Kebebasan Berpikir dalam Islam

Kebebasan Berpikir dalam Islam

-tulisan ini merupakan pemicu untuk acara dagelan yang akan diselenggarakan pada tanggal 21.04.2016-

Oleh : Jabbar Hidayatullah (kastrad.fsifebui@gmail.com)
Kepala Departemen Kajian Strategis dan Dakwah FSI FEB UI 2016

 

Seperti  yang  kita  ketahui,  manusia  memiliki  akal  sebagai  potensi  dasar  untuk  memahami kehidupannya. Akal merupakan bekal manusia untuk berpikir dan belajar. Kemampuan ini terus berkembang seiring dengan berjalanannya waktu,  menciptakan beragam pemikiran dengan sudut pandangnya  masing-masing.  Lebih  lagi,  kini  manusia  memiliki  hak  untuk  mengutarakan pemikirannya tersebut.

Sebagai umat muslim, kita wajib untuk berpikir kritis dalam menyikapi segala hal. Berpikir kritis, membawa  kita kepada berbagai sudut pandang dan pendapat di kalangan muslim sendiri. Salah satu sudut padang tersebut membicarakan tentang penafsiran aturan-aturan dalam Islam dengan menggunakan akal manusia.

“Tetapi, sangat aneh jika kita mengharamkan suatu pemikiran. Sebab, pemikiran bukanlah tindakan. Sekularisme, liberalisme, ataupun pluralisme merupakan pandangan, hasil dari pemikiran manusia….”

“Kita tidak boleh menyalahkan pendapat orang lain karena pendapatnya belum tentu salah…”

Pendapat tentang Islam hasil akal manusia ini berkembang, kemudian mulai masuk dalam ranah hukum Islam.

“Kondisi dan makna keadlian, pada zaman nabi tentunya telah berbeda dengan saat ini. Kita hidup dengan lingkungan yang jauh lebih maju dan beradab. Jadi, penerapan Hukum Islam tidak relevan lagi…”

“Bukankah Al-Qur’an tidak menyebut dengan jelas batasan aurat? Bukankah ayat-ayat terkait, menghimbau demi penghormatan istri-istri nabi saja? Di sisi lain, tingkat penghormatan dan kesopanan adalah tergantung pada situasi dan budaya…”

Selain itu, terdapat penafsiran berbeda mengenai isi dan kandungan Al-Qur’an yang dinilai tidak lagi sesuai dengan zaman sehingga perlu diadakannya revisi penafsiran Al-Qur’an.

“Al Quran tidak lagi dapat ditafsirkan dengan tekstual ayat. Kita harus melihat konteks ayat secara lebih mendalam sehingga mendapat pemahaman Islam yang lebih tepat…”

Jika kita sepakat bahwa Al Quran merupakan wahyu yang bersumber dari Dia Yang Mencipta sehingga  kebenarannya  pasti,  kita  tidak  bisa  berkata  bahwa  penafsiran  Al  Quran  memiliki kekuatan  kebenaran  yang  sama  karena  ia  berasal  dari  manusia  dan  kebenaran  manusia  adalah relatif.

“Kebenaran Al-Qur’an itu mutlak, tetapi tafsir dari Al-Qur’an harus disesuaikan dengan perkembangan zaman…”

Lantas, hingga pada hal bernada provokatif…

“Muhammad adalah tokoh historis yang perlu dikaji secara kritis, mengingat beliau juga manusia yang sangat mungkin terjatuh pada kekeliruan…”

Akan tetapi, apakah pendapat-pendapat yang berlandaskan akal tersebut benar?

#Are you a real truth seeker?

#Free your mind

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *