#CeritaNida : Ramadhan di Negeri Dua Nil

#CeritaNida : Ramadhan di Negeri Dua Nil

oleh Nida Rasyidah di Omdurman, Sudan

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum kawan semua,kalian yang berada di tanah air tercinta ataupun kalian yang sedang merantau dibelahan bumi lainnya. Apa kabar? Semoga Allah ta’ala selalu menjaga kita semua dan meridhoi setiap langkah kita dalam menuntut ilmu dan berdakwah di jalanNya.

Perkenalkan, nama saya Nida Rasyidah. Pada dasarnya nama panggilan saya Nida, namun karena efek terlalu banyak nama Nida di lingkungan tempat saya sekolah sampai sekarang,jadilah orang-orang mengenal saya dengan panggilan Nidar. Saya lahir di Jakarta,16 Oktober 1996.

Saya menghabiskan waktu SMA saya,atau bahasa gaulnya mah MA, di Pondok Pesantren Husnul Khotimah. Seperti halnya anak-anak SMA yang sudah sibuk daftar-daftar untuk SNMPTN atau yang lainnya sebelum kelulusan. Saya juga ikut menyibukkan diri dengan daftar beasiswa ke negara yang saya impikan. Namun,takdir tak selalu berjalan mulus sesuai apa yang kita harapkan. Allah berkehendak lain, saya tidak lolos dalam seleksi beasiswa tersebut. Mungkin ada yang kurang dalam ikhtiar saya,dalam do’a saya,atau dalam perilaku saya. Tapi saya yakin,dibalik semua itu Allah punya kehendak lain, yang pastinya lebih indah dari yang saya duga.

Hingga pada akhirnya saya mencoba mendaftar beasiswa ke Sudan dengan jalur KPLN (Komite Pendidikan Luar Negri). Berkas saya lolos di tahap PIP PKS dan alhamdulillah qabul (surat keterangan diterima) saya terdaftar di Universitas Alqur’anul Karim dan saya sangat bersyukur lagi karena saya terdaftar di fakultas Syari’ah jurusan Fiqh dan Ushul,seperti yang saya inginkan dari dulu. Kemudian lancar Medical Check Up, lancar pula rezeki untuk persiapan ke sudan,alhamdulillah saya sangat bersyukur atas segala kemudahan yang Allah berikan.

Setelah seminggu lebih mengikuti bimbingan belajar di KPLN, visa kami keluar dan fix kami,sepuluh calon mahasiswa Sudan dari KPLN akan berangkat pada tanggal 3 Desember 2014.

Tanggal 4 Desember 2014,pukul 01:30 dini hari, kaki kami pun bepijak di negri 2 nil. Dan perjuangan kami pun dimulai…

3 Desember 2014, Bandara Soekarno-Hatta
3 Desember 2014, Bandara Soekarno-Hatta

Bandara Khartoum, 4 Desember 2014

Tak terasa hampir 6 bulan saya berada disini,seminggu mengurusi ijroat (administrasi), langsung menyelesaikan tugas-tugas kuliah semester satu karena kami datang terlambat,kemudian ujian semester,merasakan pergantian musim yang sangat drastis perbedaan suhunya,dan datanglah semester dua,setelah itu ujian semester dua, dan dua hari selesai ujian datanglah bulan yang sangat berkah,bulan yang sangat di nanti oleh kita semua,bulan Ramadahan Mubarok. Ahlan Wa Sahlan yaa Ramadhan…

Ramadhan,1436 H. Ada pengalaman baru ramadhan tahun ini,dan ini berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. ya, ini pertama kalinya saya menunaikan puasa bulan Ramadhan di negri orang,setelah tujuh belas tahun lamanya merasakan Ramadhan dengan sanak keluarga di tanah air.

Saya ingin bercerita sedikit disini,tentang ramadhan di sudan. Di negri ini,jumlah penduduknya adalah 98% beragama muslim . Menjelang Ramadhan pada umumnya seperti di negara kita, orang-orang berbelanja untuk persiapan puasa sebulan kedepan. Dan kemudian melaksanakan shalat tarawih di malam sebelum ramadhan tiba. Hampir seluruh masjid disini melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat dengan 3 witir dan dalam satu tarawih itu kita telah menyelesaikan satu juz. Kalau kita tarawih berjama’ah di masjid sampai akhir ramadhan,maka kita akan menyelesaikan 30juz dalam sebulan di dalam tarawih kita. Masya Allah..

Masjid El-Nilein, Omdurman.

Kami berpuasa di sudan sekitar 14.30 jam, adzan subuh pada pukul 04:52 dan adzan maghrib pada pukul 19:23,Ramadhan disini selalu pada saat musim panas dengan suhu sekitar 40 derajat celcius setiap harinya. Disini kami diliburkan dari berbagai kegiatan,dari kuliah (bagi yang sudah selesai melaksanakan ujian sebelum ramadhan), hingga kajian-kajian. Jadi kami disini di fokuskan untuk beribadah.

Hari-hari pertama puasa yang saya rasakan awalnya mungkin biasa saja sepeti puasa-puasa sebelumya. Namun,ternyata ada pemandangan yang menarik dan mungkin jarang atau malah tidak ada di Indonesia. Disini,orang-orang berlomba untuk memberikan ta’jil untuk berbuka,bukan karna mereka kaya. Malahan disini adalah negri yang di embargo. Mereka berlomba untuk memberi makan untuk yang bebuka karena mereka lebih mengetahui keutamaan bulan yang suci ini.
Kemudian ada juga hal yang menarik saat ramadhan di Sudan ini, ketika adzan magrib berkumandang, semua pekerjaan di tinggalkan, warung-warung sepi, penjualpun sudah tidak ada di tempatnya. Terutama para laki-laki,mereka selalu menggelar tikar di pinggir jalan menjelang adzan mengajak tetangga-tetangga mereka,membawa makanan ringan seperti kurma,berbagai macam minuman seperti jus lemon,karkade (rosela), dan makanan berat.

Dan mereka akan mengajak orang yang berlalu di dekat mereka untuk buka puasa bersama,walaupun mereka tidak kenal siapa yang mereka ajak.
Saya dan teman-teman pernah mengalami kejadian tersebut. Kemarin saat perjalan menuju kantor sekretariat PPI (Persatuan Pelajar Indonesia)untuk menghadiri acara bukber, kami mampir sebentar ke rumah ummahat(mahasiswi yang sudah berkeluarga) untuk menjenguk beliau yang baru melahirkan anak ke tiganya di awal Ramadhan. Dan kami pamit pergi menjelang adzan magrib,ketika adzan magrib berkumandang kami masih di perjalanan. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli minum di warung terdekat,dan di depan warung itu ada sekumpulan bapak-bapak yang sedang duduk menikmati makanan berbuka mereka. Setelah kami membeli minum,kami ditawarkan untuk makan bersama oleh sang penjaga warung tersebut. Tetapi kami menolak karena mengingat tempat yang kami tuju masih sedikit jauh jaraknya,dan akhirnya sang penjaga warung itu membawakan kami beberapa gelas jus lemon,alhamdulillah…
setelah kami berjalan beberapa langkah, ada lagi sekumpulan bapak-bapak yang menawarkan kami makanan bebuka.

Subhanallah, begitu banyak hikmah yang tersampaikan lewat amal sholeh mereka.
Dan alhamdulillah, hari ini tepatnya Senin, 22 Juni 2015. Asrama tempat saya tinggal,mengadakan ifthor jama’i bekerja sama dengan perusahaan provider seluler Zain. Saya akan jelaskan sedikit tentang makanan yang asing ini,di atas meja ini ada roti,karena roti adalah makanan utama orang sudan, ada ‘ashir (jus)jeruk,karkade,dan donggoles (pohonnya bernama baobab), ada basthoh(kue manis), tho’miyah(sejenis gorengan,dari jauh terlihat seperti nugget,tapi ketika di makan rasa kacang),ada ful (sejenis makanan dari kacang),ada kabkabe(bentuknya seperti jagung,tapi itu jenis kacang-kacangan),ada balah(kurma kering),adaasidah(bentuknya seperti agar-agar,terbuat dari tepung shourgoum,dan rasanya seperti tahu, dimakan dengan bumbu campuran daging giling,bawang,dan pasta tomat),ada salad,ada syayyah(iga bakar),dan sejenis ayam gulai. Karena kami terbiasa makan nasi,ayam dan iga bakarnya kami bawa ke kamar untuk dimakan dengan nasi.. yaa walaupun sudah di luar negri,perut kami masih bergantung dengan nasi.

2 thoughts on “#CeritaNida : Ramadhan di Negeri Dua Nil

  1. warga cibodas

    doa dari tanah cibodas :
    alhamdulillah. Kak Nida smg selalu sehat dsana…

    selalu sehat & sukses buat kak nida..

    Baarokallaah kak nida

    Nice story, it’s inspired me to continue my doctoral degree abroad. Wish some days it comes true.
    Barokallahu laki ammu nida

  2. Najib Aulia Rahman

    salam

    kak mau nanya,untuk prosedur pendaftaran lewat kpln bagaimna ya? dan ada kontak atau alamat yang bisa dihubungi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *