Mengenal Zakat: Haruskah Ditunaikan Melalui Lembaga Amil Zakat?

Mengenal Zakat: Haruskah Ditunaikan Melalui Lembaga Amil Zakat?

oleh: Widya Ananda Kinanti

 Staff Departemen Study and Research of Islamic Economic and Business  FSI FEB UI 2016

 

Zakat merupakan kata yang sudah tidak asing lagi didengar oleh kita kaum muslimin, dimana kata ini  selalu hadir mendampingi perintah shalat dalam Al Qur’an. Walaupun masyarakat muslim sudah tak asing lagi dengan kata ini, masih terdapat perbedaan pandangan diantara mereka mengenai penyaluran zakat, tentang apakah rukun Islam ketiga ini dapat disalurkan secara langsung oleh muzakki ataukah harus melalui lembaga amil zakat. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai penyaluran zakat, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu zakat dan dalil-dalil yang mewajibkannya.

 

Secara bahasa, kata zakat merupakan kata dasar dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sedangkan, dari segi fikih, zakat berarti “Sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak” disamping berarti “mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri.” Jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluarkan itu menambah banyak, membuat lebih berarti, dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan.”

Dalil yang mewajibkan tentang wajibnya zakat bagi muslim terdapat pada firman Allah:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ صلى إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ قلى وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

 “Pungutlah zakat dari kekayaan mereka, engkau bersihkan dan sucikan mereka dengannya dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 9: 103)

Zakat bukanlah suatu hal yang baru dalam peradaban manusia. Bagi umat-umat terdahulu pun Allah SWT telah mewajibkan kepada mereka untuk menunaikannya. Hal ini dapat kita temukan pada firman Allah berikut, dimana Allah memerintahkan kepada Ibrahim, Ishaq, dan Yakub untuk menunaikan zakat.

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ صلى وَكَانُوا لَنَا عَابِدِيْنَ

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah (QS. 21:73)

 

dan begitu pula kepada Ismail,

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِاالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. (QS. 19:55)

 

serta kepada Bani Israil

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيْلَ لَاتَعْبُدُونَ إِلَّا اللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِى الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَقُوْلُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيْلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

 

Perintah zakat hadir bukan hanya semata-mata sebagai bentuk ketakwaan umat manusia kepada Allah SWT, namun ia juga hadir sebagai solusi dalam mengetas masalah moral, sosial, dan ekonomi. Ia berfungsi mengikis habis ketamakan dan keserakahan si kaya, menghapus kemiskinan dengan mengingatkan si kaya akan tanggung jawab sosial yang mereka miliki terhadap masyarakat miskin, serta mencegah penumpukan kekayaan dikalangan segelintir orang saja. Oleh karena itu penyaluran dalam zakat harus diperhatikan bahwa subjek penerima zakat haruslah memenuhi kriteria tertentu seperti firman Allah berikut.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِي سَبِيْلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ صلى  فَرِيْضَةً مِنَ اللهِ قلى وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

 Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:60)

 

Para ulama berpendapat bahwa pada penyaluran zakat secara langsung tanpa melalui pengelola zakat adalah sah, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Apabila tidak ada amil, atau amil tidak berjalan dengan baik, kewajiban berzakat tetap harus ditunaikan. Keberadaan lembaga amil zakat disini membantu dalam ijtihad penentuan siapa sajakah yang termasuk dalam kriteria 8 ashnaf. Jadi, tidak masalah jika seseorang memutuskan untuk menunaikan zakat tidak melalui lembaga amil zakat dengan catatan, dia harus bertanggung-jawab kepada Allah SWT secara langsung di hari kiamat nanti, apabila ternyata dia salah dalam memberikan harta zakat.

 

Walaupun begitu, penyaluran zakat sangat dianjurkan melalui sebuah lembaga yang khusus menangani zakat, karena hal ini sudah dipraktekkan sejak zaman Rasulullah, Khulafa al-Rasyidin, serta generasi-generasi penerusnya. Pada waktu itu zakat dikelola oleh sebuah lembaga yang disebut Baitul Mal. Penunaian wakaf melalui lembaga amil zakat selain mempermudah muzakki juga dapat mendorong pendistribusian zakat sacara merata. Sejarah mencatat, salah satu masa kegemilangan ekonomi Islam adalah ketika pemerintahan melakukan manajemen zakat yang baik, yang mana berdampak pada perekonomian secara makro suatu negara. Masa tersebut ialah pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Dalam kekuasaannya yang sangat luas kala itu, meliputi benua Asia, Afrika, dan Eropa tidak satupun jiwa diantara kaum muslimim sudi menerima zakat. Hal itu mengimplikasikan bahwa manajemen zakat yang baik terbukti dapat mengetas kemiskinan.

 

Penulis menyimpulkan bahwa tidak ada kewajiban untuk menyalurkan zakat melalui lembaga. Namun, melihat besarnya manfaat dari penyaluran zakat melalui lembaga amil zakat, terlebih jika lembaga amil zakat telah melakukan manajemen zakat yang baik, maka penulis menganjurkan menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi:

Al-Qur’an

Al-Ba’ly, Abdul Al-Hamid Mahmud. 2006. Ekonomi Zakat: Sebuah Kajian Moneter         dan      Keuangan Syariah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Azhary, H. M. Tahir, Uswatun Hasanah, Zainal Arifin, dkk. 2000. Buku A: Zakat dan       Wakaf. Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Qardawi, Yusuf. 1996. Hukum Zakat. Jakarta: PT Pustaka Litera AntarNusa dan Mizan

http://www.eramuslim.com/konsultasi/zakat/haruskah-zakat-pakai-izab

qobul.htm#.V2pBprh942w

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1375811786&title=zakat-lewat-amil-kurang

mantab-rasanya

https://zakat.or.id/sejarah-kegemilangan-zakat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *