Ngebahas Kekeliruan Ibadah Ramadhan? Kok Baru Sekarang? Ngapain?

Ngebahas Kekeliruan Ibadah Ramadhan? Kok Baru Sekarang? Ngapain?

Oleh : Ina Erdawita

Wakil Kepala Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis

Email : inaerdawita@gmail.com

 

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) [1] itu..”

(Q.S. Ar-Rum ayat 30)

 

Tak terasa kini kita telah menginjak ke hari 20 Ramadhan. Ada yang tidak merasakan? Semoga kita termasuk yang merasakan sehingga selalu merindukan ridho Allah kembali di Ramadhan kedepannya, hehehe. Tapi, apakah kualitas dan kuantitas kita selama 20 hari kemarin lebih baik dari sebelum-sebelumnya? Apakah sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah dalam menjalankan ibadah Ramadhan?

Banyak sekali saat ini fenomena-fenomena yang justru sebenarnya tidak menggambarkan ibadah Ramadhan yang konsisten, khusyu’, istiqomah, sabar, dan lain-lain yang harusnya menuntut pada kualitas dan kuantitas maksimal. Terkadang pula, tidak tergambarnya ini bisa dipandang sebagai bentuk lemahnya kita dalam memahami hakikat sesungguhnya ibadah Ramadhan, sehingga menghasilkan kekeliruan-kekeliruan. Sebagian dari kita mungkin masih terjebak dalam cara pandang “Sudah hari ke 20 Ramadhan” daripada “Hanya tersisa 10 hari di bulan Ramadhan”. Kita terlalaikan dari keutamaan dan keagungan bulan Ramadhan itu sendiri. Selain itu, kita tidak berbuat keburukan hanya karena “Oh ya, sekarang kan puasa!”  dan masih banyak lagi hal  yang bahkan jauh dari hakikat ibadah-ibadah Ramadhan sehingga menghasilkan “bayi” Ramadhan yang belum sempurna, belum tersucikan, dan belum terbaharukan lagi kualitas hidupnya.

Padahal, ibadah Ramadhan ini sebagai pengantar, sebagai titik awal kembali, untuk menghadapi 11 bulan lainnya agar menjadi orang yang bertakwa. Selain itu, Allah berjanji pada bulan Ramadhan ini seperti yang ditulis oleh Syaikh Utsaimin dalam Majalisy Syahri Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka karena banyaknya amal yang dikerjakan dan sekaligus untuk memotivasi umat Islam agar melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Setan-setan diikat kemudian dibelenggu dan tidak dibiarkan lepas seperti pada bulan selain Ramadhan.

Untuk itulah, pentingnya kita menyempurnakan ibadah kita secara terus menerus dengan mendalami ilmu agama dengan tuma’ninah (perlahan dan jelas). Karena banyak pula muslim yang lain menjalankan ibadah Ramadhan karena pendapat yang tidak shahih, karena tradisi turun temurun nenek moyang, dan lainnya. Setidaknya kami merangkum beberapa kekeliruan dalam ibadah Ramadhan :

 

  1. Membagi Bulan Ramadhan menjadi 3 bagian.

Sebagian orang meyakini bahwa bulan Ramadhan terbagi menjadi 3, yaitu 10 hari pertama merupakan rahmat, 10 hari kedua adalah pengampunan, 10 hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka. Keyakinan ini muncul dari berbagai sumber entah itu lisan dai yang mengisi tausiyah di masjid setiap malam ataupun pembicaraan dari orang-orang di sekitar kita. Munculnya keyakinan ini berdasarkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah:

Dari Salman Al Farisi radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah kepada kami di akhir hari bulan Sya’ban atau di awal hari bulan Ramadhan, beliau bersabda:

 

Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga….. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka. [2]

Sanad hadits ini dho’if (lemah)*, karena terdapat seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud’an. Ia seorang perawi yang lemah sebagaimana diterangkan oleh Imam Ahmad, Yahya, Bukhari, Ad Daruquthni, Ali Al Madini, Adz Dzahabi, dan Abu Hatim. Ibnu Khuzaimah rahimahullah sendiri mengatakan, “Aku tidak menjadikannya sebagai hujjah karena hafalannya jelek.”

Selain karena perawinya,  hadits ini yang dho’if (lemah) bahkan munkar karena bertentangan dengan riwayat-riwayat lain yang shahih yang menyatakan bahwa di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, ampunan Allah dan kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:

“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [3]

Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja. Lebih jelas lagi pada hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’.  Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam. [4]

Jelaslah melalui hadits shahih riwayat Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi diatas bahwa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka tidak hanya terdapat di sepertiga Ramadhan saja melainkan di seluruh bulan Ramadhan. Maka, kita tak perlu takut telah melalui 2/3 Ramadhan dan tidak dapat mendapatkan rahmat dan ampunan dariNya di 10 hari pertama dan kedua, karena hal tersebut tidaklah benar.

 

  1. Tidak memaksimalkan 10 hari terakhir Ramadhan.

Kita biasa menjumpai di awal-awal bulan Ramadhan, masjid-masjid ramai didatangi oleh orang berbondong-bondong untuk melakukan ibadah. Di awal Ramadhan biasanya orang bersemangat untuk datang ke masjid dan menjalankan ibadah Shalat Isya dan Shalat Tarawih berjamaah. Sayang sekali, hal ini seringkali hanya kita jumpai di awal Ramadhan.

Menjelang akhir Ramadhan, masjid biasanya mulai sepi. Yang penuh dengan keramaian adalah tempat berbelanja, mall, pasar, dan orang-orang mulai menyibukkan diri dengan persiapan menuju lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Padahal, di 10 akhir bulan Ramadhan, itulah waktu yang paling afdhol untuk meningkatkan ibadah. Adapun pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan terdapat malam kemuliaan, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, lailatul qadar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” [5]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih menggiatkan ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti itu demi meraih malam yang mulia, lailatul qadar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan agar mudah meraih malam penuh kemuliaan (lailatul qadar), untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia sehingga mudah bermunajat dengan Allah, juga untuk memperbanyak do’a dan dzikir ketika itu. [6]

‘Aisyah menceritakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” [7]

‘Aisyah mengatakan, Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima [8]), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” [9]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengagungkan 10 hari akhir Ramadhan. Rasulullah tinggalkan aktivitas duniawi, meninggalkan hubungan suami istri, tidak berdagang maupun bekerja. Ia lebih giat beribadah tidak seperti hari biasanya. Padahal, Rasulullah sudah mendapatkan jaminan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapakah kita dibandingkan beliau? Beliau yang sudah dijamin masuk surga saja sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, memohon ampun dan ridho dariNya. Sungguh dari diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu terdapat suri tauladan yang baik. Maka dari itu, di penghujung Ramadhan ini, sudah selayaknya kita meniru kesungguhan beliau dengan memaksimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

 

  1. Menyegerakan waktu sahur.

Syari’at mengatakan hal yang berkebalikan dengan menyegerakan waktu sahur, bahwa kita dianjurkan untuk mengakhirkan sahur. Sunah untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar didasarkan pada hadits Anas berikut,

“Dari Anas bin Malik, Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit pernah bersama makan sahur. Ketika keduanya selesai dari makan sahur, Nabi pun berdiri untuk pergi shalat, lalu beliau shalat. Kami pun berkata pada Anas, “Berapa lama jarak antara waktu selesai makan sahur dan waktu pengerjaan shalat?” Beliau menjawab, “Sekitar seseorang membaca 50 ayat.” [10]

Ibnu Hajar berkata, “Hadits di atas menunjukkan jarak antara akhir makan sahur dan mulai shalat.” [11] Ibnu Abi Jamroh mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa sahur itu diakhirkan.” [12]

Jelaslah bahwa waktu makan sahur yang terbaik adalah diakhirkan, artinya masih dibolehkan makan selama belum yakin tibanya fajar shubuh. Tujuan mengakhirkan makan sahur adalah untuk lebih menguatkan badan. Sebagian orang yang menyegerakan sahur di jam 1 atau 2 malam sesungguhnya telah menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melakukan sahur pada jam tersebut menyiksa diri karena ia menahan rasa lapar dan haus sebelum waktunya untuk menahan. Ketika tiba waktu pagi, jam 7 pagi, ia telah merasakan kelaparan. Sehingga tindakan menyegerakan sahur ini terhitung sebagai memperberat manusia karena ia menahan dari jam 3 sedangkan seharusnya ia menahan dari ketika fajar telah menyingsing. Orang yang melakukan sahur pada jam 1 dan 2 malam tersebut kemudian menahan dari jam 3, menyebabkan ia dapat melanjutkan tidur hingga ia lalai dengan tidurnya, celakanya bagi laki-laki ia akan meninggalkan waktu untuk shalat subuh berjamaah di Masjid. Maka dari itu, melaksanakan sunnah Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah yang diperintahkan oleh Allah karena sungguh pada diri Rasululllah itu terdapat suri tauladan yang baik.

 

  1. Mengkhususkan ziarah kubur.

Diantara kebiasaan sebagian kaum muslimin menjelang datangnya bulan suci Ramadhan adalah mengkhususkan waktu untuk berziarah ke kuburan orang tua atau kerabat yang telah meninggal dunia. Berziarah kubur hukumnya sunnah sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dahulu saya melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah.” (HR. Muslim).

Riwayat lain: Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian). [13]

Ziarah kubur pada dasarnya adalah ibadah muthlaq yaitu ibadah yang tak terikat oleh waktu, peristiwa, dan sebab tertentu. Kapan pun kita mau dan ada kesempatan, maka ziarah kubur adalah masyru’ (disyariatkan) karena ia termasuk perkara yang dapat melembutkan hati karena mengingatkan pada akhirat (kematian). Ada pun mengkhususkan dan mengikatkan ziarah kubur dengan waktu tertentu dengan anggapan terdapat keutamaanya adalah keyakinan yang tidak tepat karena tidak memiliki dasar dalam syariat. Maka, berziarah kubur dapat dilakukan di waktu apapun, hari ini dan itu, bulan ini dan itu, menjelang Ramadhan, di bulan Ramadhan, atau setelah Ramadhan, dzul qa’dah, dzul hijjah, dan waktu lainnya.

 

  1. Banyak tidur di siang hari ketika berpuasa.

Banyak dari kita yang sering mendengar tidurnya orang puasa adalah ibadah sehingga banyak orang yang mengisi waktu di siang harinya dengan tidur. Sebagian orang termotivasi dengan hadits berikut untuk banyak tidur di bulan Ramadhan.

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” [14]

Hadits ini adalah hadits yang dho’if*. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Banyak tidur di siang hari menyelisihi ketetapan Allah. Allah menjadikan waktu siang hari untuk mencari penghidupan, sebagaimana disebutkan pada Q.S An-Naba ayat 9-11:

“…Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, Kami jadikan malam sebagai pakaian, Kami jadikan siang untuk men­cari penghidupan….”

Sehingga merugilah orang-orang yang menghabiskan waktu siangnya dengan bermalas-malasan dan menjadikan puasanya sebagai alasan untuk menyiakan waktu siang hari yang semestinya digunakan untuk mencari penghidupan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang tidur siang, beliau malah memerintahkan untuk tidur siang, seperti sabdanya berikut

“Qailulah-lah (istirahat/tidur sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” [15]

Namun pengertian tidur siang disini adalah sekedarnya saja. Tidur/istirahat siang (qailulah) termasuk kebiasaan yang menyehatkan dan dihitung sebagai ibadah asalkan tidak berlebihan dan tidur ini ditujukan untuk menyegarkan badan sehingga dapat membantu kita menguatkan ibadah seperti bangun untuk shalat malam. Sedangkan tidur sepanjang hari di bulan puasa tanpa diniatkan untuk ibadah termasuk merugi dan menyia-nyiakan waktu.

Ibnu Rajab menerangkan, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan berpuasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” [16]

 

  1. Menganggap imsak sebagai sunnah dan menetapkan waktu imsak sebelum masuk waktu subuh.

 

Banyak dari kita keliru karena menganggap bahwa imsak adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perlu diketahui bahwa Imsak hanya ada di Indonesia. Padahal, Imsak bukan berasal dari Islam maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah.” [17]

Hadits ini menjadi dalil bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan dan bukanlah 10 menit sebelum adzan subuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua sahabat yang bertugas mengumandangkan adzan di waktu subuh. Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Bilal melakukan adzan awal, yang dikumandangkan sebelum subuh, dan Ibnu Ummi Maktum melakukan adzan setelah masuk waktu subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh para sahabat yang sahur, untuk tetap makan minum hingga Ibnu Ummi Maktum melakukan adzan.

 

Dalam hadits dari Ibnu Umar dan A’isyah radhiallahu ‘anhum,

Bahwa Bilal biasanya berazan di malam hari. Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum berazan, karena tidaklah dia mengumandangkan azan kecuali setelah terbit fajar.” [18]

Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dan beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya “Waktu shubuh telah tiba, waktu shubuh telah tiba.”

Oleh karena itu, menetapkan waktu imsak beberapa menit sebelum waktu subuh termasuk mengada-mengada. Waktu imsak yang sesungguhnya adalah waktu subuh itu sendiri. Bahkan mendekati waktu subuh itulah waktu terbaik untuk sahur sebagaimana telah dijelaskan pada poin 3 oleh H.R Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik berkaca pada sahur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imsak bahkan diingkari oleh Ibnu Hajar pada zamannya karena bertentangan dengan hadits Umar Bin Khattab. Dalam kitab Silsilah Ahadits Shahihah (Kumpulan hadits-hadits shahih), pada keterangan hadits no. 1394, Dari Abu Umamah,

Adzan shalat subuh dikumandangkan, sementara Umar masih memegang gelas. Beliau bertanya: ‘Bolehkah aku minum, wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, “Ya.” Umarpun meminumnya. (Riwayat Ibn Jarir dengan sanad hasan)

 

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

Apabila seseorang di antara kalian mendengar azan, sementara wadah masih di tangan maka jangan dia letakkan wadah tersebut sampai dia menyelesaikan kebutuhannya.” [19]

Berdasarkan hadits tersebut, apabila telah terdengar azan, sementara di tangan terdapat gelas, maka hendaklah ia menyelesaikan dulu minumnya. Ini menunjukkan terdapat rukhshah (keringanan) yang diberikan oleh pemilik syariat ini. Sedangkan banyak orang yang berkata dengan imsak ini agar kita berhati-hati agar jangan sampai ketika kita makan kemudian ternyata sudah terbit fajar. Jelas ini bertentangan dengan hadits dan syariat.

 

  1. Berlebih-lebihan dan menganggap bulan lainnya diperbolehkan bermaksiat/berbuat dosa.

Tidak sedikit di antara kita yang menjadikan Ramadhan sebagai tradisi untuk berlebih-lebihan. Contohnya  berlebih-lebihan (boros) dalam membuat makanan untuk berbuka, padahal boros termasuk perbuatan terlarang. Contoh lain, bisa kita lihat bagaimana kita memperlakukan Idul Fitri seperti tanda kemenangan yang patut dirayakan. Padahal kemenangan yang dimaksud bukan karena kita berhasil menahan lapar dan haus semata, namun pada pengembangan dan peningkatan kualitas iman dan jati diri.

 

Ketika berpuasa, hendaknya kita menahan diri dari hal-hal yang diharamkan dan sia-sia. Jika tidak demikian, puasa seseorang jadi tidak ada nilainya, yang didapati hanya lapar dan dahaga saja.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” [20]

Sejelek-jelek puasa adalah yang hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat di bulan Ramadhan pun masih terus berjalan. Maksud dari puasa bukanlah menahan lapar dan dahaga semata. Dalam puasa mestilah menahan diri dari nafsu jelek, mengekang jiwa yang mendorong kepada kejelekan dan diarahkan pada perihal yang baik-baik.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa” [21]

Sering kita mendengar perkataan, “Hey, lagi puasa, jangan gosip!” Padahal, berkata dusta, melakukan ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba) dan mencela muslim yang lain, merupakan perbuatan yang pada dasarnya tidak boleh dilakukan di bulan apapun, di waktu apapun. Berbuat dosa harusnya setiap detik dihindari, bukan hanya di bulan Ramadhan saja.

 

Ilmu sebelum beramal: Pentingnya tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

 “Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia akan tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”

 

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan rahmah sudah dua per tiga berlalu. Berbagai ibadah sunah dilakukan di siang maupun malam hari di bulan Ramadhan dengan mengharap ridho Allah SWT. Namun, tak dipungkiri bahwa mungkin banyak sebagian dari kita yang beramal sebelum berilmu. Padahal, ilmu adalah pelurus niat dan akan memperbaiki amalan. Adapun tuntunan terbaik dalam beribadah adalah mengikuti ajaran Rasulullah. Sehingga, sudah sepantasnya ibadah puasa dan amalan di bulan Ramadhan pun dilakukan sesuai syariat mencontoh puasa yang dilakukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Imam Ahmad berkata,

 “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia berarti telah berada dalam jurang kebinasaan.” [22]

 

Dalam perkara ibadah (yaitu apa-apa yang kita niatkan untuk mendekatkan diri kita pada Allah Subhanahu wa Ta’ala), kita harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesuai dengan yang dicontohkan dan diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dikisahkan bahwa Imam Syafi’i pernah ditanya pendapatnya tentang sebuah hadits, ia kemudian gemetar dan berang, kemudian ia berkata

“Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian aku berpendapat lain…!” [23]

Imam Syafi’i juga berkata bahwa siapa saja yang telah jelas sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk mengikuti pendapat lain. Namun, bagi yang tidak paham akan dalil, maka ia dapat bertanya pada ulama dan menjadikan pendapat mereka sebagai rujukan. Ini menunjukkan bahwa penting dalam beramal untuk memiliki tuntunan karena ibadah tidak bisa direka-reka dan dibutuhkan dalil sebagai pegangan. Dalil ini pun harus mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sayangnya, banyak sumber informasi entah itu dari lisan da’i, kerabat, dan akun-akun media sosial yang menyebarkan kekeliruan tentang keyakinan dan amalan yang dilakukan di Bulan Ramadhan. Sehingga perlu bagi kita untuk cerdas mengetahui kekeliruan apa saja yang menyebar di Bulan Ramadhan ini dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

 

Demikianlah ketujuh kekeliruan dalam hal keyakinan dan amalan di bulan Ramadhan. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kekeliruan yang mungkin saja kita tidak ketahui dan lakukan selama di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan masih tersisa 10 hari lagi. Di sepuluh hari pengujung Ramadhan inilah kita harus memperbaiki jika ada pemahaman kita yang masih salah dan terus mengejar amal ibadah. Persiapkan perbekalan kita di penghujung Ramadhan agar kita dapat mendapatkan kemuliaan di sepuluh hari terakhir. Karena sesungguhnya, di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan terdapat malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, yaitu lailatul qadar. Maka berlomba-lombalah kita untuk meraihnya dengan memperbaiki kekeliruan yang mungkin tidak sengaja kita amalkan di bulan Ramadhan ini.

Wallahu a’lam bi shawab. Mohon maaf jika terdapat kesalahan karena saya hanyalah hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang fakir ilmu. Semoga bermanfaat.

 

 

Catatan Kaki:

[1] Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Al-Quran

[2] HR Ibnu Khuzaimah, no. 1887 dari Ali bin Hujr As Sa’di, dari Yusuf bin Ziyad, dari Hammam bin Yahya dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Sa’id bin Musayyab dari Salman Al Farisi

[3] HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760

[4] HR. Tirmidzi 682, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi

[5] HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169.

[6] Latho-if Al Ma’arif, hal. 338

[7] HR. Muslim no. 1175.

[8] Inilah pendapat yang dipilih oleh para salaf dan ulama masa silam mengenai maksud hadits tersebut. Lihat Lathoif Al Ma’arif, hal. 332.

[9] HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174.

[10] HR. Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097.

[11] (Fathul Bari, 4: 138)

[12] (Fathul Bari, 4: 138)

[13] HR. Muslim no. 976, Ibnu Majah no. 1569, dan Ahmad 1: 145

[14] Perawi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3: 1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

Dalam riwayat lain, perawinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1: 310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).

[15] HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih

[16] Latho-if Al Ma’arif, 279-280.

[17] HR. Tirmidzi no. 705 dan Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

[18] HR. Bukhari, no. 1919 dan Muslim, no.1092.

[19] HR. Abu Daud, no. 2350; dinilai sahih oleh Al-Albani.

[20] HR. Ahmad 2: 373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid.

[21] HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih.

[22] Ibnul Jauzi dalam Manaqib, hal. 182. Dinukil dari sifat Shalat Nabi hal. 53.

[23] Hilyatul Auliya’, 9: 107.

 

*Tentang mengamalkan hadis dho’if

 

Hadits dho’if hanya bisa dipakai untuk satu hal, yaitu fadha’ilul a’mal (keutamaan-keutamaan amal). Hadits dho’if digunakan oleh sebagian orang untuk mendorong umat untuk melakukan kebaikan dan menakut-nakuti mereka agar tidak melakukan kejelekaan.  Adapun maksud sebagian ulama yang membolehkan menggunakan hadits dho’if bukanlah yang dimaksudkan mereka menggunakan hadits dho’if serampangan begitu saja. Namun, maksud mereka adalah bahwasanya dibolehkan menggunakan hadits dho’if untuk menjelaskan fadha’il a’mal (keutamaan amalan) dalam amalan yang telah disyari’atkan dalam syari’at dengan dalil-dalil yang shohih seperti dzikir, puasa, dan sholat.

Namun, pendapat yang mengatakan bahwa hadits dho’if dapat diamalkan dalam fadha’ilul a’mal ini pun merupakan suatu pendapat yang bertolak belakang antara awal dan akhirnya. Ketika kita mengamalkan hadits-hadits dho’if dalam fadha’ilul a’mal, apakah amalan kita itu berdasarkan hadits-hadits dho’if tersebut? Atau berdasarkan hadits lain? Jika amalan ini dilakukan berdasarkan hadits dho’if, berarti kita menetapkan suatu hukum berdasarkan hadits dho’if. Padahal menetapkan suatu hukum berdasarkan hadits-hadits dho’if ditentang oleh orang yang membolehkan mengamalkan hadits dho’if dalam fadha’ilul a’mal. Sedangkan jika jawabannya “berdasarkan hadits yang shahih” maka untuk apa kita membawa hadits-hadits yang dho’if tadi? Sebab ada atau tidaknya hadits-hadits yang dho’if adalah sama saja, sama sekali tidak ada pengaruhnya, karena hadits dho’if tidak boleh digunakan untuk menentukan suatu amalan kecuali jika ada hadits shahih lain yang mendukungnya.

 

 

Referensi:

 

  1. Al Qur’an dan As Sunnah.
  2. Tuasikal, Muhammad Abduh. 2014. Panduan Ramadhan: Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah. Yogyakarta: Pustaka Muslim.
  1. Kajian Ilmiah – Audio: “Apakah Derajat Hadits yg Membagi Bulan Ramadhan Menjadi 3 Bagian” oleh Ust. Abu Zubair al Hawaary, Lc
  1. Kajian Ilmiah – Audio: “Apa Hukum Memundurkan Buka Puasa dan Menyegerakan Sahur untuk Berjaga-Jaga” oleh Ust. Zainal Abidin Syamsudin
  2. Kajian Ilmiah – Audio: “Bolehkah Mengkhususkan Ziarah Kubur Pada Saat Datang Ramadhan dan Idul Fitri” oleh Ust. Abu Zubair al Hawaary, Lc
  3. Kajian Ilmiah – Audio: “Penyimpangan di Bulan Ramadhan” oleh Ust. Badrusalam, Lc
  4. Kajian Ilmiah – Audio: “Shahihkah Hadits yang Membagi Bulan Ramadhan Dibagi Menjadi Tiga Bagian” oleh Ust. Zainal Abidin Syamsudin
  5. Kajian Tematik Ramadhan – Audio: “Peringatan dari Kesalahan-Kesalahan yang Biasa Terjadi di Bulan Ramadhan” oleh Ust. Sofyan Chalid Ruray
  6. Yulian Purnama. Hadits Lemah: Ramadhan Dibagi Tiga Bagian.

(http://muslim.or.id/hadits/hadits-lemah-ramadhan-dibagi-tiga-bagian.html diakses pada 05 Juli 2015)

  1. Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja. Syubhat Pendukung Bid’ah Hasanah – Syubhat Keempat.

(http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/302-syubhat-pendukung-bid-ah-hasanah-syubhat-keempat diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Didik Suyadi. Anjuran Mengakhirkan Makan Sahur.

(http://muslim.or.id/hadits/anjuran-mengakhirkan-makan-sahur.html diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Raehanul Bahraen. Tidur/Istirahat Siang (Qailulah): Sehat dan Sunnah.

(http://muslimafiyah.com/tiduristirahat-siang-qailulah-sehat-dan-sunnah.html diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Raehanul Bahraen. Dekat-Dekat Adzan Waktu Terbaik Makan Sahur dan Bid’ah Waktu Imsak.

(http://muslimafiyah.com/dekat-dekat-adzan-waktu-terbaik-makan-sahur-dan-bidah-waktu-imsak.html diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. Fikih Puasa (5): Sunnah Puasa.

(http://muslim.or.id/ramadhan/fikih-puasa-5-sunnah-puasa.html diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan.

(http://rumaysho.com/amalan/mengkhususkan-ziarah-kubur-menjelang-ramadhan-3470.html diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. Kekeliruan Pensyariatan Waktu Imsak.

(http://muslim.or.id/ramadhan/kekeliruan-pensyariatan-waktu-imsak.html diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Ustadz Ammi Nur Baits. Kapan Harus Mulai Berhenti Sahur?

(http://www.konsultasisyariah.com/waktu-sahur/ diakses pada tanggal 06 Juli 2015)

  1. Ustadz Ammi Nur Baits. Bolehkah Makan Sahur Setelah Imsak?

(http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-makan-sahur-setelah-imsak/ diakses pada 06 Juli 2015)

  1. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. Hadits Dho’if, Bolehkah Dijadikan Sandaran Hukum?

(http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/hadits-dhoif-bolehkah-dijadikan-sandaran-hukum-942.html diakses pada 07 Juli 2015)

  1. Redaksi Konsultasi Syariah dengan sumber Fatwa-Fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H-2004 M. Bolehkah Beramal dengan Hadits Dhaif yang Derajat Dhaifnya Ringan?

(http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-beramal-dengan-hadits-dhaif-yang-derajat-dhaifnya-ringan/ diakses pada 07 Juli 2015)

2 thoughts on “Ngebahas Kekeliruan Ibadah Ramadhan? Kok Baru Sekarang? Ngapain?

  1. Wildan

    Artikel yang sangat bagus sekali, kebanyakan muslim di Indonesia belum oeka mengenai derajat hadist mana yang shahih mana yang dhaif, hanya saja lebih setuju jika di post di awak bulan, sehingga pencegahan akan amal yang dhoif bahkan munkar oleh muslimin/muslimat bisa dilakukan dalam 1 bulan penuh, tidak di malam 10 terakhir saja. Wallahu A’lam

  2. Wildan

    Artikel yang sangat bagus sekali, kebanyakan muslim di Indonesia belum peka mengenai derajat hadist mana yang shahih mana yang dhaif, hanya saja lebih setuju jika di post di awal bulan, sehingga pencegahan akan amal yang dhoif bahkan munkar oleh muslimin/muslimat bisa dilakukan dalam 1 bulan penuh, tidak di malam 10 terakhir saja. Wallahu A’lam

Leave a Reply to Wildan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *