Merdekanya Hidup

Merdekanya Hidup

Oleh: Nunik Sugiani

Staff Muslimah Learning Center FSI FEB UI 2016

 

 

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”(Alinea 1 UUD 1945)

Assalamualaykum akhwat fillah. Karena masih di bulan-bulan perjuangan, jadi belum terlambat kan untuk menyampaikan salam kemerdekaan, hehe. Dirgahayu Republik Indonesia. Tanahku, Negeriku yang kucinta. Hiduplah Indonesia Raya.

Memikirkan kembali penggalan teks UUD 1945 di atas seperti menunjukkan betapa kuat makna teks itu baik secara historis maupun secara konteksnya sendiri. Negeri ini, 71 tahun lalu dimerdekakan dengan darah dan air mata para pahlawan yang berjuang tanpa mengenal takut. Kekuatannya seruan takbir, prinsipnya “merdeka atau mati”. Maka mujahadah-mujahadah yang tiada pernah mengenal lelah itu lah yang akhirnya atas izin Allah mengantarkan Indonesia merdeka sampai hari ini, di umur yang tidak lagi muda, tujuh puluh satu.

Namun bukan itu yang ingin ditekankan pada bahasan kali ini. Kita boleh berbangga negeri kita telah merdeka, pemerintahan dapat dijalankan secara berdaulat tanpa campur tangan penjajahan, akses bebas tidak terbatas  pada informasi apapun yang ada di seluruh dunia, tak perlu lagi takut-takut bersuara karena kemerdekaan bersuara pun dilindungi, dan pada intinya kita telah merdeka, dan boleh jadi telah BEBAS. Sampai pada poin ini, kita hidup dalam negeri di masa akhir zaman yang kata “merdeka” berarti “bebas”.

Adakah kita sempat berpikir, negeri yang sudah merdeka ini diisi pula dengan orang-orang yang merdeka jiwanya? Ya, merdeka lahiriah dan batiniah.  Tidak usah dahului dengan saling tunjuk, si ini begini dan si itu begitu. Lihat saja pada diri sendiri. Kyai Abdullah Gymnastiar dalam ceramahnya di masjid Daarut Tauhid Bandung menegaskan bahwa merdeka adalah Laa ilaaha Illallah (Tiada Illah kecuali Allah).

Akhwat fillah, Ilah adalah sesuatu yang dengan itu menjadikan kita mau melakukan apapun demi sesuatu tersebut. Apakah selama ini Ilah kita benar hanya Allah? Atau jangan-jangan dalam diri kita nampak kemusyrikan-kemusyrikan kecil yang bisa jadi kalau kita senantiasa mempertahankannya akan batal keimanan kita? Manusia pada akhir zaman seperti kita ini seringkali memiliki banyak Ilah. Boleh jadi kita pernah menghamba pada simbol, batu, atau barang-barang yang dianggap keramat dan berkekuatan (Aalihah), boleh jadi pada hukum yang selain hukum Allah (Thagut), atau lebih sering menghamba pada kecintaan kita terhadap harta, orangtua, rumah, kekayaan,dll (Andad), atau malah pernah kita fanatik atau mengkultuskan seseorang (Arbab), dan yang terakhir ini adalah yang paling halus dan jarang kita menyadarinya jika hati dalam keadaan yang tidak berdzikir, yakni hawa nafsu. Lima hal tersebut mana yang sering melalaikan kita dari sesunguh-sungguhnya Ilah yaitu Allah, ukhti fillah? Naudzubillah mindzalik.

Pahamilah ukhti, bahwa seseorang dikatakan merdeka jika tak menghamba pada apapun kecuali Allah. Merdeka jiwanya sebagai seorang muslim yang menghamba pada Allah dan senantiasa ada dalam koridor aturan-aturan islam, bukan merdeka semu yang bebas tidak berbatas. Tidak menghamba pada Poke***mon Go, Clas**h of Clan**s, Dot**A, atau apalah itu yang sedang menjadi trend saat ini. Juga tidak menghamba pada Faceb*ook, Instag*ram, Teleg*ram, Whatsa*pp, Line*, atau socmed macam apapun. Apalagi meghamba pada ikhw*an php yang memperlakukan wanita seolah jemuran (digantung mulu sih wakwakwak). Not at All Ukh..

Tapi realitanya sekarang? Bagaimana lah ini Ukh. Ke kampus hape ketinggalan seolah-olah hati yang ketinggalan (#eaaak), kuota internet habis seperti nyawa saja yang mau habis, bangun tidur facebook, sarapan instagram, di jalan cek WA sambil berburu pokemon, mau sholat cek love di intagram, selepas sholat cek handphone lagi, ngobrol sama teman sambil mainan handphone, pulang handphone, ngumpul keluarga masing-masing mantengin gadgetnya sendiri, bahkan mau tidur harus chattingan dulu. Atau biasanya (kalau masih ada yang baperan dengan lawan jenis), sehari serasa tidak ada hari jika tanpa pesan singkatnya doi (euuh), atau jadi baper karena hanya diread saja (hmm), atau tidak diread tapi sudah ganti depe (heuheu repot sekali ya anak muda sekarang). Begitulah, itu hanya contoh-contoh kecil yang bertebaran seperti debu di sekitar kita.

Lantas waktu kita dzikrullah kapan Ukh? Mana waktu menghamba pada Allah? Padahal setiap tarikan nafas kita bisa jadi amal shalih kalau kita meniatkannya, tapi malah kita lakukan hal-hal lain yang sia-sia, Naudzubillah. (Semoga baikpenulis maupun pembaca artikel ini selalu dalam lindungan Allah dari hal-hal yang sia-sia).. Betapa malu kita dengan generasi-generasi orang terdahulu, salafusshalih yang hidup pada menghamba hanya untuk Allah. (tanpa melupakan bahwa ujian setiap generasi sudah tentu berbeda).

Ketika kegiatan, perangkat-perangkat, orang atau apapun yang sepertinya sudah menjadi candu bagi kita, maka segera cek tauhid dalam hati kita. Sekiranya ada lubang yang harus segera kita tambal, ada kerikil yang harus kita singkirkan, racun yang harus segera kita netralisir sampai hati kita kembali menjadi qolbun salim (hati yang selamat). Jika tidak berhati-hati dan jarang bermuhasabah (introspeksi diri), besar kemungkinan kita memiliki Tuhan-Tuhan baru selain Allah. Naudzubillah ya Ukh,

Kita tidak mengatakan harus kita tinggalkan semua itu yang barangkali juga mempunyai banyak manfaat dan mempermudah kehidupan kita sehari-hari. Tidak. Hanya, bijaklah dalam menyikapi semua hal dalam hidup. Adil lah dalam memperlakukan apapun. Berikan hak atas hal-hal tersebut secukupnya, sewajarnya, sehingga kita tidak bisa disebut menghamba pada telepon pintar atau yang lainnya, tapi menghamba pada Allah semata. Semoga tauhid senantiasa terjaga dalam hati dan  kita terhindar dari dosa-dosa berupa kemusyrikan yang nampak maupun yang tidak nampak yang dapat membatalkan keimanan kita, karena keselamatan adalah kepastian bagi orang-orang yang dalam hatinya terdapat keimanan walau hanya sebesar dzarrah. Allahumma Aamiin.. Wallahu a’lamu bisshowab

Selamat memperbarui keimanan setiap hari! J

Wassalamualaykum warohmatullah wabarokatuh,

One thought on “Merdekanya Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *