[ Penentuan Awal Puasa dan Lebaran: Hisab Wujudul Hilal atau Ru’yah Hilal? ]

[ Penentuan Awal Puasa dan Lebaran: Hisab Wujudul Hilal atau Ru’yah Hilal? ]

Assalamualaikum, Sahabat!
Datangnya bulan Ramadhan untuk kaum muslimin berpuasa dan datangnya bulan Syawal untuk kaum muslimin berbuka (lebaran) merupakan suatu keniscayaan yang semua orang pasti setuju (ya iya lahh, masa ada yang mau puasa tapi ngga lebaran, atau ada yang mau lebaran tapi ngga puasa? atau ada yang ngga mau lebaran dan puasa? itu sih namanya.. ngawur wkwk).

Dimana kita sudah diwajibkan untuk berpuasa apabila Hilal atau bulan baru sudah bisa terlihat oleh mata kita (manusia),  dan begitu pula dengan saat bulan baru (syawal) sudah keliatan, kita sudah bisa untuk melaksanakan hari raya idul fitri. Sesuai dengan hadits dari Ibnu Umar:
“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. ” (HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080)
Tapi, kalau kita bicara masalah metode penentuan apakah bulan-bulan tersebut sudah datang atau belum, ada perbedaan metode yang pasti selalu kita lihat setiap tahun, khususnya di Indonesia.
Yapp, di Indonesia sendiri, ada 2 metode penentuan awal bulan hijriyah yang berbeda, yang pertama adalah metode hisab wujudul hilal; metode ini sampai sekarang masih digunakan oleh ormas islam Muhammadiyah untuk menentukan awal puasa dan lebaran, dimana dengan metode ini, hari awal puasa Ramadhan dan hari H lebaran ditentukan dengan perkiraan kapan Hilal atau bulan baru itu bakal keliatan. Nah, jadi dengan metode hisab wujudul hilal ini, awal puasa atau lebaran sudah ditentukan dari sebelum hari H nya, terlepas dari apakah pada hari H nya nanti, wujud hilal sendiri sudah keliatan ataupun nggak keliatan karena tertutup awan misalkan. Metode yang kedua adalah metode hisab ikmanur Ru’yah atau ru’yatul hilal dimana penentuan puasa dan lebaran itu dengan melihat langsung wujud hilal pada sore sekitaran maghrib di tanggal 29 bulan hijriyah (sya’ban dan ramadhan), dengan syarat berupa wujud hilal sudah keliatan, tidak terhalang dan sudah berada pada sudut di atas 2 derajat. Metode ini yang dipakai oleh pemerintah dalam menentukan awal Ramadhan dan lebaran.

Terus kok beda??
Kedua metode mendasarkan pada dalil yang sama namun dengan penafsiran dan berbeda;
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka perkirakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih), metode hisab sendiri menafsirkan kata “perkirakanlah” sebagai dasar metode hisab wujudul hilal, sementara dalam riwayat lain, bunyi “perkirakanlah” disebutkan sebagai “genapkanlah” yang ditafsirkan menggenapkan bulan sya’ban atau ramadhan menjadi 30 hari, yang artinya jika hilal tidak terlihat pada tanggal 29, maka keesokan harinya belum wajib untuk berpuasa dan lebaran. Dan yang benar adalah tafsiran yang kedua.
Selain dalil di atas, penggunaan metode hisab wujudul hilal juga bersandar kepada hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang berbunyi: “Kami adalah umat ummiy, tidak menulis dan tidak melakukan hisab, bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).”

hadits tersebut ditafsirkan bahwa jaman dahulu tidak digunakan metode hisab karena Rasulullah dan para sahabatnya tidak bisa baca tulis maupun menghitung, akan tetapi seiring berkembangnya zaman, kaum muslimin sudah bisa baca tulis dan menghitung, jadi metode hisab dianggap boleh digunakan dengan dasar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dialami kaum muslimin.

Namun, Ibnu Taimiyah menjawab bahwa pada dasarnya ada beberapa orang diantara umat yang mana Nabi diutus, mereka dapat melakukan baca tulis bahkan hisab, akan tetapi metode hisab juga tidak dilakukan pada zaman itu.
Perbedaan tersebut juga memunculkan adanya kemungkinan perbedaan hasil, kenapa? karena dengan hisab wujudul hilal tidak menggunakan syarat bahwa hilal harus terlihat secara cukup jelas dengan mata manusia, sementara dengan Ru’yatul hilal, syaratnya hilal harus terlihat dengan mata, dibolehkan dengan bantuan teropong dan posisi tinggi hilal harus lebih dari 2 derajat. Dengan begitu, jika secara real time hilal tidak terlihat, maka akan terjadi perbedaan awal puasa atau lebaran.

Terus kalau beda, aku harus apa kakak??

Sebenarnya kita nggak perlu pusing untuk pilih yang mana, cukup kita mengambil dalil yang paling benar tafsirannya (Tapi jangan mikirnya pilih yang paling lama mulai puasanya dan paling cepet lebarannya yaa). Dan juga kita bisa juga memilih dengan dasar adanya keutamaan yang lebih, misalkan dengan mengikuti pemerintah yang merupakan suatu perintah untuk kita bisa mengikuti perkataan pemimpin kita; “Hai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan taatilah RasulNya, serta Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian.” (QS An Nisa: 59). Jadi kece kan? selain kita ngikutin pendapat yang benar, kita juga ngikutin perintah pemimpin yang balasannya pasti besar di sisi Allah.
Dan Alhamdulillah untuk awal bulan puasa tahun ini tidak terjadi perbedaan hari karena memang secara hisab dan secara ru’yah bulan baru sudah terlihat jelas. Jadi kita bisa mulai sahur bareng, puasa bareng, tarawih bareng, buka puasa bareng, tarawih bareng dan semoga bisa sama-sama sholat ied bareng nantinya. Tapi kalo pun beda, keep unite lah yaa!
Allahu a’lam bishowab.

Sumber:

Hisab Dan Penentuan Awal Ramadhan

Metode Hisab Wujudul Hilal dan Imkanur Ru’yah

Ahlus Sunnah Taat Kepada Pemimpin Kaum Muslimin

================
Departemen Kajian Strategis dan Dakwah
FSI FEB UI
Rumah Ukhuwah Kita
#EmbracingEveryone | 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *