NGASO (Ngobrol Asik Anak Sosmas)

NGASO (Ngobrol Asik Anak Sosmas)

Assalamualaikum, Sahabat!
Kira-kira siapa ya pria yang ada di foto ini? Ada yang sudah bisa menebak? Tentu saja bagi kalian pengunjung setia KaFE pasti sudah familiar dengan wajah bapak ini.
Tetapi, siapa sih sebenarnya beliau? Daripada penasaran, yuk kita simak kelanjutannya di bawah!
Beliau adalah Bapak Supoyo. Beliau sudah cukup lama berkecimpung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, tepatnya sejak tahun 1993 sebagai pedagang Mie Ayam. Bapak Supoyo sebenarnya berasal dari Desa Bekonang, Solo, Jawa Tengah namum kemudian memutuskan untuk berhijrah ke Jakarta pada tahun 1992. Kepedulian dan rasa iba beliau terhadap salah seorang kerabatnya yang sudah sepuh menjadi alasan Bapak Supoyo memilih berhijrah saat itu. Sebelumnya, Bapak Supoyo lebih dahulu menetap di Matraman, membantu kerabatnya hilir mudik berjualan Mie Ayam dari UI Salemba ke UI Depok selama kurang lebih satu tahun. Pada tahun 1993, Bapak Supoyo akhirnya memutuskan untuk menetap di Depok dan mengelola usaha Mie Ayam yang berada di UI Depok, tepatnya di Kantin FEB UI hingga saat ini.
Bapak Supoyo mengungkapkan bahwa sejak tahun 1993, lingkungan FEB UI, khususnya Kantin FEB UI sangat nyaman dan dipenuhi dengan atmosfer kekeluargaan antar sesama pedagangnya. Beliau juga menghaturkan rasa syukur dan bahagianya karena hingga saat ini masih diizinkan untuk melanjutkan kehidupan dan usahanya di FEB UI. Tidak hanya dengan sesama pedagang, hubungan dengan fungsionaris FEB UI lain seperti dosen, pegawai hingga cleaning service terjalin dengan sangat baik. Pak Supoyo sendiri menuturkan bahwa di Kantin FEB UI, terdapat sebuah paguyuban yang memiliki agenda kegiatan tahunan seperti jalan-jalan bersama ke tempat wisata, setoran kas rutin untuk kepentingan bersama, dan bermain futsal yang biasa diikuti oleh pedagang kawula muda dengan tujuan memupuk rasa persaudaraan antar sesama pedagang. Selain itu, FEB UI sendiri memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan dan kesejahteraan kantin yakni dengan memberikan pelatihan gizi dan standar kebersihan bekerjasama dengan FKM UI. Selanjutnya, adapula pengaturan berpakaian, salah satunya ialah warna celemek yang harus dipakai setiap hari dengan tujuan memberikan kesan tertib dan rapih kepada Kantin FEB UI.
Disamping rasa senang dan syukurnya itu, Bapak Supoyo acapkali dilanda kerinduan dengan kampung halaman, terutama istri dan empat orang anaknya yang berada di Solo. Biaya hidup yang lumayan tinggi membuat beliau mengurungkan niatnya untuk membawa serta mereka menetap di Depok. Beliau mengatakan bahwa mengalahkan rasa rindu kadangkala menjadi tantangan dan kendala terbesar bagi beliau selama berdagang di FEB UI. Di Depok sendiri, Bapak Supoyo tinggal di sebuah kontrakan yang berada di Kukusan Teknik (Kutek) bersama karyawan-karyawannya yang berasal dari Bogor. Selain di Kantin FEB UI, Bapak Supoyo juga memiliki lapak lain yang berada di lingkungan Asrama UI.
Berbicara tentang mahasiswa, Bapak Supoyo sendiri menuturkan bahwa mahasiswa UI, khususnya FEB UI adalah mahasiswa yang santun, cerdas, berbudi pekerti dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia. Diselenggarakannya berbagai acara bakti sosial yang juga melibatkan pedagang di Kantin FEB UI baginya merupakan suatu bentuk rasa syukur sekaligus penghargaan untuknya dari mahasiswa. Meskipun itu, beliau sedikit menggarisbawahi bahwa terdapat perbedaan antara mahasiswa angkatan lama dengan mahasiswa angkatan sekarang. Pada angkatan lama, Pak Supoyo mengaku lebih mudah bergaul karena lebih sering bertatap muka dan bercakap secara konvensional. Sedangkan mahasiswa angkatan sekarang, beliau mengaku tidak mengenal sebaik angkatan lama. Pengaruh teknologi, terutama penggunaan smartphone sedikit menghilangkan rasa kedekatan karena mengurangi interaksi secara konvensional.
Terakhir, pesan dan harapan beliau terhadap mahasiswa UI, khususnya FEB UI adalah rajin-rajinlah belajar serta jangan lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar cita-cita dapat tercapai sesuai rencana. Jagalah sopan santun dan bila sudah sukses, jangan melupakan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan lebih.
Demikianlah sekelumit cerita dari Bapak Supoyo. Semoga dapat menjadi manfaat bagi pembaca dan tentu saja menambah rasa kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar.
Wassalamualaikum, wr, wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *