Mamak, Aku Ingin Pulang.

Mamak, Aku Ingin Pulang.

Oleh: NN

Staff Departemen Muslimah Learning Centre FSI FEB UI 2016

 

Merantaulah…

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jka tidak, akan keruh menggenang

Jika matahari di orbitnnya tak bergerak dan terus berdiam,

Tentu enggan dan bosanlah untuk memandang

Merantaulah,

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman

(Nasihat Imam Asy-Syafi’i)

 

Hai kamu, para perantau. Apa kabar kampung halaman? Apa kabar Mamak dan Ayah kamu di kampung? Apa kabar kenangan-kenangan kamu di kampung? Adik-adik kamu? Teman-teman lama kamu? Dan yang lebih penting, apa kabar UAS? Hhhh..

Di minggu-minggu genting seperti ini, perasaan anak rantau memang sudah tidak menentu. Merindui kampung halaman, namun apalah kata harus bertempur dulu dengan ujian, tugas akhir semester yang semakin seenaknya saja menumpuk atau mungkin sengaja ditumpuk, kuis-kuis yang semaunya bemunculan bagai jamur di lelembaban, essay sana sini, kepanitiaan dimana-mana, deadline tugas organisasi, sampai jerawat sana sini karena stress dan lain-lain dan lain-lain. Fix semuanya membuat demot dan kobam. Berhenti sebentar, tarik napasmu pelan-pelan dan keluarkan.  Hhhh

Barangkali kita memang butuh bernapas, tapi kita tidak butuh mengeluhkan semua itu. salah sendiri jadi mahasiswa UI. (ehhh). Yasudah, kembali ke anak rantau. Beban anak rantau tidak berakhir sampai pada yang telah tersebut sebelumnya, mereka juga harus menanggung beban kerinduan.  (eaaa)  Whatsapp, Video call Line, Kakao talk, dan segala macam aplikasi yang katanya mampu mendekatkan yang jauh pun nyatanya tidak mampu membuat jalanan itu terasa pendek karena tidak adanya pertemuan fisik. Pingin cepat pulang ya? (sama, saya juga wg). Mungkin lirik “only hate the road when you missing home” benar adanya. Semua yang menenangkan anak rantau, muaranya adalah pada pulang. Right? Tentang pulang, saya jadi teringat kisah kakak sepaguyuban yang beberapa hari yang lalu benar-benar pulang untuk “pulang”. Itu duka? Barangkali iya, tapi bukan. Adalah kepulangan yang menenangkan, gugur sebagai pembelajar sejati.

Syair Imam Syafi’i tentang merantau, mungkin sedikit banyak menambah ketabahan untuk kamu (anak-anak rantau). Bertahan hidup di tengah keterasingan yang sebelumnya tidak kau kenal membuatmu benar-benar menjadi setangguh “keterasingan” itu sendiri. Saya tidak ingin memberikan tips bagaimana mengatasi rindu kampung halaman, karena sudah barang tentu solusinya adalah pulang. Hehe.

Sekarang, coba cek lagi kapan terakhir kali kita mengingat keluarga di kampung atau bahkan di rumah (untuk yang PP). Atau jangan-jangan selama ini kita memang jauh secara fisik maupun secara ingatan?  Dan jangan-jangan ingatan yang sedikit tentang keluarga itu seringkali tertutupi oleh kesibukan-kesibukan yang melalaikan kamu dari mengingat mereka? Kesibukan belajar, kepanitiaan, berorganisasi, nugas dan lain-lain.  Dan lebih lanjut, berapa kali kamu menyebut orang-orang terkasih di kampung halaman di dalam doamu? Ataukah malah lebih sering kita menyegerakan sujud-sujud rakaat terakhir kita, sedangkan kita mengerti bahwa saat itu adalah waktu mustajab untuk berdoa? Atau memang selama ini kita hanya berfokus berdoa untuk kebaikan sendiri dan seolah tidak memiliki waktu un]tuk mendoakan yang lain sekalipun keluarga kita di kampung? Karena apa? Apakah lagi-lagi jawabannya adalah kesibukan?

Padahal ada atau tidak adanya diri kita di samping mereka barangkali tidak berpengaruh apa-apa. Namun tidak begitu dengan doa. Doa-doa yang membumbung di langit-langit sana, lebih kuat untuk memeluk mereka ketimbang keberadaan kita. Karena Allah yang jamin. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa, apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”(Qs. Al-baqoroh: 186).

So? Inti tulisan ini? Merantaulah seperti apa yang dinasihatkan Imam Syafi’i. Tapi jangan lupa keluarga walaupun hanya dengan cara sesederhana berdoa. Dan bermanfaatlah setelah itu. Jalan kebermanfaatan? Apalagi kalau bukan untuk pulang dan bermanfaat. J

Selamat merantau, Kamu!! Selamat menguat dan bermanfaat ketika pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *