Niat Baik yang Tidak Selalu Baik

Niat Baik yang Tidak Selalu Baik

Niat dalam beramal adalah suatu hal yang penting. Kedudukan niat yang penting ini tidak lain karena fungsi dari niat sebagai pembeda tujuan seseorang dalam beribadah[1]. Seseorang yang mempunyai niat yang baik akan mendapat balasan 10 bahkan hingga 700 kali lipat kebaikan[2].

Namun, ada sebuah kondisi dimana sesuatu yang dilandansi dengan niat baik semata malah berujung pada tidak diterimanya sebuah amalan yang telah dikerjakannya. Artinya, amalan yang diharapkan akan mendapatkan balasan kebaikan hingga 700 kali lipat kebaikan tidak ia dapatkan[3].

Kondisi seperti ini terjadi ketika niat baik tersebut tidak diikuti oleh ittiba’. Ittiba’ artinya meneladani dan mengikuti Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan oleh beliau. Ittiba’ merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang. Jika seseorang melakukan suatu amalan ibadah tetapi tidak didasari dengan ittiba’ kepada Rasulullah, maka sia-sialan amal yang ia kerjakan[4].

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah menyebutkan bahwa suatu perkataan tidak menjadi sah ketika tidak diiringi dengan perbuatan, tidak sah perkataan dan perbuatan jika tidak diiringi oleh oleh niat, dan tidak sah suatu perkataan, perbuatan, dan niat jika tidak mengikuti sunnah.[5]

Selain itu, ittiba’ merupakan tanda kecintaan seseorang hamba kepada Allah tabaraka wa ta’ala. Al Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa kecintaan kepada Allah terjadi dengan ittiba’ kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan kadar kecintaannya kepada Allah tabaraka wa ta’ala tersebut akan bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya ittiba’ kita terhadap Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.[6]

Ada sebuah riwayat yang bisa menggambarkan tentang amalan yang tidak mengikuti Rasulullah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Datang tiga orang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala mereka diberitahu tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seakan-akan mereka merasa bahwa ibadah tersebut sedikit, maka mereka berkata, “Dimana kita jika dibanding dengan Nabi shalalllahu ‘alahi wa sallam? Ia telah dimaafkan dosa-dosanya oleh Allah baik yang telah lalu maupun yang akan datang.” Seorang di antara mereka berkata, “Adapun aku, maka aku akan sholat malam selama-lamanya.” Yang lainnya berkata, “Saya akan puasa dahr(setiap hari) dan aku tidak akan pernah buka.” Dan berkata yang lainnya, “Aku akan menjauhi para wanita, dan aku tidak akan menikah selama-lamanya.”

Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian yang telah berkata demikian dan demikian? Ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah daripada kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan tidur, dan aku menikahi para wanita. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”[7][8]

Dari kisah diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa ketiga orang sahabat tersebut sebenarnya bermaksud untuk mencapai kebaikan. Namun, karena niat kebaikan mereka tidak dilandasi ittiba’, maka Rasulullah-pun langsung menegur mereka dengan mengatakan “Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” Rasulullah tidak menganggap baik apa-apa yang ketiga orang hendak lakukan karena amalan tersebut tidak pernah dicontohkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, mereka semua adalah para sahabat Nabi yang merupakan generasi terbaik dari umat Islam.[9]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu pernah berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.[10] Jadi, dapat disimpulkan bahwa niat baik semata ternyata belumlah cukup dalam melakukan amal ibadah. Ada syarat lain yaitu, ittiba atau meneladani Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, jika salah satu dari keduanya tidak dipenuhi maka amal ibadah kita bisa tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Karena sebenarnya, ibadah itu mempunyai kaidah bahwa “Hukum asal dari ibadah adalah batal, hingga tegak dalil yang memerintahkannya”. [11]

Wallahul Musta’an.

 

Referensi:

[1] Shahih Bukhari Nomor 1

[2] Shahih Bukhari Nomor 42

[3] Shahih Muslim Nomor 1718

[4]Shahih Muslim Nomor 1718

[5] Syarah Ushul-I’tiqad Nomor 18, Halaman 57 oleh Imam Al-Lalika’i

[6] Madarijus Salikin Halaman 104 oleh Imam Ibnul Qayyim

[7] Shahih Bukhari Nomor 5063

[8] Shahih Muslim Nomor 1401

[9] Shahih Bukhari Nomor 3650

[10] Sunan Ad-Darimi, Syaikh Hussain Salim Asad mengatakan sanadnya jayid.

[11] Al Asybah Wan Nadhair, 44 oleh Imam As-Suyuthi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *