Muslimah, A Hero In Our Own Way!

Muslimah, A Hero In Our Own Way!

Oleh: QQ-Staff Muslimah Learning Center

Apa yang kira-kira terlintas pertama kali di pikiran orang-orang ketika mendengar kata “muslimah” ? mungkin kita akan membayangkan sosok wanita yang lemah butuh perlindungan, atau sesosok manusia yang harus mengikuti kodrat dan jalan takdir untuk sekedar mengurus anak dan suaminya  ketika sudah menikah, atau pandangan barat yang ekstrim: manusia yang dibatasi dalam segala hal, mulai dari gaya berpakaian, terbatas dalam hal kegiatan, pengetahuan maupun kekuatan dibandingkan laki-laki. Tak dapat dipungkiri, pandangan-pandangan seperti ini banyak sekali ditemukan dalam masyarakat, yang pada akhirnya seakan-akan menyudutkan definisi muslimah menjadi hanya sekedar “pemeran pembantu” dalam drama kehidupan manusia, tanpa pernah membuat suatu perbuatan berarti bagi dirinya maupun orang lain.

Namun, apakah benar, muslimah tidak pernah bisa melakuakn sesuatu yang besar, kemudian act like a hero ?

mungkin jika kita lihat sekitar kita, sebenarnya peran wanita tidak hanya terbatas pada hal-hal kecil saja. Bukan berarti dengan alasan sebagai “wanita” membuat kita hanya berdiam diri dan membiarkan dunia berlalu begitu saja tanpa berbuat apa-apa, hanya menunggu dan bersembunyi dibalik kelemahan itu sendiri. Sebenarnya, wanita juga dapat merubah dunia, bermanfaat untuk sesama, dengan caranya sendiri yang berbeda dengan yang dilakukan laki-laki. Sebagai contoh, kita pasti sudah pernah mendengar nama Malala Yousafzai, seorang gadis yang berasal dari Pakistan.

Malala merupakan seorang gadis, yang meraih penghargaan nobel perdamaian pada usianya yang baru menginjak 17 tahun, menjadikannya sebagai orang termuda yang meraih penghargaan tersebut. Ketika orang lain seusianya mungkin masih bermain-main menikmati masa remaja, Malala sudah melakukan perjuangan yang berat dan menciptakan suatu image pahlawan untuk dirinya, sekaligus membawa image pahlawan muslimah dan pahlawan wanita.

Malala dikenal atas perjuangannya dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi wanita di daerah tempat tinggalnya di Swat District, Pakistan. Kejadian ini bermula ketika militer Taliban telah melarang anak-anak wanita untuk pergi sekolah, belajar menari, bahkan dilarang untuk menonton televisi. Tidak terima dengan ketidakadilan ini, ia mulai menulis blog dengan nama samaran kepada BBC, mengenai betapa mengerikannya hidup dibawah Taliban, dan pandangannya untuk mempromosikan pendidikan untuk anak perempuan.

Perjuangannya tidak berhenti sampa disitu. Ia pernah ditembak oleh kelompok bersenjata Taliban di bus pulang sekolah atas tindakan beraninya ini. Ia akhirnya berhasil diselamatkan meskipun sempat mengalami kondisi yang cukup kritis. Jika kita kemudian bertanya, apakah benar seorang wanita bisa melakukan semua itu ? absolutely yes. Apakah benar seorang wanita bisa memiliki keberanian seperti itu ? tentu saja! Sesungguhnya wanita itu memiliki kepekaan dan rasa empati yang relatif lebih tinggi daripada laki-laki. Hanya saja, bagaimana kita mau membuka mata dan hati untuk mengulurkan tangan dan menjadi bermanfaat bagi orang lain. That’s the point!

Kemudian, mungkin, sahabat muslimah mulai bertanya kepada diri sendiri, “wah itu kan Malala, bagaimana dengan aku yang hanya butiran micin ini? Ga bisa jadi hero dong T_T ?” atau “ngurusin hidup ku aja ga selesai, gimana mau berguna buat orang lain?”. hmm mungkin kita harus menelisik lebih jauh, apa sih itu pahlawan? Kenapa orang bisa disebut pahlawan? Dari kisah berbagai orang yang kita anggap sebagai pahlawan, kita bisa lihat persamaan diantara mereka: yaitu mereka sama-sama peduli, memberi, dan ikhlas.

Saya teringat dengan sebuah cerita nyata kisah seorang lulusan Nanyang Technological University di Singapura bernama Ferry Anggoro. Ia bercerita melalui akun sosial media, bagaimana ia yang seorang yatim piatu bisa berkuliah di salah satu universitas terbaik dunia tersebut. Ia menceritakan bahwa ia berusaha keras mendapatkan beasiswa penuh. Namun untuk mendapatkan beasiswa penuh ini, bukannya mudah. Ia harus melakukan seleksi wawancara dengan representatif NTU selama 15 menit. Namun, masalah sebenarnya bukan dengan wawancaranya, namun ia tidak mahir berbahasa inggris! Ini benar-benar masalah besar, karena percuma jika dia diterima, namun tanpa beasiswa akan mustahil bisa berkuliah disini.

Akhirnya ia meminta bantuan seorang guru bahasa Inggris yang telah mengajarnya di sekolah selama 3 tahun, bernama Miss Nanie. Tanpa keraguan Miss Nanie langsung mengiyakan dan mengatakan kepadanya untuk datang sepulang sekolah atau ketika ada waktu untuk berlatih. Miss Nanie berlakon seperti pewawancara dan memberi masukan mengenai grammar dan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan. Singkat cerita Ferry akhirnya berhasil lulus di NTU dengan beasiswa penuh atas bantuan gurunya tersebut. Meskipun bagi Miss Nanie bantuan yang ia berikan hanyalah sedikit, tidak seberapa dan sebenarnya sudah merupakan kewajibannya sebagai guru, bagi Ferry itu adalah sesuatu yang merubah hidupnya. Pertolongan yang diberikan Miss Nanie ini, mengubah hidupnya dan akan menjadi sesuatu yang diingat sampai kapanpun.

Nah, sahabat muslimah, apakah kita bisa menyebut Miss Nanie sebagai pahlawan? Ia peduli, memberi dan ikhlas. Bukan dengan aksi heroic atau diplomatis yang mengancam nyawa, melainkan dengan caranya sendiri, dengan kepedulian dan cara yang elegan, kita bisa merasakan bahwa sebenarnya miss Nanie juga bisa disebut pahlawan. Mungkin tidak bagi seluruh orang, namun paling tidak, ia telah menjadi pahlawan bagi muridnya tersebut. Ini pun masih termasuk kategori pahlawan.

Malala dan Miss Nanie, keduanya merupakan hero. Dan juga merupakan seorang muslimah. Muslimah yang ibaratkan oasis di tengah padang pasir, yang menyejukkan dan senantiasa memberi manfaat untuk sekitarnya. Mereka memberikan manfaat dengan cara yang berbeda, namun tetap sama-sama membuktikan bahwa muslimah itu luar biasa. Muslimah itu punya power, dan muslimah itu lebih kuat daripada kelihatannya.

Dari cerita-cerita di atas, kita bisa menarik sebuah pemahaman. Kita bisa menjadi pahlawan dengan cara kita sendiri, tidak peduli apakah kita seorang wanita atau laki-laki, orang yang kuat ataupun memiliki berbagai keterbatasan, melakukan perbuatan kecil maupun besar, karena sejatinya, seorang pahlawan itu tidak butuh pengakuan, namun ia adalah seseorang yang terus melakukan kebaikan, selalu memberikan manfaat bagi orang lain tanpa mengharapkan pamrih dan penghargaan, bahkan tidak ingin disebut sebagai “pahlawan”.

Jadi, sahabat muslimah, sudah siapkah untuk beraksi? Tidak perlu melakukan hal-hal yang besar, cukup mulai dari hal-hal kecil disekitar kita. Membantu orang-orang yang kesusahan di sekitar kita, saling mendoakan dalam kebaikan dan ikhlas, tidak mementingkan diri sendiri, maka sebenarnya kita juga telah menanamkan jiwa pahlawan dalam hati kita. Because everyone is a hero! And be a hero in our own way!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *