Kita Pernah Bisa

Kita Pernah Bisa

Oleh : Khairy Afdhal (khairy.afdhal@gmail.com)

Staf Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis

 

Umat muslim di seluruh dunia telah berlangkah bersama menuju Masjid menyambut kembali hari kemenangan. Ucapan maaf menggema di dinding-dinding rumah. Jalan-jalan dipenuhi dengan tawa dan canda anak-anak kecil. Inilah hadiah bagi kita yang sudah menempuh satu bulan penuh tantangan dan godaan. Namun, setelah ketupat selesai dipotong dan angpau telah berpindah tangan, adakah sisa dari bulan suci Ramadhan yang terbekas di diri kita?

Bulan suci Ramadhan merupakan momentum yang dimanfaatkan oleh banyak umat muslim di Dunia untuk introspeksi diri, untuk meletakkan kehidupan kita di bawah kaca pembesar dan mengidentifikasi kesalahan-kesalahan yang kita lakukan selama ini baik sadar maupun tidak sadar. Dari situ kita bertobat, berlomba untuk menjadi versi terbaik dari diri kita untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Waktu luang yang tadinya berisi senda gurau dan kemalas-malasan dalam bulan Ramadhan terisi dengan keheningan yang khusyu’ sambil mencermati ayat-ayat suci Al-Quran. Selama 30 malam hal ini berlangsung, bahkan semakin intensif dalam 10 hari terakhir dalam rangka memeras tetes-tetes terakhir kemuliaan yang dapat diberikan oleh Ramadhan.

“Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari No. 6099 dan Muslim No. 783)

 

Ramadhan telah membuktikan bahwa kita semua mampu untuk mendedikasikan diri kita dalam meningkatkan taqwa bahkan dalam kondisi berpuasa. Sehingga secara logika seharusnya frekuensi ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan seharusnya dapat dijaga secara terus menerus bahkan ditingkatkan lagi. Namun, nyatanya setelah menginjakkan kaki di luar Ramadhan banyak saudara kita yang terkubur kembali oleh rutinitas sehari-hari dan kembali kepada versi dirinya yang belum bertemu dengan Ramadhan. Hal ini seringkali terjadi karena adanya pandangan bahwa Ramadhan, dengan segala keutamaan dan kemuliaannya, merupakan lomba Maraton yang menyediakan banyak penghargaan bagi yang berhasil melewati garis finish. Tentu dari cara berpikir seperti ini maka yang terpikirkan setelah melewati garis finish adalah mengambil hadiah dan pulang kembali ke kehidupan masing-masing. Metafora ini tentu tidak cocok dengan semangat Ramadhan yang sebenarnya. Ramadhan bukanlah suatu beban yang harus diselesaikan dalam batas waktu tertentu namun merupakan tempat untuk mengeluarkan semua potensi ibadah kita demi memperlihatkan kepada diri kita sendiri hal-hal yang mungkin terjadi karena adanya dedikasi untuk beribadah dengan harapan setelah Ramadhan pergi kita merupakan orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Godaan untuk mengganggap Ramadhan sebagai sekedar angin lewat merupakan godaan yang sangat berat. Sungguh menggiurkan untuk melepaskan semua kemajuan yang telah kita gapai selama Ramadhan agar kita dapat kembali kepada rutinitas kita yang nyaman. Selama Ramadhan kita keluar dari kenyamanan kita untuk mengejar sesuatu yang lebih baik namun kadang sesuatu yang familiar dan lebih mudah memiliki suatu tarikan tersendiri. Kerinduan akan kenikmatan kehidupan sebelum Ramadhan merupakan jebakan yang terlalu sering kita temukan di Masyarakat.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghindari godaan-godaan di atas. Salah satunya adalah puasa Syawal. Keutamaan puasa Syawal sudah sangat jelas melalui hadits shahih berikut:

”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”(HR. Muslim no. 1164)

Selain itu puasa Syawal juga dapat menjadi masa transisi kembali kepada kebiasaan kita pada bulan Ramadhan. Puasa Syawal membantu kita untuk melanjutkan amalan-amalan yang sudah menjadi rutinitas pada bulan Ramadhan agar dapat berlanjut secara konsisten. Selain puasa syawal kita juga dapat mengelilingi diri kita dengan teman dan keluarga yang saling mengingatkan agar kita selalu konsisten dalam beramal dan menjauhi bisikan setan. Mendalami dan mengkaji kembali Al-Quran juga merupakan cara yang efektif untuk mengingatkan kita kembali untuk terus memperkuat ketaqwaan terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Pada dasarnya Ramadhan telah membentuk kita menjadi individu yang lebih baik sehingga menjadi tanggung jawab kita untuk memotivasi diri kita agar konsisten dan istiqomah selama bulan-bulan berikutnya.

Kita sebagai manusia merupakan makhluk yang mudah sekali lupa. Kita bahkan dapat melupakan potensi diri kita. Cobalah diingat kembali hal-hal yang berhasil kita capai dalam bulan Ramadhan. Ingat kembali bahwa kita pernah menahan kantuk di depan ayat-ayat suci Al-Quran, kita pernah bangun larut malam memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang sudah lewat, kita pernah rutin mendatangi masjid untuk salat berjamaah bersama tetangga-tetangga kita. Kalau ketika itu kita sanggup mengapa hari ini tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *