Lebaran: Saatnya Selfie?

Lebaran: Saatnya Selfie?

Oleh: Nunik Sugiani

Staf Departemen Muslimah Learning Center FSI FEB UI 2016

 

Assalamu’alaykum, Cantik..

Bagaimana kabarnya?

Apa kabar hati kalian?

Masih sering sendu ditawan oleh kegalauan kah? Semoga tidak yaa..

Untuk muslimah di berbagai penjuru, pernah nggak sih kalian merasa cantik? Sebagian mungkin akan menjawab pernah, bahkan overestimate dengan kecantikan hayatinya itu. Lalu sebagian yang lain mungkin ragu dan bertanya-tanya, “Apa iya saya ini cantik?”

Ukhti, tahukah kamu bahwa Allah pernah bersumpah dengan empat hal berikut?

Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi gunung Sinai. Dan demi negeri Mekkah yang aman. Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS 95: 1-4)

Perhatikan dengan baik kalam Allah tersebut. Perhatikan bahwa manusia, baik laki‑laki maupun perempuan adalah ganteng dan cantik sejak awal diciptakannya di dunia. Sudah cukup menjawab bukan untuk ukhti-ukhti yang sering merasa tidak cantik?

Kembali kepada orang-orang yang overestimate tentang kecantikannya. Saking percaya dirinya mereka, bertebaranlah foto-foto selfay nan gemay di berbagai media sosial. Ada yang murni untuk menunjukkan identitas, ada juga yang memang berniat mempertegas kecantikan yang dimiliki itu. Fenomena yang sering kita lihat dan mungkin alami juga adalah banyak perempuan sibuk untuk urusan memoles wajah, memamerkan barang-barang branded yang kita pakai, atau segala hal yang berarti memperlihatkan apa yang kita anggap indah dari diri kita.

Ukhti.. masih ingatkah kamu dengan kisah cinta A Ling dan Ikal dalam serial Laskar Pelangi? Tentang Ikal yang terpesona pada A Ling karena kuku-kukunya yang dilihat sewaktu membeli kapur. Memang itu hanya cerita fiksi, tetapi dari situ pun kita bisa mengambil pelajaran. Satu hal, jangan lupa bahwa Andrea Hirata, sang penulis, adalah laki-laki dan bukan tidak mungkin jika apa yang ia fiksikan itu adalah apa yang ia rasakan. Hanya lewat kuku, seorang laki-laki bisa jatuh cinta kepada wanita. Hanya kuku, Ukhti.

Sekarang, mari kita renungkan sejenak. Sudah berapa banyak foto yang kita ambil dan bagikan ke medsos? Sudah berapa pasang mata yang melihat dan memperhatikan foto kita? Teringat seorang guru pernah berkata kepada penulis bahwa setiap jengkal bagian yang dimiliki perempuan adalah keindahan, terlebih bagi laki-laki. Itulah mengapa pada laki-laki ada istilah menjaga pandangan. Ternyata karena memang sebegitu jauhnya mereka dapat mengimajinasikan keindahan seorang perempuan hanya dengan melihat hal-hal kecil yang indah dari perempuan (bahkan hanya dari cara berbicara, berjalan, dan hal lain yang kita anggap biasa). Kalau A Ling hanya dengan kukunya saja bisa membuat laki-laki terpesona, jangan-jangan wajah kita yang terpampang di medsos sudah membuat banyak laki-laki menghayal sejauh apa yang tidak mampu kita bayangkan lagi? Astaghfirullah..

Ukhti fillah, laki-laki yang tidak mengerti bagaimana cara menjaga pandangan tentu akan santai saja menikmati pemandangan wajah-wajahmu itu, tetapi laki-laki yang memiliki pemahaman baik tentang menjaga pandangan, akan beranggapan sebaliknya. Bahwa wajah-wajahmu cukup ‘murah’ untuk bisa dilihat atau lebih jauh lagi barangkali mereka merasa risih, bahkan (maaf) merasa jijik dengan pemandangan-pemandangan itu. Pada dasarnya perempuan tercipta sudah sepaket dengan keindahan, maka kita juga merupakan “ujian” bagi para laki-laki. So, jangan menambah berat ujian itu ya, Ukhti. hehe.

Nah, bertepatan dengan momen lebaran yang sebentar lagi datang, selain baju baru, hati kita juga harus baru, Ukh. Hati yang lebih cantik, juga pribadi yang lebih anggun tanpa kesan menggoda melalui foto-foto yang sering kita unggah. Yuk, sedikit demi sedikit kita mengurangi dan berusaha menghilangkan kebiasaan untuk memampang foto-foto cantik di media sosial. Barangkali kebiasaan selfie atas kecantikan itu bisa kita ubah dengan selfie atas kesalahan, dosa-dosa, atau perbuatan yang kurang baik dari diri sendiri agar teringat bahwa kita tidak hanya memiliki kecantikan, namun juga keburukan.

Selamat berproses menjadi wanita-wanita yang berhati cantik yaa, Ukhti. Selamat memahalkan diri dan selamat merayakan lebaran berkualitas bersama keluarga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *