#CeritaPyan : Muslim Rikkokai (Part 2)

#CeritaPyan : Muslim Rikkokai (Part 2)

Barangkali salah satu ketidaknyamanan menjadi minoritas adalah melakukan segala sesuatu sendirian, sulit menemukan teman untuk bersama sama menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Hal ini mengusik saya untuk mengajak teman-teman muslim ASEAN yang ada di asrama Rikkokai untuk setidaknya bersama-sama memeriahkan bulan Ramadhan. Saya pun berinisiatif membuat grup chat whatsapp.

Di asrama tempat saya tinggal terdapat 8 orang muslim yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darussalam. Walaupun satu asrama dan satu kampus, kami tidak terlalu sering bertemu mengingat kelas yang kami ambil berbeda-beda. Kalaupun ketemu biasanya itu di dapur atau toilet dan tak banyak interaksi yang dilakukan.

Lewat cara klasik, acara pertama yang kami buat adalah: buka bersama. Saya mengajak mereka untuk buka bersama di sebuah restaurant italia dekat asrama, Prone Pane. Pemilik restaurant ini adalah seorang muslim Banglades yang menyediakan makanan halal dan tempat shalat di dalam restaurannya. Semua sepakat dan kami pun menentukan hari serta waktu ketemu.

Sepulang dari kampus dengan berbagai kegiatan kami bersama menuju Prone Pane. Wajah kucel seharian menahan lapar mulai memudar dengan gelak tawa khas Asia Tenggara. Percakapan yang meramaikan jalan yang kami lewati masih berlanjut hingga di tempat tujuan. Rasanya tak ada yang lebih lega dari pada menggunakan bahasa lidah sendiri, boleh lah cakap melayu sikit.

 

Kira-kira 30 menit kami menunggu sebelum akhirnya kami bisa menenggak air putih dan berbagai minuman yang ada di meja. Alhamdulillah pemilik restauran memberikan servis minuman secara cuma-cuma untuk iftar. Wah yaini yang namanya ramadhan Mubarak, hehe. Untuk makan, saya pilih menu kare mengingat sangat susah menemukan kare Jepang yang halal. Biasanya yang dijual di pasaran di dalam bumbunya mengandung ekstrak daging babi atau sapi.

Allahumma lakasumtu wabika aamantu, birahmatika yaa Arhamar Rahimin,

Itadakimasu!

Acara selesai dan waktunya membayar. Hehe.. seperti biasa, saya selalu garuk-garuk dompet setiap kali berbelanja atau makan. Biaya hidup di Tokyo memang super mahal, terlebih untuk kasus khusus restaurant halal. Untuk hal-hal seperti ini biasanya saya siasati dengan strategi subsidi silang: berarti besok saya makan telur ceplok saja. Alhamdulillah, bersyukur masih dapat rizki makanan.

Agar tidak hanya bersenang-senang saya mengajak teman-teman untuk tarawih berjamaah. Di asrama memang tidak ada mushollah. Tapi untungnya pengurus asrama memperbolehkan kami menggunakan ruang belajar setelah jam operasional selesai. Biarpun sudah mulai sedikit mengantuk kami pun shalat teraweh pukul 10 malam. Dan itulah tarawih berjamaah pertama saya di Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *