Memperingati International Hijab Solidarity Day

Memperingati International Hijab Solidarity Day

oleh Nadiyah Amatul Haq, IEI 2013
BEM FEB UI 2015

Apa yang terlintas dipikiranmu ketika pertama kali mendengar kata ‘hijab’?

Penutup aurat? Ya. Kewajiban seorang muslimah? Tentu. Namun pernahkah kita berpikir lebih jauh dari itu?

Mungkin masih banyak dari kita yang menganggap bahwa mengenakan hijab hanya bagian dari sebuah kewajiban, tanpa berusaha untuk memaknai hal tersebut. Awalnya saya pun begitu, dan hal tersebut sama sekali tidak salah. Namun, alangkah baiknya jika kita lebih mendalami lagi pentingnya memakai hijab bagi seorang muslimah. Sehingga kita tidak hanya menjalankan perintah-Nya, namun juga memaknainya. Saya memiliki pandangan versi saya mengenai hijab, dan pentingnya berhijab. Islam amat memuliakan kaum wanita, sehingga kita sebagai muslimah wajib untuk menjaga serta memelihara kehormatan diri kita. Salah satu cara untuk menjaganya adalah dengan mengenakan hijab. Tentu kita tidak ingin perhiasan indah yang kita miliki menjadi seakan tidak berharga, bukan? Selain itu, hijab juga menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Dengan mengenakan hijab, berarti kita sudah selangkah lebih maju untuk lebih dekat kepada-Nya, dimana hal tersebut akan memicu perbaikan – perbaikan selanjutnya dalam diri kita.

Cerita saya pertama kali mengenakan hijab diawali dengan kedua orang tua saya yang memang telah mengenal islam dengan baik, sehingga sejak kecil saya sudah mengenakan jilbab. Di satu sisi saya merasa bersyukur, karena saya dilahirkan di keluarga yang memang menjunjung tinggi nilai – nilai islam. Namun disisi lain, saya merasa sedikit iri mendengar cerita dari beberapa teman saya yang mengenakan kerudung berdasarkan keinginannya sendiri. Karena menurut saya, ketika seseorang mengenakan hijab berdasarkan keinginannya sendiri, ia akan lebih memaknai ‘hijrah’nya dibandingkan dengan seseorang yang mengenakan kerudung karena faktor kebiasaan atau paksaan. Mulanya, saya merasa penggunaan jilbab saya hanya karena kebiasaan yang saya miliki sejak kecil. Ditambah lagi ketika di bangku Sekolah Dasar, saya sekolah di SD Islam yang memang mewajibkan murid – muridnya memakai jilbab. Sehingga esensi dari memakai jilbab baru saya dapatkan beberapa tahun belakangan ini, tepatnya ketika di bangku kuliah. Mata saya seakan terbuka lebar, saya merasa banyak hal yang saya baru sadari dan pelajari ketika memasuki bangku kuliah. Hal tersebut juga didukung oleh lingkungan pergaulan kampus yang banyak merubah pola berpikir saya, sehingga saya cukup banyak mendapatkan insight mengenai pentingnya berhijab. Hingga sekarangpun, saya masih berusaha untuk memaknai hijab yang saya kenakan, dan masih berusaha untuk berhijab sesuai dengan aturan-Nya.

Hari ini, 4 September, merupakan hari diperingatinya International Hijab Solidarity Day (ISHD). Mungkin banyak dari kita yang masih merasa asing dengan peringatan ini. IHSD menjadi hari bersejarah dimana para wanita muslim 11 tahun lalu bersama – sama menggelar aksi yang dipicu oleh pelarangan menggunakan simbol keagamaan oleh pemerintah London, yang kemudian diadakanlah Konferensi London untuk membahas hal tersebut. Konferensi tersebut menghasilkan beberapa keputusan, yaitu dukungan terhadap penggunaan hijab, penetapan International Hijab Solidarity Day (IHSD), serta rencana untuk membela hak muslimah mempertahankan hijabnya. Menurut saya, hari solidaritas hijab internasional ini dapat menjadi momen dimana dunia seharusnya menyadari bahwa para muslimah di dunia memiliki hak yang sama untuk mengenakan simbol keagamaan mereka yaitu hijab, terutama pada muslimah yang bertempat tinggal di lingkungan minoritas muslim. Dan kita, sebagai muslimah di negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia, juga patut bersyukur karena kemudahan dan lingkungan yang amat mendukung untuk mengenakan hijab. Saya berharap ke depannya tidak ada lagi diskriminasi yang dirasakan oleh muslimah di berbagai belahan dunia, dan semoga dengan diperingatinya hari ini semakin menambah keimanan dan rasa syukur sehingga ke depannya kita semakin memaknai esensi dari hijab itu sendiri. Aamiin.

Itu cerita hijab versiku, bagaimana cerita hijab versimu? J

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *