Menutup Warung Makanan Di Siang Hari Pada Bulan Ramadhan, Salahkah?

Menutup Warung Makanan Di Siang Hari Pada Bulan Ramadhan, Salahkah?

Menutup Warung Makanan Di Siang Hari Pada Bulan Ramadhan, Salahkah?

Oleh: Hanitya Faradila

Staff Departemen Study and Research of Islamic Economic and Business FSI FEB UI 2016

 

Dewasa ini masyarakat Indonesia sedang diramaikan oleh berita mengenai penutupan paksa warung yang buka pada siang hari di bulan puasa oleh Pemerintah Kota Serang. Hal tersebut banyak menimbulkan pro dan kontra di masyarakat karena pada dasarnya masih ada beberapa orang yang tidak berpuasa karena sedang berhalangan ataupun karena mereka non-Islam. Tentunya, mereka membutuhkan asupan makanan.

Beberapa orang berpendapat bahwa menutup warung tersebut merupakan hal yang tepat untuk menghormati orang-orang yang berpuasa. Selain itu aturan ini pada kenyataannya bersumber dari masyarakat dan ormas-ormas yang menginginkan suasana yang produktif pada bulan ramadhan. Di lain pihak, beberapa orang yang berpihak pada pembukaan warung di bulan puasa beranggapan jika manusia diperintahkan oleh Allah untuk menahan nafsu laparnya bukan malah menutup warung apalagi manusia bukan hanya menahan diri dari nafsu lapar, namun juga nafsu haus dan nafsu untuk berbuat keburukan. Jadi penutupan warung tersebut dianggap kurang relevan dalam menghadapi hal itu. Ditambah keterangan Pemerintah Kota Depok jika SATPOL PP dalam tugasnya menangani permasalahan penutupan warung ini tidak berjalan sesuai prosedur. Seharusnya petugas hanya menutup warung bukan malah menyita dagangan mereka. Karena kebanyakan dari masyarakat yang tetap berjulan tersebut beralasan mengenai masalah ekonomi.

Pada dasarnya Allah melarang kita untuk saling tolong-menolong (ta’awun) dalam dosa dan maksiat serta Allah memerintahkan kita untuk mengagungkan semua syiar Islam, seperti pada ayat : “Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2). Dan ayat “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj: 32). Namun beberapa orang yang mempunyai hajat hidup baik dari segi pangan maupun ekonomi. Oleh karena itu dzimmah pedagang (tanggungan secara agama-red) sudah lepas dengan adanya nasehat yang kita diberikan kepada mereka dan pengingkaran yang anda lakukan atas tindakan mereka tidak berpuasa di siang bulan Ramadhan. Jadi, jika mereka mau merespon, alhamdulillah tetapi jika tidak, maka dosanya mereka yang akan menanggungnya sendiri. Selain itu pedagang dapat menutupi dagangannya dengan kain atau berdagang pada selang waktu yang sudah ditentukan bersama. Sehingga ibadah puasa di bulan ramadhan ini dapat terlaksana dengan lebih baik.

Dalam pandangan ekonomi pun perlu dipahami bersama bahwa di dalam berbisnis tidak hanya keuntungan materil yang bisa kita dapatkan. Namun terdapat keuntungan non materil yang sebenarnya lebih besar yang dapat kita raih. Jika kita membuka warumg makan menjelang berbuka, untuk memberi makan orang yang akan berbuka puasa, walaupun kita tidak mendapat untung pada penjualan siang hari. Namun ada keuntungan non materil yang besar yang dapat kita peroleh, yakni mendidik umat muslimin untuk bisa menahan diri dari makan dan minum. Ini tentu saja dapat menghasilkan pahala.

 

Referensi :

http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihatfatwa&id=974

http://nasional.kompas.com/read/2016/06/11/18450861/larangan.warung.buka.saat.bulan.puasa.dinilai.merusak.citra.islam.dan.toleransi

http://www.kompasiana.com/telomania/melarang-buka-warung-rumah-makan-di-jam-puasa-pada-bulan-ramadhan_55019947a33311376f513a50

http://www.tribunnews.id/2015/06/fiqih-hukum-buka-warung-makan-di-siang.html?m=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *