adalah daerah pusat orang-orang asing di Seoul. Populasi muslim terbanyak di Seoul bermukim di daerah Itaewon dan ada banyak restoran-restoran halal (tetapi mahal) disana, juga perusahaan travel haji. Di Seoul Central Mosqueini juga terdapat Korea Muslim Federation yang mengurus aktivitas muslim di Korea Selatan dan ada juga sekolah muslim yaitu Prince Sultan Islamic School


Di Seoul dan sekitarnya, terdapat 3 tempat utama untuk taraweh:

  1. Mesjid di Itaewon dengan banyak pengunjung/pengurusnya dari negara-negara timur tengah, India, negara-negara kulit hitam (maaf penulis tidak hapal negara apa saja) dan melayu.
  2. Musholla Indonesia di Yeongdeungpo. Musholla ini umurnya baru dan terletak sangat dekat dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia yang berlokasi di Yeouido. Walaupun cukup kecil tetapi bisa cukup menampung jemaah jumatan. Pengunjungnya sebagaian besar adalah orang Indonesia (yang bekerja di KBRI)
  3. Mesjid di Ansan. Ansan adalah kota yang hanya 90 menit (menggunakan subway) dari Seoul. Ansan adalah pusatnya TKI-TKI Indonesia berkumpul karena memang banyak pabrik disini. Hampir semuanya adalah orang Indonesia. Saya pernah kesini, dan saat menanyakan tempat wudhu akhwat dengan menggunakan bahasa Inggris (karena saya tidak bisa membedakan antara orang Indonesia dengan Malaysia), ternyata malah dijawab dengan bahasa Jawa.. (yang sebenarnya juga percuma karena saya tidak mengerti bahasa Jawa)

Menimbang jarak yang harus ditempuh, kami memilih untuk taraweh di Itaewon karena waktu tempuhnya yang paling pendek yaitu sekitar 45 menit dari asrama. Ansan membutuhkan 90 menit sedangkan Yeongdeungpo membutuhkan waktu 60 menit. Maka pergilah kita – dan dipikir-pikir, saya sendiri merasa cukup tersentil dengan apa yang saya lakukan. Ketika mencari mesjid menjadi sangat jauh – harus memakai bis, kereta subway dan jalan kaki – saya ingin taraweh, padahal ketika Indonesia saya belum tentu taraweh ke mesjid yang jaraknya bisa jadi hanya 5-10 menit dari rumah.

Manajemen waktu menjadi tantangan lain lagi dalam melaksanakan shalat taraweh. Tidak hanya waktu adzan magrib yang cukup malam (pukul 19.57), tapi otomatis adzan isya juga. Isya baru dimulai dari jam 21.44 – yang berarti shalat taraweh baru dimulai dari pukul 22.00, padahal biasanya di Indonesia pada jam segitu sudah selesai. Jika shalatnya 11 rakaat maka akan selesai sekitar pukul 22.45, dan lebih lama lagi jika shalatnya 23 rakaat. Belum lagi jarak antara mesjid dengan stasiun kereta subway yang bisa memakan waktu 10 menit sendiri. Subway terakhir beroperasi sekitar pukul 00.30, tetapi saat itu asrama saya memiliki jam malam yaitu pukul 00.00 untuk hari biasa dan pukul 01.00 untuk akhir pekan. Perlu diingat lagi bahwa jarak tempuh antara asrama saya dengan Itaewon adalah kurang lebih 45 menit…

Taraweh pertama saya, saya sampai di asrama pukul 00.15 (saat jam malamnya sedang pukul 01.00). Yang cukup membuat bingung adalah jarak antara buka puasa dengan sahur pukul 02.30. Rasanya baru saja buka puasa, baru saja taraweh, baru saja sampai asrama, tahu-tahu sudah harus sahur lagi.

Tentang Itaewon

Itaewon memang pusat populasi muslim di Seoul, tetapi Itaewon pada umumnya memang merupakan pusat populasi foreigners di Seoul. Foreigners atau orang asing berarti termasuk bule dari negara-negara barat yang suka dengan clubbing dan bar. Ya, Itaewon tidak hanya memiliki mesjid terbesar di Seoul, tapi juga memiliki kawasan terbesar untuk club dan bar. Pusat gay district juga terdapat di Itaewon dan sangat ramai. Itaewon sangat luas; tapi lucunya, di bar dan club ini juga tersebar di sepanjang jalan menuju mesjid. Hati-hati kalau niatnya mau ke mesjid tapi malah mampir-mampir dulu.

Tidak hanya club dan bar. Hanya berjarak tidak sampai 2 kilometer dari mesjid, terdapat hooker hills atau salah satu pusat prostitusi untuk foreigners. Sekali lagi, hati-hati kalau niatnya ke mesjid tapi malah mampir ke tempat yang salah.

To be continued…

One thought on “#CeritaFatiya : Ramadhan di Negeri Ginseng (Part 1)

  1. khalid munawwar puadi

    MasyaAllah, fatiya pengalaman puasa yang telah dipaparkan sangat membuat saya harus banyak bersyukur dan lebih banyak belajar.
    Akan pengalam berpuasa di negri korea selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *