Menilik Bullying dari Berbagai Sisi

Menilik Bullying dari Berbagai Sisi

Assalamualaikum,Sahabat!

Tahukah kamu?
Akhir-akhir ini, publik dikagetkan oleh beredarnya video perploncoan yang beredar di dunia maya, mulai dari anak SD yang saling jambak-menjambak hingga mahasiswa yang menindas temannya yang berkebutuhan khusus.

Bullying bukanlah istilah baru, bukan pula masalah yang akhir-akhir ini baru mencuat. Sekitar 84 persen anak Indonesia mengaku pernah mengalami bullying di sekolah. Sudah banyak pakar yang berbicara tentang permasalahan ini, mulai dari psikolog hingga pendidikan.

Lantas, bagaimana pandangan Islam terhadap fenomena yang satu ini? Adakah solusinya?

The Act

Bullying secara sederhana dapat dikategorikan menjadi tiga jenis,
bullying fisik, bullying verbal, dan bullying secara psikologis.

Bullying fisik yaitu berupa tindakan abusif yang secara fisik menyakiti seperti menampar, menjambak, memukul, dsb. Selanjutnya bullying secara verbal, layaknya berkata-kata kasar, mengejek, memberi julukan tidak enak atau bahkan menyebarkan fitnah.

Dan yang terakhir adalah bullying secara psikologis, dalam hal ini si korban akan merasa dijauhi, terdiskriminasi, dan dipermalukan. Islam sendiri sangat keras melarang perbuatan yang merendahkan sesamanya, tersurat dalam firman Allah SWT di QS Al-Hujurat ayat 11.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

The Cause

Penyebab seseorang mampu melakukan penindasan pun bermacam-macam, dan kebanyakan merupakan campuran dari berbagai faktor yang ada. Salah satunya adalah faktor budaya, terutama budaya yang meletakkan tinggi kemenangan, kekuatan serta kekuasaan. Tak heran jika beberapa orang mengartikannya dengan melakukan kekerasan dan penindakan sebagai cara dalam mempengaruhi orang-orang.
Padahal, dalam Al-Qur’an sudah diperintahkan untuk berlaku lemah lembut kepada sesama, seperti dalam QS Ali-Imran ayat 159:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

Alasan lainnya adalah karena faktor sosial. Orang-orang terdekat seperti keluarga, teman, atau bahkan media jelas dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang. Manusia, terutama anak kecil, pada awalnya pasti belajar dengan cara meniru orang lain, imitasi. Akan tetapi, jika orang-orang disekelilingnya saja menunjukkan sikap yang merendahkan atau tontonan anak tersebut berupa kekerasan dan tayangan lain yang mengajak pada keburukan, tak mengherankan apabila sang anak kemudian turut megikuti perbuatan tersebut. Karena bagi mereka, penindasan merupakan hal lumrah yang semua orang kerjakan.

The Effects

Pada akhirnya, bullying akan berdampak pahit bagi semua yang terlibat. Bagi pelaku, bullying akan membuat mereka memiliki rasa percaya diri berlebihan, berwatak keras, dan kepercayaan bahwa segalanya dapat diraih dengan kekerasan. Bahkan, salah satu studi mengklaim para pelaku juga memiliki masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, gangguan pencernaan, dan gangguan psikosomatis sama seperti korbannya atau bahkan lebih parah[1].
Sementara bagi para korban anak yang ter-bully cenderung depresi, mudah sakit kepala, sakit punggung, dan anxiety attacks.

Menurut penelitian NICHD, para korban memiliki risiko lebih besar dalam mengidap kelainan mental ketika dewasa. Tindakan penindasan ini akan meninggalkan residu berupa “stress beracun” yang jika tidak ditangani sedari kecil akan berdampak pada gangguan mental. Disamping gangguan kesehatan dan psikis, para korban juga pastinya memiliki kepercayaan diri yang rendah, rendah diri, stress serta depresi ringan, dan tak jarang para korban mencari jalan pintas dengan melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

The Solution

Lantas, apa yang harus kita lakukan jika melihat salah satu dari teman kita menangis di toilet karena diejek oleh teman-temannya? Atau adik yang pulang dari sekolah dengan muka lebam dan mata berkaca-kaca?

Bagi saya, jawabannya cukup sederhana, yaitu dengan melawan tindakan bullying itu sendiri. Di sini, melawan bukan berarti kita balas dendam terhadap pelaku, atau melampiaskannya dengan menindas orang lain. Justru dengan melakukan hal tersebut para pem-bully itu telah menang.
Melawan disini berarti kita berusaha mengurangi tindakan penindasan itu sendiri dengan berbagai cara, seperti melaporkannya kepada pihak yang berwenang, bersikap tenang serta acuh jika mereka mulai mengkonfrontasi, dan memberikan bantuan dukungan moral dan mental kepada korban, menasehati pelaku, serta usaha lain. Karena dengan melawan tindakan bullying, kita tidak hanya membantu para korban, tetapi juga para pelakunya, seperti Hadits Riwayat Bukhari: (Vol.
“Diriwayatkan Anas:
Rasul Allah berkata, “Bantulah saudaramu, apakah ia adalah penindas atau ia adalah seorang yang tertindas. Orang-orang bertanya, ”Wahai Rasulullah! Tak apa-apa untuk membantunya jika dia adalah tertindas, tapi bagaimana kita harus membantunya jika dia adalah penindas.“ kata Nabi, ”Dengan mencegah dia dari menindas orang lain.”

Terakhir, bagi siapapun di luar sana yang merasa menjadi korban, saksi, atau pelaku dari tindakan bully jangan malu untuk meminta uluran tangan. Diluar sana banyak orang-orang yang bersedia memberikan bahu, tangan, dan dukungan agar mereka yang terjerat permasalahan bullying dapat keluar tanpa ada dampak buruk yang kentara. Tetap bersabar dan tawakkal kepada Allah SWT, karena Allah pasti tidak pernah memberikan ujian yang tak mampu hambanya lewati.

Sumber
[1] Kaltiala-Heino, R., Rimpelä, M., Rantanen, P., & Rimpelä, A. (2000). Bullying at school. An indicator of adolescents at risk for mental disorders. Journal of Adolescence, 23, 661–674

Bullying, Islam & Everything In Between

How to Help Bullying Victims (4)

Dampak Serius Bullying Pada Kesehatan Saat Anak Dewasa

Why do People Bully?

Statistik Bullying di Indonesia Tinggi, Hentikan Bullying di Sekolah!


http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/14/08/04/n9s2ek-bullying-kekeliruan-yang-membudaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *