Perbedaan Status Sosial, Bagaimana Menghadapinya?

Perbedaan Status Sosial, Bagaimana Menghadapinya?

Suatu ketika, serombongan bangsawan yang baru masuk islam datang ke majelis Rasulullah SAW, pada majelis ini Rasulullah SAW duduk dan berkumpul bersama para sahabatnya yakni Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal, Suhayb Khabab bin Al-Arat dimana mayoritas sahabatnya adalah mantan budak dan tergolong kurang mampu. Pakaian yang mereka pakai sungguh lusuh dan hanya berupa jubah bulu yang kasar. Meskipun begitu, mereka tetap sahabat Rasulullah SAW yang merintis perjuangan Islam bersama.
Ketika mereka melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya.
Mereka berkata kepada Nabi,
“Kami mengusulkan kepada Anda agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”
Salah satu dari mereka, yakni Uyainah bin Hishn menegaskan lagi,
“Bau Salman al-Farisi mengangguku (Ia menyindir bau jubah bulu yang dipakainya). Buatlah majelis khusus bagi kami sehingga kami tidak berkumpul bersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”
Seketika malaikat jibril turun dan menyampaikan surat al-An’am ayat 52 :
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
Rasullulah SAW kemudian segera menyuruh kamu fukara untuk duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. “Salam ‘Alaikum,” kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy.
Setelah itu, turun lagi surat al-Kahfi [18] ayat 28:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
Sejak itu, apabila kaum fukara ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat tersebut sebelum orang-orang miskin itu pergi. Dan apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok mereka (kaum fakir).
Seringkali Rasulullah SAW berkata, “Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fukara muslim dengan cahaya paripurna pada hari kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa amalnya.”
Kemudian dalam kesempatan lain, pernah didapati bahwa Rasulullah SAW bertemu dengan seorang sahabat yakni Sa’ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya melepuh akibat kerja keras yang dilakukannya.
Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?”
Sa’ad menjawab, “Tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku.”
Rasulullah SAW yang mulia kemudian berkata, “Ini tangan yang dicintai Allah,” seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu.
Melalui kisah diatas, penulis ingin mengajak pembaca sekalian untuk sesaat bercermin dan mengintospeksi diri kita masing-masing. Melihat bagaimana Rasulullah SAW, suri tauladan kita memerlakukan kalangan mengengah kebawah dengan sangat mulia. Bayangkan saja, Rasulullah SAW yang merupakan orang terpandang dan dihormati bahkan sangat memuliakan kaum fukara dan memilih untuk duduk di tengah-tengah mereka. Rasulullah SAW juga yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, saat itu mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh milik Sa’ad al-Anshari.
Pesan tersebut yang tentunya hendak disampaikan oleh Rasulullah SAW untuk tidak membeda-bedakan manusia ke dalam beberapa kategori baik harta, tingkat pendidikan, pangkat, jabatan, dan lainnya. Karena pada hakikatnya, kita manusia, semuanya sama di hadapan Allah SWT. Dan sudah barang tentu, kita sebagai umat Rasulullah SAW untuk menjadikan perilaku-perilaku beliau sebagai contoh teladan (uswatun hasanah). Untuk menguatkan bahwa Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial, mari kita buka Al-Qur’an sebagai rujukan utama kita :
1. Surat al-Balad [90] ayat 10 -18
Ayat ini menjelaskan bahwa ada dua jalan yang bisa kita pakai dalam memanfaatkan harta kita. Al-Qur’an menyarankan kita untuk mengambil jalan yang sukar dan mendaki, yaitu memerdekakan budak atau memberi makan pada anak yatim atau orang miskin. Allah tidak menjelaskan tentang jalan yang mudah, melainkan memberi contoh jalan yang sukar.
Mengapa disebut jalan yang sukar? karena kebanyakan manusia enggan atau merasa berat atau merasa sukar untuk melakukannya. Bila kita mampu mengalahkan rasa berat dan rasa sukar pada diri kita dalam beramal, maka Allah menjanjikan kita termasuk golongan yang kanan; ahli surga.
2. Surat al-Ma’arij [70] ayat 19-25
Ayat ini menerangkan secara tegas bahwa keluh kesah dan kikir itu telah menjadi sifat bawaan manusia sejak ia diciptakan. Allah melukiskan sifat manusia dengan sangat baik. Bagi saya pribadi, ayat di atas telah menelanjangi sifat kita. Bukankah kalau kita tidak memiliki harta kita sering berkeluh kesah, sebaliknya, kalau memiliki banyak harta kita cenderung untuk kikir. Lalu bagaimana caranya agar sifat bawaan (keluh kesah & kikir) kita tersebut tidak menjelma atau dapat kita padamkan.
Allah menyebutkan, paling tidak ada dua jalan. Pertama, mengerjakan sholat secara berkelanjutan. Kedua, menyadari bahwa dalam harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk fakir miskin. Dua resep ini Insha-Allah mampu memadamkan sifat keluh kesah dan sifat kikir yang kita miliki.
3. Surat al-Qalam [68] ayat 17-33
Sekelompok ayat ini menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi sebelum masa Rasulullah SAW. Kisah pemilik kebun di atas melukiskan dengan sangat baik betapa harta manusia itu tak ada artinya dibandingkan kekuasaan Allah SWT. Kebun yang sudah sekian lama diurus dan tinggal sekejap mata saja untuk dipetik hasilnya menjadi musnah terbakar. Apa kesalahan pemilik kebun tersebut sehingga mendapat azab sedemikian rupa?
Pertama, mereka lupa bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu. Ini dilukiskan dalamayat di atas ketika mereka tidak menyebut insya Allah; mereka merasa pasti akan meraih hasil yang luar biasa. Mereka lupa bahwa sedetik kedepan kita tak tahu apa yang terjadi dengan hidup kita. Kita tak tahu “skenario” Allah terhadap diri kita. Kedua, mereka bersifat kikir. Mereka sudah bersiap-siap agar orang miskin tak bisa masuk ke kebun mereka saat panen tiba. Allah murka pada mereka. Allah turunkan azab-Nya pada mereka. Di akhir ayat Allah mengingatkan bahwa azab yang Allah timpakan pada pemilik kebun hanyalah azab dunia; sedangkan azab di akhirat tentu saja akan jauh lebih besar lagi.
Melalui penjabaran kisah dan ayat-ayat diatas, tentu saja penulis lagi-lagi mengingatkan kepada pembaca sekalian untuk sesegera mungkin kembali mengintrospeksi diri sendiri, apakah kita termasuk kedalam golongan-golongan yang telah diberitahukan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an tersebut? Tentu saja, pertanyaan barusan hanya mampu dijawab oleh diri kita masing-masing.  Melalui artikel ini juga, penulis mengajak agar kita semua kembali meningkatkan kepedulian kita terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di sekitar kita, terutama bagaimana cara kita untuk memuliakan kaum fakir seperti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW yang merupakan suri tauladan bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *