Kabut Asap : Dampak Kejahatan Lingkungan Struktural

Kabut Asap : Dampak Kejahatan Lingkungan Struktural

oleh Nurul Khomariyah

Kabut asap di beberapa bagian wilayah Sumatera menjadi fenomena bencana lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. Fenomena inimemberikan dampak secara langsung terhadap kerusakan ekosistem, gangguan kesehatan dan berbagai aktivitas lainnya.Kondisi geografis Sumatera yang sebagian besar merupakan lahan gambut ditambah dengan musim kemarau yang sedang berlangsung di Indonesia menjadi faktor yang semakin memperparah fenomena kabut asap akibat kebakaran hutan.
Dikancah internasional kebakaran hutan dan kabut asap menjadi isu startegis karena berpengaruh terhadap iklim global dan mengancam hubungan Indonesia dengan negara lain. Sebab, dampak kabut asap ini tidak hanya dirasakan oleh penduduk Sumatera akan tetapi juga dirasakan oleh penduduk Malaysia dan Singapura.
Dalam kacamata ekonomi sumber daya lingkungan, kabut asap menimbulkan eksternalitas negatif berupa semakin tingginya tingkat polusi udara yang menyebabkan banyak masyarakat terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sebagaimana dilansir oleh berbagai media hingga pertengahan September 2015 tercatat sekitar 15.000 jiwa terjangkit ISPA dan beberapa diantaranya meninggal dunia akibat fenomena kabut asap yang sudah sangat tidak wajar. Aktivitas penerbangan banyak yang mengalami pembatalan akibat asap yang mengurangi jarak pandang, selain itu aktivitas sekolah pun menjadi tidak efektif karena sering diliburkan.
Dampak negatif lainnya muncul dari sisi pembiayaan akibat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani kabut asap, seperti biaya untuk pembuatan bom air, pembuatan hujan buatan, pemadam kebakaran melalui darat, dan biaya untuk menangani korban jiwa serta berbagai biaya lainnya.
Dari sekian banyak permasalahan dan kerugian yang dimunculkan benarkah apabila dikatakan bahwa fenomena kabut asap ini adalah kebakaran lahan sebagaimana yang kerap terjadi dan sekadar suatu fenomena bencana lingkungan?
Apabila di telusuri lebih jauh kasus fenomena kabut asap di sebagian wilayah Sumatera ini sudah tidakpantas lagi disebut sebagai bencana lingkungan. Fenomena kabut asap tersebut lebih patut disebut sebagai kejahatan lingkungan struktural. Kabut asap bermula dari pemakaran hutan, dan pembakaran hutan itu sendiri merupakan suatu upaya yang terstruktur karena memang sengaja dilakukan. Tindakan-tindakan tersebut didasarkan atas upaya memperoleh manfaat dan keutungan yang sebesar-besarnya.
Pembakaran lahan yang terjadi di wilayah Riau dan sekitarnya merupakan pembakaran berskala besar yang dalam sekali pembakaran mampu meluluh lantakkan berhektar-hektar tumbuhan dan komponen ekosistem yang lain dimana upaya tersebutdilakukan untuk pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Metode pembakaran merupakan metode paling efisien dan hemat biaya untuk pembukaan lahan dibandingkan metode yang lain, selain itu abu sisa pembakaran dapat digunakan sebagai nutrisi untuk benih kelapa sawit. Pembakaran tersebut dilakukan oleh perseorangan dan sebagian besar oleh korporasi.
Kejahatan semacam ini akan terus muncul apabila pemerintah daerah dan pusat tidak mengontrol aktivitas warga dan terutama korporasi. Bahkan bencana besar yang tidak wajar ini bukan tidak mungkin melibatkan oknum-oknum pemegang kekuasaan yang mudah dilobi oleh perseorangan maupun korporasi. Kejahatan yang struktural harus diatasi dengan upaya pengndalian, pengawasan dan pembaharuan yang struktural. Apabila kejahatan dilakukan atas kerjasama korporasi, warga dan pemangku kepentingan yang lain, maka penyelesaiannya pun juga harus demikian yaitu melibatkan seluruh unsur yang berkepentingan.
Upaya preventif sudah seharusnya ditempuh, sebab kebanyakan penanganan permasalahan baru muncul setelah permasalahan tersebut muncul dan merebak. Pembuatan peta pembagian dan penggunaan lahan, inventarisasi, perlindungan lingkungan secara politis, pembuatan peraturan dan kebijakan yang tepat guna; tepat sasaran; dan tepat tujuan, penegakan hukum dan kontrol menjadi suatu kebutuhan yang mendesak.Untuk sekarang ini pemerintah daerah tampaknya sudah cukup kewalahan mengatasi kasus tersebut, maka dari itu intervensi dari pemerintah pusat yang cepat dan tepat perlu disegerakan.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).Q.S. Ar Ruum : 41
Sejatinya segala yang ada di bumi baik dari darat maupun laut diciptakan oleh Allah untuk mendukung kehidupan manusia di muka bumi ini, namun begitu manusia sebagai khalifah yang mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan merawat muka bumi ini.
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk  kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.Q.S. Al Baqarah : 29
Sejatinya manusia yang ada saat ini tidak boleh egois dalam bertindak. Keutungan memanglah suatu manfaat yang berhak diperoleh seseorang atas usaha yang telah dilakukannya, namun begitu manusia tidak boleh melupakan kewajibannya untuk turut mewariskan lingkungan yang lestari bagi generasi masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *