Niat: Harusnya Bonus Bisa Jadi Minus

Niat: Harusnya Bonus Bisa Jadi Minus

Siapa yang tidak merasa beruntung jika bisa mendapatkan promo “Beli satu gratis 1000” ? Siapa yang tidak merasa bahagia jika bisa mendapat pelayanan selama setahun dengan harga pelayanan untuk satu hari? Seperti itulah keberuntungan dan kebahagiaan umat Muhammad salallahu alaihi wa salam. Betapa banyak kebaikan berlipat ganda yang bisa didapatkan umat Muhammad hanya dengan usaha yang ringan? Satu hari berpuasa Muharram di tanggal 10, seseorang diampuni dosanya di tahun yang telah lewat[1]. Hanya dengan menyaksikan jenazah hingga ia dimakamkan, seseorang mendapat pahala sebesar dua qirath (sebesar gunung)2]. Seseorang yang salat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk[3] . Banyak kebaikan yang Allah lipat gandakan bagi umat Muhammad.

Tapi, pernahkah terpikir di benak kita hal yang sebaliknya? Bahwa semua yang kita lakukan ternyata tidak bernilai apa-apa? Semua ibadah yang kita sangka bernilai pahala, menjadi kebaikan, menambah keberkahan, ternyata bernilai hampa di sisi-Nya? Pernahkah terbesit di pikiran kita bahwa semua pengorbanan dan lelah perjuangan kita ternyata hanya sebatas lelah dan tak berbuah apa-apa?

Perasaan inilah yang menghantui Fudhalah bin ‘Ubaid rahimahullah, salah seorang sahabat Rasul salallahu ‘alaihi wa salam, hingga ia berkata “Sungguh aku mengetahui amalanku diterima walau seberat biji sawi lebih aku cintai dibandingkan aku memiliki dunia dan seisinya”.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga berkata:

كُونُوا لِقَبُولِ الْعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامَا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ

“Jadilah kalian orang-orang yang lebih memperhatikan amal diterima atau tidak, dibandingkan beramal itu sendiri.”

Timbul pertanyaan di diri kita: “Apa yang membuat kedua orang sahabat Rasul salallahu ‘alaihi wa sallam ini mewanti-wanti kita?” ,“Adakah ayat atau sabda Rasul salallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka dengar hingga membuat mereka merasa bahwa niat ini perkara yang harus diberi perhatian lebih?”

Ternyata, Allah sendirilah yang telah memerintahkan kita untuk memperhatikan urusan niat. Dia berfirman “Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien (agama) kepadaNya, dengan mentauhidkannya.” Dalam surat Albayyinah ayat lima.

Memang, apa konsekuensi jika kita tidak memurnikan (niat) ibadah hanya kepada-Nya?

Dari Umar ibnu Khattab radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda:

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan”[4]

Jelas, bahwa ketika kita tidak meniatkan suatu ibadah untuk Allah –dan murni hanya untuk Allah, maka akan ganjaran yang akan kita dapatkan akan berbeda.

Bahkan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar secara langsung dari Rasul salallahu ‘alaihi wa salam sebuah peringatan keras kepada seluruh umat muslim tentang ibadah yang niatnya salah

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.

Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.

Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.”[5]

Maka, sebelum kita menjalankan suatu amalan, mari periksa seribu kali terlebih dahulu niat kita. Karena sungguh, setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Berdoalah agar Allah menjaga lurusnya niat kita baik sebelum, saat, maupun seusai kita menjalankan suatu amal.

Semoga kita terlindung dari orang-orang yang niatnya rusak dan tidak termasuk sebagai orang-orang yang dimaksud dalam surat Alkahfi ayat 103-104 ““Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.”


يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik “

‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu’

(HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi)

 

Referensi:

[1] HR Muslim (no. 1162)

[2] HR Muslim

[3] HR. At Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no. 1317, Ahmad, no. 20450

[4] HR Bukhori no 1

[5] HR. Muslim mo. 1905

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *