Press Release: Mentoring Ekonomi Syariah (MES)

Press Release: Mentoring Ekonomi Syariah (MES)

23 Maret 2016 – Mentoring Ekonomi Syariah (MES) hadir kembali dan ini merupakan MES perdana di tahun 2016. MES yang merupakan program kerja sekaligus program dakwah hasil kerjasama antara SHINE (Study and Research of Islamic Economics) FSI FEB UI dengan Departemen Pendidikan dan Kajian IBEC (Islamic Business and Economics Community) mengusung tema “Meninjau Potensi dan Persaingan Industri Halal dalam Negeri di Era Pasar Bebas ASEAN (MEA)” yang dipandu oleh seorang moderator yang merupakan Ketua Angkatan Ilmu Ekonomi Islam 2013 sekaligus pemenang beasiswa Rumah Kepemimpinan, Izzudin Al Farras. Acara ini berlangsung selama 3 jam yang dibagi menjadi 2 sesi yang tiap sesinya diisi oleh 2 pembicara yang ahli dalam bidangnya dan 1 sesi untuk tanya jawab. Ibu Hj. Kathyjah selaku Kepala Bidang Target Pasar Kementerian Pariwisata RI dan Pak Wahyu Awaluddin selaku Tim Digital Strategis Afrakids merupakan pemateri pada sesi 1, sedangkan pada sesi 2 adalah Pak Putra Fajar selaku Founder dan CEO Ummar (Ummah Market), dan Pak Fithra Faisal Hastiadi selaku Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Acara dibuka oleh Dendy selaku MC yang dilanjutkan dengan tilawah yang dibawakan oleh Rodli. Kemudian sepatah dua patah kata sambutan dari Ketua Umum FSI FEB UI 2016.

Pada sesi 1, pembicara yang pertama adalah Ibu Khatyjah selaku Kepala Bidang Target Pasar Kementerian Pariwisata RI yang memaparkan tentang Strategi Pemasaran Pariwisata Halal Nusantara yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata, yang mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Latar belakang mengapa Wisata Halal dibutuhkan

Masih banyak potensi wisatawan muslim yang belum digarap secara serius dan dewasa ini kebutuhan dan permintaan akan Musholla dan fasilitas lain yang halal meningkat. Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tetapi kalah dengan negara-negara lain karena banyak yang sudah menggarap wisata halal secara serius.

  1. Tujuan Kemenpar RI mengembangkan wisata halal

Agar dapat menggarap potensi wisatawan mancanegara muslim serta agar produk-produk wisata yang sesuai dengan karakter wisatawan muslim dan umum dapat berkembang.

  1. Target Kemenpar RI pada tahun 2016 terkait wisata halal
  2. Konsep Traveller Character

Tempat yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk melakukan ibadah, seperti musholla dan menyediakan layanan untuk yang berpuasa.

  1. Destinasi Wisata Halal

Pada tahun 2015 Lombok dinobatkan sebagai destinasi wisata halal dan Kemenpar berharap Lombok dapat mempertahankan hal ini dan juga meningkatkan fasilitas dan pelayanannya terkait wisata halal. Sedangkan, pada tahun 2016 Kemenpar menargetkan untuk mempromosikan beberapa daerah sebagai destinasi halal, seperti Pulau Jawa, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, dan lain-lain.

  1. Pengembangan Wisata Halal

Ada 2 pokok pengembangan yang dilakukan oleh Kemenpar, yaitu pengembangan melalui promosi pemasaran dan pengembangan destinasi

Karena keterbatasan waktu yang disebabkan Ibu Khatyjah memiliki tanggung jawab lain, maka Ibu Khatyjah mengundurkan diri dan memberikan narahubung bagi yang ingin melontarkan pertanyaan. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian sertifikat.

Pembicara kedua pada sesi 1 ini adalah Bapak Wahyu Awaluddin selaku Tim Digital Digital Strategis Afrakids. Afrakids ini berdiri pada taun 2014 dan dalam waktu 2 tahun telah memiliki 800 agen dan 10.000 reseller yang tersebar di beberapa negara. Afrakids sudah memiliki sebuah pabrik yang terletak di Bandung dan 4 kantor pusat. Bapak Wahyu mengatakan bahwa kunci kesuksesan Afrakids adalah dengan lebih mementingkan kondisi internal afrakids itu sendiri dibandingkan dengan apa yang terjadi di luar organisasinya. Pak Wahyu memaparkan kunci Afrakids menghadapi MEA, yaitu sebagai berikut:

  • Keunikan

Berbeda dengan bidang pekerjaan yang lain, Afrakids memiliki keunikan yaitu dengan mengajarkan anak-anak tentang Islam melalui kaos.

  • Komunitas

Membuat komunitas yang menghargai nilai-nilai yang dibawa oleh organisasi merupakan kunci kesuksesan Afrakids. Karena sebuah bisnis yang memegang nilai akan menjadi bisnis yang dipercaya

Pak Wahyu juga memutarkan 2 video yang menceritakan tentang kesuksesan dari Afrakids ini sebagai motivasi untuk para audiens agar bisa lebih maju dan sukses seperti Afrakids. 1 video menceritakan kisah singkat salah satu reseller Afrakids. Di video itu kita diajarkan agar sukses kita harus selalu sabar, ikhlas, bersyukur, dan menikmati segala prosesnya dan juga jangan lupa untuk membayar zakat, sedekah, infak, dsb. karena di setiap uang yang kita dapat melalui bisnis atau pekerjaan lainnya terdapat bagian untuk mereka yang membutuhkan. Video yang kedua adalah tentang konsep “Spiritual Social Entrepreneurship Community” yang merupakan pegangan bagi Afrakids selama ini. Bisnis yang dibangun Afrakids bukanlah semata-mata untuk mencari profit, melainkan harus dikembangkan agar dapat memberikan manfaat untuk orang lain.

Di akhir pemaparan materinya, Pak Wahyu memberikan motivasi kepada para audiens: “jangan minta Allah SWT untuk meringankan beban kita, melainkan mintalah Allah SWT untuk menguatkan pundak kita. Kunci dari kesuksesan adalah kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.” Kemudia MC mengambil alih sekaligus menutup sesi 1.

Sesi kedua dimulai dengan dibuka oleh MC dan dengan moderator yang sama, yaitu Izzudin Al Farras. Pembicara pertama adalah Bapak Putra Fajar pendiri sekaligus CEO dari Ummah Market (Ummar). Beliau memaparkan fakta bahwa hingga sekarang Indonesia belum masuk “Top 5 Producers in Islamic Market” padahal Indonesia merupakan negara dengan populasi Islam terbesar di dunia. Menurutnya, Muslim memiliki kebutuhan yang komples, bukan hanya persoalan halal. Inilah yang menggerakan beliau untuk membuat aplikasi Ummar, yang memiliki semboyan “Developing, Connecting, Growing”. Fungsi utama aplikasi ini adalah sebagai business locator yang mana targetnya adalah pebisnis-pebisnis Muslim yang kemudian menghimpun untuk melakukan bisnis yang berkah. Beliau mengatakan bahwa sekarang ini yang memproduksi produk halal adalah non-muslim, maka dari itu potensi yang dimiliki masyarakat Indonesia harus dikembangkan agar industri halal dan bisnis halal menjadi tuan rumah negara ini. Demikianlah pemaparan yang disampaikan oleh Pendiri Ummah Market.

Sesi 2 dilanjutkan dengan pembicara yang kedua yaitu Bapak Fithra Faisal Hastiadi selaku Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Beliau memberikan fakta bahwa pada tahun 2012, total konsumsi rata-rata makanan halal di dunia adalah $1,67 triliun yang mana 63% berada di Asia. Menurut Asosiasi Hotel Syariah di Indonesia, Indonesia masih sangat tertinggal jauh dengan Malaysia yang mana Malaysia telah memiliki 2000 restoran halal dan 366 hotel yang bersertifikat syariah, sedangkan Indonesia hanya 25 hotel syariah dan 310 restoran halal. Thailand juga sudah mulai melakukan pergerakan dalam industri halal. Pemerintahnya memberikan subsidi bagi restorannya di seluruh dunia dan menetapkan standar tertentu. Thailand menetapkan standar sebagaimana pandangan dunia terhadap makanan, ada hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup, sedangkan Indonesia masih mengimpor produk-produk halal dan belum ada standar yang menyeluruh bagi restoran-restoran di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di pulau-pulai wisata seperti Bali mencapai 10% dan dapat dikatakan dua kali lipat dari pertumbuhan nasional, ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. Oleh karena itu, perkembangan industri halal dan wisata halal harus mendapatkan fokus dan perhatian yang lebih.

Sesi 2 telah berakhir dan Mentoring Ekonomi Syariah diakhiri dengan sesi tanya jawab dari para audiens hingga ditutup oleh moderator pada 17.08 waktu setempat. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada ketiga pembicara dan moderator oleh Iqbal selaku Ketua Umum IBEC FEB UI 2016 dan Agung selaku Ketua Umum FSI FEB UI 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *