Perbudakan Halal dalam Islam?

Perbudakan Halal dalam Islam?

Oleh: Fajar Nur Hakiki Ginting (kastrad.fsifebui@gmail.com)

Staff Departemen Kajian Strategis Dakwah FSI FEB UI 2016

 

Jika Islam datang tanpa membawa rahmat pada setiap ajarannya maka kemana frase ‘rahmat bagi seluruh alam’ harus dialamatkan?

 

Perbudakan saat ini menjadi sesuatu yang sudah sangat jauh ditinggalkan. Secara umum semua orang setuju bahwa manusia tidak pantas memperbudak manusia lain. Di tengah-tengah “kesepakatan masyarakat” atau ijma’ tersebut, muncul suara-suara yang memperdengarkan bahwa Islam memperbolehkan perbudakan yang berlawanan dengan ijma’ tadi. Benarkah bahwa Islam memperbolehkan perbudakan?

Dalam Islam memang ada syari’at yang mengatur jalannya perbudakan, namun satu hal perlu diketahui. Pada masa turunnya syariat Islam yang mengatur tentang perbudakan, sistem ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah tidak hanya di masyarakat Arab, tetapi juga seluruh dunia, termasuk Romawi, Yunani, Persia dan bangsa-bangsa lainnya.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri hafizhahullah berkata, “Perbudakan sudah dikenal manusia sejak beribu-ribu tahun lalu, dan telah dijumpai di kalangan bangsa-bangsa kuno seperti Mesir, Cina, India, Yunani, dan Romawi, dan juga disebutkan dalam kitab-kitab samawi seperti Taurat dan Injil.” [Minhajul Muslim hal.443, Darul Bayan, Beirut, cet. I, 1427 H].

 

Adalah hal yang aneh ketika Islam memperbolehkan perbudakan disoroti secara khusus, padahal bukan hanya Islam yang memperbolehkan perbudakan. Ada juga suara-suara yang muncul mempertanyakan masihkah syari’at itu berlaku pada zaman sekarang ketika sudah tidak ada lagi perbudakan yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ketahuilah bahwa ketika Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, maka sudah sempurnalah agama ini, sebagaimana tertera dalam surat Al-Maidah ayat 3 bahwa tidak perlu lagi ada penambahan dalam agama ini, tidak pula pengurangan. Apa yang ada di dalam syari’at tidak ada yang perlu diubah. Apabila perbudakan saat ini sudah tidak ada, bukan berarti kita akan menghapus syari’at yang mengaturnya. Seandainya di masa depan muncul kembali perbudakan yang legal, syari’at selalu siap untuk mengaturnya dengan adil sehingga tidak ada alasan untuk menghapusnya. Sebagaimana jika khamr itu sudah tidak ada di muka bumi ini, bukan berarti larangan untuk meminumnya dihapus.

 

Hal yang cukup penting untuk diperhatikan adalah Islam tidak menganjurkan untuk mengadakan perbudakaan dan tidak pula memerintahkan untuk memilikinya. Islam datang memperbolehkan perbudakan dalam artian mengatur perbudakan dan memberikan banyak hikmah di baliknya. Ketika kita bicara tentang perbudakan, kebanyakan dari kita akan langsung mengaitkannya dengan perbudakan yang melegalkan untuk menyiksa dan memperlakukan budak semena-mena. Padahal, tidaklah demikian perbudakan dalam Islam. Berikut bagaimana Islam mengatur perbudakan:

  1. Mempersempit jalan menjadi budak

Dahulu banyak cara yang dilakukan sehingga seseorang dijadikan budak; menjadi seorang tawanan perang, diculik kemudian dijual, maupun karena kefakiran dengan cara menjual anak untuk menjadi seorang budak. Akan tetapi Islam mengatur agar manusia hanya dapat menjadi seorang budak dengan satu cara, yaitu menjadi tawanan perang.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ali Bassam rahimahullah berkata, “Islam menyatakan bahwa seluruh manusia adalah merdeka dan tidak bisa menjadi budak, kecuali dengan satu sebab saja, yaitu orang kafir yang menjadi tawanan dalam pertempuran. Panglima perang memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan yang tepat terhadap para tawanan. Bisa dijadikan budak, meminta tebusan, atau melepaskan mereka tanpa tebusan. Itu semua dipilih dengan tetap melihat kemaslahatan umum.

 

Inilah satu-satunya sebab perbudakan dalam Islam berdasarkan dalil naqli­ –ayat dan hadits- yang shahih yang sesuai dengan dalil aqli –akal- yang shahih. Sesungguhnya orang yang berdiri menghalangi aqidah dan jalan dakwah, ingin mengikat dan membatasi kemerdekaan serta ingin memerangi, maka balasan yang tepat ialah ia harus ditahan dan dijadikan budak supaya memperluas jalannya dakwah. “Inilah satu-satunya sebab perbudakan dalam Islam, bukan dengan cara perampasan manusia ataupun menjual orang merdeka dan memperbudak mereka sebagaimana umat yang lain”. [Taisir Allam Syarah Umdatul Ahkam hal. 562, cet. II, Darul Kutubil ‘Ilmiyah]

 

Berdasarkan keterangan di atas, hanya orang kafir dan yang menjadi tawanan peranglah yang menjadi satu-satunya sebab manusia menjadi seorang budak. Seorang tawanan pun tidak langsung dihukumi menjadi seorang budak, melainkan terdapat juga opsi lain yang dapat dipilih, tergantung opsi mana yang paling membawa kemaslahatan umat.

Salah satu hikmah dari diperbolehkannya tawanan perang sebagai budak adalah terbukanya bagi mereka jalan untuk menerima hidayah. Mereka yang menjadi budak bagi seorang muslim akan tinggal di rumah muslim yang dengan demikian terbuka baginya jalan untuk mempelajari Islam dan semakin besar kemungkinan dirinya untuk memeluk Islam, sebagaimana Zaid bin Haritsah yang akhirnya memeluk Islam setelah memerhatikan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika ia menjadi budak beliau.

 

  1. Diangkat derajatnya dan bersikap baik padanya

 

Budak tidaklah direndahkan oleh Islam, melainkan diangkat derajatnya dari manusia yang dianggap rendah menjadi seseorang yang dianggap setara sebagai manusia yang haknya diperhatikan seutuhnya. Hendaklah kita menganggap mereka sebagai saudara dan memberikan mereka makanan yang kita makan dan pakaian yang kita pakai. Tidak hanya itu, hendaklah kita tidak memberikan mereka pekerjaan yang terlalu berat, kecuali kita membantu mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barang siapa yang memiliki saudara di bawah kekuasanaannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang dia makan dan pakaian seperti yang dia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka.” [H.R. Bukhari I/16, II/123-124]

“Bertaqwalah kalian kepada Allah dan perhatikanlah budak-budak yang kalian miliki.” [Shahihul Jami’ No. 106, Al-Irwa’ No. 2178]

 

Jelaslah dari keterangan di atas bahwa dalam Islam, seorang majikan tidak dibenarkan untuk bersikap buruk kepada budaknya. Hal ini karena Allah lah yang menetapkan mereka sebagai budak bagi si majikan, tidak memperkenankan mereka diperlakukan dengan jahat. Lebih dari itu, Islam tidak membenarkan untuk menghina budak. “Janganlah salah seorang diantara kalian mengatakan: Hai hamba laki-lakiku, hai hamba perempuanku, akan tetapi katakanlah: Hai pemudaku (laki-laki), hai pemudiku (perempuan).” [HR. Bukhari No.2552 dan Muslim No.2449]

Dalam sirah nabawiyah pun diceritakan kisah orang yang diperlakukan dengan sangat baik sebagai budak. Zaid bin Haritsah yang menjadi budak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperlakukan dengan amat baik, hingga ketika Zaid bin Haritsah yang bertemu kembali dengan ayahnya setelah sekian lama berpisah selama ia menjadi seorang budak, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan untuk kembali bersama ayahnya atau tetap bersama beliau. Zaid bin Haritsah lebih memilih bersama dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam salah satunya karena beliau memperlakukan ia dengan sangat baik. Seseorang yang menjadi budak pun tidaklah membuat perbedaan dengan majikannya dalam kesempatan meraih ridho-Nya. “…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa…” (QS. Hujurat (49): 13)

 

  1. Diberikan pahala dua kali lipat sebagai ganjaran atas kesabaran mereka

 

Allah Subhanahu wa ta‘ala memberikan kelebihan berupa pahala dua kali lipat untuk setiap kebaikan yang dilakukan oleh mereka yang menerima takdir sebagai budak dengan sabar. Dengan demikian, jika terdapat dua orang, budak dan bukan budak, melakukan amalan yang sama, maka sang budak akan mendapat dua kali lipat dari orang biasa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga kelompok yang diberikan pahala dua kali: Laki-laki ahli Kitab yang beriman kepada Nabinya lalu berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia beriman kepada beliau, mengikutinya dan membenarkannya, maka dia memperoleh dua pahala. Seorang budak yang melaksanakan hak Allah dan tuannya, maka dia memperoleh dua pahala. Dan seorang laki-laki yang memiliki budak wanita, lalu ia memberi makanan, pendidikan, dan pelajaran yang baik, kemudian dia membebaskan dan menikahinya, maka dia memperoleh dua pahala.” [HR. Bukhari No. 2518. Muslim No. 1509]

 

Bahkan karena keutamaan ini, Abu Hurairah mengatakan, “Bagi hamba sahaya mendapat dua pahala. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalaulah bukan karena jihad di jalan Allah, haji dan bakti kepada ibuku, sungguh aku menginginkan mati dalam keadaan menjadi budak.” [HR. Muslim, Idraj/sisipan dari Abu Hurairah]

 

  1. Islam mendorong bebasnya seorang budak

 

Banyak sekali sebab dalam Islam yang mengakibatkan bebasnya seorang budak. Islam sangat mendorong pengikutnya untuk memerdekakan budak dengan menyiapkan balasan yang besar bagi mereka yang melakukannya.

Barang siapa memerdekakan budak yang muslim niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota badannya dengan sebab anggota badan budak tersebut, sehingga kemaluan dengan kemaluannya.” [HR. Bukhari, Fathul Bari V/146 dan Muslim no. 1509]

Siapa saja seorang muslim yang membebaskan seorang budak yang muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka.” [HR. Tirmidzi, Imam al-Mundziri berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan beliau mengatakan hadits ini hasan shahih (no.1547)]

 

Selain mendorong majikan membebaskan budak dengan sukarela karena Allah, ada beberapa keadaan yang mengharuskan majikan membebaskan budaknya:

  1. Apabila majikan melukai sang budak, maka budak tersebut langsung bebas dari majikannya tersebut. Dalam sebuah hadits diceritakan seorang tuan yang memotong hidung budaknya, maka Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallambersabda kepada sang budak, “Pergilah engkau karena sekarang engkau orang yang merdeka, maka budak itu berkata: “Ya Rasulullah saya ini maula (budak) siapa?” Beliau menjawab: ”Maula Allah dan RasulNya”[Hasan, HR. Ahmad II/182, Abu Daud No. 4519, Ibnu Majah No. 2680, Ahmad II/225]
  2. Apabila ada seorang budak yang dimiliki bersama dan salah satu majikannya memerdekakannya, maka dia harus melepaskan bagian dari pemilik lain secara paksa. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, “Barangsiapa membebaskan bagiannya dari seorang budak maka dia wajib membebaskan seluruhnya.” [HR. Bukhari No. 2503]
  3. Jika budak yang dimiliki masih merupakan kerabat dari sang majikan, maka majikan itu harus memerdekakan budak tersebut. “Barangsiapa memiliki budak dari kerabatnya bahkan mahromnya maka budak itu merdeka.”[HR. Abu Daud No. 3949, Irwa’ul Ghalil No.1746, Shahih Sunan Abu Daud No.3342]

 

 

Sebab lain seorang budak merdeka diantaranya:

  • Dengan “at-tabdir”/budak mudabbar, Syaikh Abdul ‘Azhim Badawi hafizhohullahmenjelaskan, “Tabdir adalah pembebasan seorang budak yang disandarkan pada kematian tuannya. Seperti perkataan pemilik budak kepada budaknya, “Jika aku meninggal, maka engkau bebas sepeninggalku”. Jika sang tuan meninggal, maka ia bebas apabila budak itu tidak lebih dari sepertiga harta tuan.” [Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil Aziz hal. 398, cet. III, Dar Ibnu Rajab]
  • Ummu Walad, budak wanita yang melahirkan anak tuannya merdeka setelah tuannya meninggal. Dari Ibnu Abbas secara marfu’, “Budak wanita manapun yang melahirkan anak tuannya maka ia bebas setelah kematian tuannya.”[HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Hakim dan didhaifkan oleh Al-Albani]

 

Inilah salah satu hikmah dari dibolehkannya mencampuri budak wanita, yaitu bertambah satu lagi jalan bagi mereka untuk merdeka ketika tuannya meninggal. Dalam keterangan lain, tidak dibenarkan untuk menjual, menghibahkan, dan mewariskannya sehingga tidaklah budak wanita tersebut kehilangan kesempatan untuk bebas ketika dia dipindahtangankan.

  • Sebab lain seorang budak dapat merdeka adalah Islam menjadikan kafarat(tebusan) dalam beberapa hukum dengan membebaskan budak. Salah satu contohnya adalah ketika budak tersebut dilukai oleh majikannya, maka sang majikan haruslah memerdekakan budaknya tersebut seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Contoh kafarat lain yang berhubungan dengan budak adalah:

 

“Dan bagi orang yang beriman, tidak patut membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Siapa yang membunuh orang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (yang terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga yang terbunuh) membebaskan pembayaran. Jika dia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang yang beriman, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Siapa yang tidak mendapatkan (hamba sahaya), maka hendaklah dia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai taubat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengatahui, Mahabijaksana.” [QS. An-Nisa (4): 92]

“…tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafaratnya ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan seorang hamba sahaya…” [QS. Al-Maidah (5): 89]

 

Keterangan-keterangan di atas memperkuat gambaran bagaimana Islam sangat membuka peluang bagi para budak untuk merdeka. Selain itu, para budak juga dapat menebus dirinya kepada tuannya dengan mengadakan perjanjian dan membayar kepada tuannya yang disebut mukatabah. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Mukatabah adalah seorang budak menebus/membayar dirinya kepada tuannya dengan uang cicilan, dua cicilan, atau lebih” [Manhajus Salikin Wa Taudihil Fiqh Fid Din hal. 189, cet.I, Darul Wathan]

 

Dalam al-Qur’an disebutkan anjuran untuk menerima permintaan perjanjian dari sang budak.

“…dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu membuat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka…” [QS. An-Nur (24): 33]

 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ayat tersebut hanyalah sebuah anjuran untuk menerima permintaan penebusan dari si budak. Akan tetapi sebagian besar ulama mengatakan bahwa menerima permintaan sang budak adalah sebuah keharusan dengan berbagai dalil yang menyertai pendapat mereka dalam tafsir ayat ini. Kemudian bagi budak yang sudah mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk pembebasan dirinya, Islam pun membantu mereka dalam upaya mereka menebus dirinya.

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakan hatinya (muallaf),untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana” [QS. At-Taubah (9): 60]

 

  1. Bolehnya mencampuri budak wanita

Mencampuri budak wanita pada zaman maraknya perbudakan dahulu selazim adanya perbudakan itu sendiri. Bukanlah sesuatu yang khusus diadakan oleh Islam sebagaimana bukan Islam lah yang mengadakan perbudakan. Ketika turun syari’at yang mengatur perbudakan, Islam tidak menghapusnya, melainkan mengatur dan memberi hikmah yang baik.

Budak wanita manapun yang melahirkan anak tuannya maka ia bebas setelah kematian tuannya.” [HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Hakim dan didhaifkan oleh Al-Albani]

Yang boleh dicampuri adalah budak wanita saja, sedangkan untuk budak pria tidak diperkenankan untuk dicampuri. Dalam satu kisah ada seorang wanita yang mengambil budak prianya sebagai kekasih, kemudian wanita itu dibawa kepada khalifah Umar bin Khattab dan keduanya diberikan hukuman atas perbuatan mereka. Kemudian dalam surat An-Nisa ayat 24 dijelaskan tentang bolehnya menikahi budak wanita,

“Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu…”

Akan tetapi, tidaklah budak-budak ini langsung dinikahi begitu saja. Dalam surat Al-Mumtahanah dijelaskan mengenai pernikahan dengan wanita-wanita yang berhijrah.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila perempuan-perempuan Mukmin datang berhijrah kepadamu, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir (suami-suami) mereka. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka. Dan berikanlah mereka mahar yang telah mereka berikan. Dan tidak ada dosa bagimu menikahi mereka apabila kamu bayarkan kepada mereka mahar mereka. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta kembali mahar yang telah kamu berikan; dan (jika suami mereka tetap kafir) biarkan mereka meminta kembali mahar yang telah mereka bayarkan (kepada mantan istrinya yang telah beriman). Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” [Al-Mumtahanah (60): 10]

 

Demikianlah secara garis besar bagaimana Islam mengatur perbudakan. Betapa bijaksananya Islam mengatur perbudakan; disempitkannya jalan menjadi budak, diberikannya pahala yang berlipat atas kesabaran mereka, banyaknya jalan bagi mereka untuk merdeka, dengan segala hikmah yang terkandung di dalamnya. Semoga rangkuman ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Allahu a’lam bishawab

Referensi:

http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-nisa-ayat-24.html

http://www.ibnukatsironline.com/2015/07/tafsir-surat-nur-ayat-32-34.html

http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-al-mumtahanah-ayat-10-11.html

https://almanhaj.or.id/3062-sikap-islam-terhadap-perbudakan.html

https://www.alsofwah.or.id/cetakkajian.php?id=2041&idjudul=1

https://muslim.or.id/587-kebanyakan-manusia-tidak-berilmu.html

https://muslim.or.id/8903-islam-kejam-membolehkan-perbudakan.html

 

Lihat juga:

https://www.youtube.com/watch?v=Ck7k4egBuAo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *