Kesetaraan atau Keadlian?

Kesetaraan atau Keadlian?

Kesetaraan atau Keadlian?

Akhir-akhir ini, masyarakat tengah gencar membicarakan tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan wanita. Sampai dengan munculnya istilah kaum feminis, yaitu kaum yang memperjuangkan kesetaraan. Islam sesungguhnya sudah mengenal tentang kesetaraan antara laki-laki dan wanita sejak lama. Islam memandang bahwa laki-laki dan wanita berada pada posisi yang sama. hal ini tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisa’ [4]: 124)

Dalam ayat tersebut, terlihat jelas bahwa laki-laki dan wanita memiliki kedudukan yang setara di mata Allah. Yang membedakan mereka hanyalah iman dan taqwa. Akan tetapi pada perihal yang lain, kesetaraan antara laki-laki dan wanita diatu lebih lanjut dalam Al-Qur’an. Kaum feminis sering kali melihat hal ini sebagai suatu batasan dan mengekang hak-hak wanita. Hal itu tidaklah benar.

Islam justru melihat hal yang demikian itu merupakan suatu bentuk keadilan antara laki-laki dan wanita. Sebagai contoh, Islam memberikan hak yang sama antara laki-laki dan wanita di ruang publik. Akan tetapi, wanita dapat tampil di publik sebagaimana dalam aturan Islam. Salah satunya ialah berpakaian sesuai syariat dan mengulurkan jilbabnya.

Wanita bahkan sangat dimuliakan dalam Islam. Mengapa demikian? Dalam Islam, Ibu disebut tiga kali sementara Ayah disebut satu kali. Hal ini menunjukkan betapa mulainya kodrat yang Islam berikan kepada wanita. Mulai dari mengandung, melahirkan, dan menididik anak-anaknya.

Anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi penerus suatu bangsa. Ia akan terjun dalam masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Wanita dengan kasih sayangnya mampu memberikan pendidikan dunia dan akhirat yang lebih baik. Jika anak-anak penerus ini dididik dengan baik, maka lingkungan sosial yang akan terwujud juga lebih baik.

Untuk itu, kita haruslah kembali pada Islam dan menjalankan peran masing-masing, laki-laki dan wanita, seperti apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’ [4]: 32)

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa’ [4]: 34)

Dari kedua ayat tersebut, dapat kita lihat bahwa Islam menempatkan laki-laki dan wanita pada posisi berbeda. Akan tetapi, bukan berarti pada posisi tersebut posisi laki-laki dan wanita tidak setara karena posisi tersebut pada hakikatnya tidak dapat diperbandingkan. Layakanya tangan kiri dan tangan kanan yang memiliki peranannya masing-masing namun tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya berjalan beriringan saling melengkapi.

Referensi :

Kesetaraan Gender dalam Sorotan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *