Lima Alasan Terbaik untuk Memilih Ahok, yang akan Mengubah Hidupmu

Lima Alasan Terbaik untuk Memilih Ahok, yang akan Mengubah Hidupmu

Oleh: Muhammad Alif Naufaldi (kastrad.fsifebui@gmail.com)

Staff Departemen Kajian Strategis Dakwah FSI FEB UI 2016

 

Banyak ulama dan pemuka agama yang memberikan alasan untuk tidak memilih umat non muslim menjadi pemimpin bagi mereka. Ditambah lagi, ada seorang calon gubernur kontroversial yang mencalonkan diri menjadi gubernur di ibukota Indonesia, Jakarta. Banyak alasan yang dibuat oleh ulama dan pemuka agama untuk tidak memilih orang ini, namun saya berani menulis alasan untuk memilih orang ini, sesuai dengan dalil shahih, yakni Al-Quran.  Maka dari itu, penulis merangkum lima alasan terbaik untuk memilih Ahok. Adapun sangkalan penulis, alasan berikut hanya berlaku untuk umat muslim. Apa saja alasan tersebut?

  1. Jika ingin lepas dari pertolongan Allah

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (QS. Ali ‘Imran: 28)

  1. Jika ingin menjadi orang-orang yang zhalim yang tidak diberi petunjuk oleh Allah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZHALIM.”  (QS. Al-Maidah: 51)

  1. Jika ingin dianggap munafik dan mendapat siksaan yang pedih

Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan  yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (QS An-Nisa’: 138-139)

  1. Jika ingin menjadi orang yang fasiq

 

Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.” (QS Al-Maidah: 80-81)

  1. Jika ingin mendapat siksa Allah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS An-Nisa: 144)

 

Tidak ada dalil dalam Al-Quran yang membenarkan kita dalam memilih seorang yang kafir untuk menjadi pemimpin di antara kita. Apapun alasannya, memilih seorang kafir akan mendapat balasan yang pedih dari-Nya. Walaupun terjadi beberapa miskonsepsi seperti, “Lebih baik memilih pemimpin yang kafir, namun adil daripada pemimpin muslim namun zhalim”. Miskonsepsi ini bukan hanya terjadi di sekitar masyarakat kita, namun telah menjadi jebakan dan fitnah bagi umat islam. Pasalnya, ada beberapa fitnah yang dapat digali dari pernyataan ini. Fitnah pertama adalah tidak adanya dalil yang membolehkan memilih pemimpin yang kafir. Fitnah kedua yang dapat diamati adalah anggapan bahwa pemimpin muslim di Indonesia semuanya zhalim, padahal begitu banyak pilihan yang sama pantasnya atau lebih dibandingkan dengan orang zhalim ini. Ketiga, pernyataan yang dikutip dari Ibnu Taimiyyah ditempatkan tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa dalam konteks keadilan dan kesejahteraan, yakni jika seorang pemimpin berlaku adil maka Allah akan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat melalui keadilan tersebut, sekalipun dipimpin oleh pemimpin kafir.

Logika ‘memakan babi haram, kecuali pada saat keadaan terdesak dan daripada mati’ tidak dapat diaplikasikan dalam kasus memilih pemimpin yang kafir adil daripada muslim zhalim. Mengapa? Hal ini dikarenakan tidak terancamnya nyawa kita secara langsung atau bukan “dead or alive situation” dimana bila tidak dikerjakan, maka akan mati.

Seperti kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, dimana pada saat itu Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Terlihat dari kisah ini, menyembelih Ismail merupakan tindakan yang kalau dipikirkan dengan akal sehat terlihat sangat “bodoh” untuk menyembelih anak kesayangannya sendiri, padahal manusia tidak tahu apa yang sebenarnya dibalik itu semua. Sama seperti kisah ini, manusia diharapkan untuk tidak sombong dan menganggap bahwa pilihannya lebih benar daripada pilihan Allah hingga menyeberangi apa yang telah Allah tetapkan. Dibalik setiap hal pasti ada hikmahnya, termasuk dalam hal memilih pemimpin.

Jadi intinya, sayang gak sih amal perbuatan yang kita lakukan selama ini akan sia-sia jika kita memilih orang kafir sebagai pemimpin? Jika nantinya kita akan digolongkan menjadi orang yang fasiq, munafiq, dan zhalim, bila memilih pemimpin yang kafir?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *