Perbedaan Agama dalam Konflik Suriah

Perbedaan Agama dalam Konflik Suriah

Konflik di Suriah (Syiria) pada akhir-akhir ini menunjukkan tren meningkat dan semakin mengkhawatirkan, terutama dengan diserangnya kota Aleppo mulai April 2016. Pusat kota dihancurkan, kaum pria, wanita dan bahkan anak-anak diserang, kemudian mereka ditembaki dan dibunuh. Bahkan, rumah sakit yang seharusnya menjadi daerah netral yang “haram” untuk diganggu tetap menjadi obyek gempuran pemerintah Suriah.

Semua berawal sejak terjadinya Arab Spring, sebuah istilah untuk gerakan revolusi dan reformasi di negara-negara Arab yang diawali dari Tunisia untuk melengserkan rezim pemerintahan yang dianggap zalim, diktator, dan otoriter. Arab Spring terjadi di Tunisia, Libya, Mesir, Bahrain, Yaman, Oman, Yordania, Maroko, Kuwait, dan negara-negara Arab lainnya. Reformasi mencapai Suriah pada bulan Maret 2011 ketika penduduk kota kecil di selatan turun ke jalan untuk memprotes penyiksaan terhadap mahasiswa. Pemerintah menangani demo tersebut dengan kekerasan. Presiden Bashar al Assad sebagai pewaris pemerintahan diktator ayahnya Hafez al Assad kemudian mengirimkan senjata berat dan tank untuk menindas pemrotes. Sebagian peristiwa Arab Spring memudar pada pertengahan 2012. Namun, konflik di Suriah terus memanas, khususnya saat kota Homs dan kota tua Aleppo digempur habis-habisan oleh pasukan Assad. Saat ini, lebih dari 80% korban tewas akibat peristiwa Arab Spring ada di negara Suriah dengan estimasi mencapai 400 ribu jiwa. Jumlah itu belum termasuk jutaan warga Suriah yang menjadi pengungsi dengan nasib yang tidak jelas karena kehilangan rumah atau sengaja meninggalkan kampung halamannya akibat khawatir keamanannya terancam.

Pada bulan Desember 2011, ribuan tentara Suriah membelot dan mulai melancarkan serangan terhadap pemerintah Suriah. Tentara ini kemudian dikenal sebagai Free Syirian Army (FSA).. Saat itu, PBB menilai Suriah diambang perang saudara. Pemerintahan oposisi di pengasingan kemudian dibentuk dan diberi nama Dewan Nasional Suriah. Internal Dewan yang tidak terlalu kuat akhirnya terpecah berdasarkan garis ideologis, etnis, atau sektarian. Pada dasarnya, semuanya sepakat untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Assad. Di sisi lain, para pengikut Assad, sebagian besar elit khususnya militer, berasal dari sekte Syiah Alawit, yaitu kelompok minoritas di negara Suriah yang merupakan mayoritas Sunni.[1]

 

Perancis bahkan sempat mengkhawatirkan konflik Suriah sebenarnya didasari oleh konflik agama dan bukan sekadar perang saudara atau perang kudeta biasa. Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, mengatakan bahwa ketika muncul perubahan persepsi sebuah konflik yang awalnya perang saudara menjadi perang agama lalu melibatkan kekuatan internasional, dengan aktor seperti Rusia, Iran, dan Amerika Serikat, maka risikonya bakal lebih serius.[2] Hal ini disebabkan sentimen dan loyalitas agama bisa menular ke sesama pemeluk agama di negara lain sehingga perang bisa semakin meluas baik dari segi wilayah konfliknya maupun pihak-pihak yang terlibat.

Banyak pihak yang mendebatkan apakah perang yang saat ini masih berkecamuk di Suriah merupakan perang politik, perang sektarian, atau perang agama. Terlihat jelas bahwa konflik ini berkaitan dengan politik di mana pasukan Free Syirian Army ingin menggulingkan pemerintahan diktator Assad. Namun, keberadaan Syiah menjadikan frase perang sectarian menjadi tidak relevan. Syiah tidak dapat disebut sekte karena kata “sekte” merujuk pada bagian dari aliran suatu agama induk. Sekte adalah kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut. Pihak-pihak yang bertikai terbagi menjadi koalisi utama pihak pemerintahan Assad yang dipimpin oleh seorang penganut Alawit Syiah dengan dukungan pasukan loyalis Assad, segelintir tentara Irak, milisi-milisi Syiah, Iran, serta Rusia. Ini semua adalah kerja sama yang sekilas pro-kepentingan negara Syiah di Timur Tengah. Sementara itu, kelompok anti-Assad adalah pihak Free Syirian Army yang mayoritas merupakan muslim Sunni[3] di bawah dukungan Amerika Serikat, Turki, dan Arab Saudi.

Penduduk Suriah sendiri menganut berbagai ajaran. 75 persen penduduknya menganut Islam Sunni. Sisanya menganut Syiah dan agama Kristen. Kelompok elit dan penguasa di Suriah, termasuk keluarga Bashar al Assad, adalah penganut Alawiyah yang termasuk kelompok aliran Syiah. Itu sebabnya, Iran mendukung rezim Assad, sementara kelompok FSA dengan dukungan Arab Saudi berusaha untuk menggulingkannya.

Perang ini dikatakan sebagai perang agama dan bukan perang sektarian karena mayoritas Syiah bukanlah bagian dari agama Islam. Syiah menurut etimologi bahasa Arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara[4]. Adapun menurut terminologi syariat, Syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk menjadi pemimpin kaum muslimin setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam[5]. Beberapa perbedaan yang menyebabkan syiah keluar dari Islam tergambar pada paragraph berikutnya.

Perbedaan pertama antara Syiah dengan Islam adalah perkataan mereka yang mengatakan bahwa seluruh shahabat Nabi adalah munafik kecuali empat orang. Tuduhan luar biasa tersebut menjadi alasan bagi kaum Syiah untuk memiliki ajaran agama yang berbeda dengan umat Islam pada umumnya. Berawal dari kemunafikan shahabat, Syiah mengatakan bahwa Al Quran yang ada saat ini telah mengalami distorsi dan fabrikasi pada jumlah ayat yang ada. Syiah beranggapan bahwa Al Qur’aan yang ada sekarang telah menyimpang dan jauh berkurang isinya. Mereka mengklaim bahwa Al Qur’aan asli yang diturunkan Jibril ‘alayhissalaam memiliki ketebalan tiga kali lipat Al Qur’aan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin saat ini[6]. Di sisi lain, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para shahabat menjadi tertolak di kalangan kaum Syiah. Hal ini dikarenakan kemunafikan shahabat sebagaimana diklaim oleh Syiah.

Dalam agama Islam, mencintai dan memuliakan shahabat merupakan bagian dari hal asasi dalam agama. Barangsiapa menghinakan salah satu dari mereka maka dia telah kafir. Allah telah menegaskan bahwa seluruh shahabat masuk surga sebagaimana disebutkan dalam surat Al Hadid ayat 10 dan dijelaskan oleh para ahli tafsir. Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyatakan bahwa hati para shahabat bersih, mereka adalah orang-orang yang jujur dalam keimanan. Maka dari itu, tuduhan kaum Syiah merupakan tuduhan tidak berdasar. Selain itu, perkataan mereka bahwa Al Quran mengalami distorsi dan fabrikasi bertentangan dengan ayat Quran itu sendiri. Allah mengatakan bahwa Dia akan menjaga firman yang telah diturunkan[7]. Bantahan yang sama juga terjadi pada tuduhan Syiah terhadap periwayatan hadits yang dilakukan oleh shahabat. Al Quran dan hadits diriwayatkan dengan benar dan penuh kejujuran dari para shahabat dikarenakan kejujuran dan kelurusan lisan mereka dalam menyampaikan ajaran Islam.

Selain itu, Syiah menganggap bahwa perkataan imam (pemimpin) mereka sama dengan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam disebabkan keadaan para imam tersebut yang terlepas dari dosa. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh pendiri agama Syiah, Abdullah bin Saba’ –seorang Yahudi dari Yaman-, bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).[8]

Perbedaan fatal lainnya adalah perbedaan lafazh syahadat antara Syiah dan umat Islam. Di dalam syahadat Syiah, mereka menambahkan persaksian shahabat-shahabat utama, yakni Abu Bakar dan ‘Umar beserta ‘Aisyah (istri Nabi) merupakan penduduk neraka, sekalipun mereka bertiga telah dijamin masuk surga oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Perbedaan syahadat tersebut menyebabkan seseorang memiliki keyakinan dan agama yang berbeda dengan agama Islam yang lurus. Dalam syahadat, kelompok Syiah masih mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya sembahan yang benar dan tiada sekutu bagi-Nya. Namun, sejatinya sejak zaman Abdullah bin Saba’, mereka telah bersikap ekstrem dalam memuliakan ‘Ali bin Abi Thalib sampai pada derajat menuhankan ‘Ali dan menyematkan sifat-sifat serta hak-hak Allah kepada ‘Ali dan imam-imam Syiah.[9] Inilah kerusakan parah aqidah Syiah yang mutlak membedakan Islam dengan Syiah.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah berkata mengenai Syiah bahwa di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali bin Abi Thalib. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fathimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alayhis salam telah berkhianat karena seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal dengan Rafidhah Itsna ‘Asyariyyah, yaitu ‘ubad ‘Aliy, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi.[10] Rafidhah sudah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rofidhoh karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah, sekte Syiah yang paling ringan kesalahannya.[11]

Eksistensi perbedaan aqidah ini telah berlangsung selama 14 abad sejak zaman Abdullah bin Saba’ mulai memiliki pengikut sehingga untuk mendamaikan perang dengan latar belakang seperti ini memang bukanlah hal yang mudah karena selamanya kebatilan tidak akan bercampur dengan kebenaran.

Jika menurut mereka Al Quran yang diakui ummat Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dianggap telah menyimpang, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu serta imam-imam Syiah dianggap setara dengan Allah, hadits-hadits Nabi tidak lagi diakui karena periwayatnya merupakan ahli neraka, dan penghinaan terhadap para shahabat maka apa lagi yang tertinggal dari agama Islam? Apa yang menyebabkan agama Syiah menjadi sama dengan Islam sementara Tuhan, aqidah, syahadatnya, kitab suci, dan hadits-haditsnya telah berbeda?

[1] http://tni-au.mil.id/pustaka/mengapa-amerika-tidak-menyerang-suriah

[2] http://internasional.kompas.com/read/2015/10/05/15282831/Perancis.Khawatir.Konflik.di.Suriah.Menjadi.Perang.Agama

[3] Kelompok Islam yang menjalankan syariat agama berdasarkan Al Quran dan Hadits yang disepakati keotentikannya oleh para ulama Islam

[4] Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi

[5] Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu Hazm

[6] Al Kafi yang dikarang Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dan Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab karya Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi dalam http://salafy.or.id/blog/2012/09/03/membongkar-kesesatan-syiah/

[7] QS. Al Hijr ayat 9.

[8] https://muslim.or.id/8770-sejarah-kemunculan-syi.html

[9] http://www.arrahmah.com/kajian-islam/17-doktrin-syiah-disembunyikan-kaum-muslimin.html

[10] https://rumaysho.com/2106-apakah-syiah-itu-kafir.html

[11] https://muslim.or.id/8770-sejarah-kemunculan-syi.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *