Para Penyembah Ramadhan

Para Penyembah Ramadhan

Oleh: Nabila Jasmintia

Staff Departemen Kajian Strategis Dakwah FSI FEB UI 2016

 

“Kami bersepakat berdasarkan laporan yang baru saja selesai, bahwa 1 Ramadhan 1437 H jatuh pada hari Senin…” Akhirnya, hasil sidang Itsbat awal Ramadhan diumumkan.

Usai keputusan itu disuarakan ke publik, kaum muslimin berbondong-bondong menuju masjid maupun mushala terdekat untuk melaksanakan shalat tarawih perdananya. Shaf demi shaf terisi oleh jamaah, baik tua maupun muda yang gembira menyambut datangnya bulan suci. Orang-orang menyiapkan amalan terbaik mereka dengan semangat saat Ramadhan. Seakan-akan seluruh umat Islam bersatu. Ini merupakan hal yang menggembirakan.

Akan tetapi, memasuki pertengahan Ramadhan ada perubahan yang terjadi. Perlahan namun pasti, masjid mulai sepi oleh jamaah. Lebih dari separuh shaf yang terisi pada awal Ramadhan menjadi kosong. Pemuda jarang terlihat mengisi barisan terdepan di masjid. Hanya beberapa, selebihnya adalah orangtua.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan, semangat yang mulai kendur itu agaknya naik. Kaum muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkan lailatul qadr. Tak hanya yang wajib, amalan sunnah pun ikut dilakukan. Segala upaya dilakukan untuk memenangkan Ramadhan. Sekali lagi, ini merupakan hal yang menggembirakan.

Sayangnya, begitu Ramadhan usai semua berubah. Pemandangan yang ditemui di masjid sangat berbeda bila dibandingkan dengan awal Ramadhan. Sepi. Hanya satu, dua, beberapa yang menunaikan shalat berjamaah. Amalan-amalan terbaik menjadi berkurang. Semangat beribadah menurun. Selama sebelas bulan selain Ramadhan, orang-orang kembali tenggelam pada rutinitas harian, jauh dari Sang Pencipta, Allah SWT.

Bukankah ini merupakan hal yang menyedihkan bagi umat Islam? Ketika Ramadhan memberikan euforia beribadah untuk sementara. Hanya sementara, sementara—lalu menjadi semu. Ketika orang-orang, kaum muslimin pun seakan menjadi ‘penyembah Ramadhan’.

Mereka hanya taat beribadah di bulan Ramadhan kemudian meninggalkannya ketika sudah berlalu, seakan-akan Tuhan hanya ada di bulan Ramadhan. Lebih jauh lagi, sebagian dari mereka telah menjadikan Ramadhan sebagai Tuhan dengan taat beragama pada bulan itu saja.

Apakah ini pantas?

Ketika Ramadhan biasanya masjid ramai dengan jemaah shalat tarawih, sementara di sebelas bulan lainnya masjid menjadi sepi, sekalipun itu untuk shalat lima waktu berjamaah. Padahal, kaum muslimin tahu bahwa shalat tarawih merupakan ibadah sunnah dan shalat lima waktu adalah ibadah wajib yang harus lebih diutamakan. Belum lagi bagi laki-laki hukumnya wajib untuk shalat lima waktu berjamaah di masjid. Masih pantaskah menjadi ‘penyembah Ramadhan’?

Sesungguhnya, Allah SWT tidak hanya menciptakan Ramadhan untuk beribadah kepada-Nya, tetapi juga Syawwal, Sya’ban, dan bulan lain yang memilki keutamaannya masing-masing. Pada sebelas bulan lainnya itu pula, Allah SWT mengawasi perbuatan, serta melimpahkan rezeki dan karunianya kepada manusia.

Sejatinya kita adalah muslim, secara harfiah berarti orang yang berserah diri (kepada Allah). Berserah diri kepada Allah dan ketentuan-Nya karena hanya Allah, Tuhan yang berhak untuk di sembah manusia. Tentu ada kebaikan tersendiri dalam mengikuti ketentuan Allah, untuk senantiasa beribadah dan mengingat-Nya, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga bulan lainnya.

Justru akan jauh lebih baik bila kita, sebagai kaum muslimin dapat mempertahankan semangat beribadah seperti saat Ramadhan di bulan lainnya. Mengerjakan yang wajib, juga yang sunnah. Lalu, ibadah harian apa saja yang dapat dilakukan selain shalat lima waktu?

  1. Shalat Sunnah Rawatib

Untuk melengkapi shalat lima waktu, kita dapat melakukan shalat sunnah rawatib. Ibadah shalat sunnah ini diutamakan. Shalat rawatib dapat menyempurnakan kekurangan saat shalat fardhu.

  1. Membaca Al-Qur’an

Banyak dari kaum muslimin yang berkata bahwa mereka tidak sempat untuk membaca Al-Qur’an karena kesibukan pekerjaan yang menyita waktu. Sejatinya bila ada niat untuk melaksanakannya, maka Allah SWT akan memberi kemudahan. Sempatkanlah untuk membaca Al-Qur’an.

  1. Puasa Sunnah

Sungguh, Allah Maha Baik. Dengan berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, wajah kita akan dijauhkan dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan.

  1. Shalat Dhuha

Selain shalat sunnah rawatib, jangan lupakan kebaikan dari shalat dhuha ini. Dua rakaat shalat dhuha setara dengan 360 shodaqah. Insya Allah rezeki kita akan dipermudah.

  1. Qiyamul Lail

Orang mukmin yang paling mulia ialah yang paling banyak melakukan shalat malam. Mungkin awalnya sulit, tetapi bila dilatih akan menjadi kebiasaan yang baik. Selain itu, waktu shalat malam juga bisa menjadi waktu belajar yang efektif.

Lima poin tadi hanyalah dari sebgian kecil ibadah dan amal baik yang dapat dilakukan setiap harinya. Semua dapat dilakukan secara bertahap. Selain untuk mempertahankan semangat ibadah di bulan Ramadhan, tentu hal ini dapat melatih diri menjadi lebih siap di bulan Ramadhan selanjutnya.

Kalau begitu, pantaskah kita menjadi ‘penyembah Ramadhan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *