Jual Beli Lelang dan Black Market, Bolehkah?

Jual Beli Lelang dan Black Market, Bolehkah?

Oleh Yuri Oktaviani

Staff SHINE FSI FEB UI

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Banyak dari kita yang dalam membeli sebuah produk mengharapkan harga yang lebih rendah daripada yang ditawarkan atau mencari barang-barang yang berkualitas baik dengan harga yang relatif minim. Biasanya jika harga suatu produk tidak terjangkau oleh kantong kita tetapi kita sangat membutuhkannya, kita akan berusaha mendapatkan barang itu dengan berbagai cara alternatif. Salah satu caranya adalah dengan mencari produk lelang atau black market. Namun, bagaimana pandangan islam mengenai jual beli lelang dan black market ini? Bolehkah jual beli lelang dan black market menurut pandangan islam?

Jual beli lelang atau muzayadah menurut pengertian transaksi mua’amalat kontemporer dikenal sebagai bentuk penjualan barang di depan umum kepada penawar tertinggi. Sedangkan kata muzayadah (مزايدة) sendiri secara bahasa, berasal dari kata zada-yazidu-ziyadah (زاد – يزيد – زيادة) yang artinya bertambah, maka muzayadah berarti saling menambahi. Maksudnya, orang-orang saling menambahi harga tawar atas suatu barang(1).  Pada zamannya, Rasulullah pernah mempraktekkan jual beli lelang, seperti kisahnya ketika ada kaum ansar datang menemuinya. Kejadian ini termaktub dalam hadits yang berbunyi:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ فَقَالَ لَكَ فِي بَيْتِكَ شَيْءٌ قَالَ بَلَى حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ وَنَبْسُطُ بَعْضَهُ وَقَدَحٌ نَشْرَبُ فِيهِ الْمَاءَ قَالَ ائْتِنِي بِهِمَا قَالَ فَأَتَاهُ بِهِمَا فَأَخَذَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ فَقَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ قَالَ مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ رَجُلٌ أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا الْأَنْصَارِيَّ

Dari Anas bin Malik ra bahwa ada seorang lelaki Anshar yang datang menemui Nabi saw dan dia meminta sesuatu kepada Nabi saw. Nabi saw bertanya kepadanya,”Apakah di rumahmu tidak ada sesuatu?” Lelaki itu menjawab,”Ada. Dua potong kain, yang satu dikenakan dan yang lain untuk alas duduk, serta cangkir untuk meminum air.” Nabi saw berkata,”Kalau begitu, bawalah kedua barang itu kepadaku.” Lelaki itu datang membawanya. Nabi saw bertanya, ”Siapa yang mau membeli barang ini?” Salah seorang sahabat beliau menjawab,”Saya mau membelinya dengan harga satu dirham.” Nabi saw bertanya lagi,”Ada yang mau membelinya dengan harga lebih mahal?” Nabi saw menawarkannya hingga dua atau tiga kali. Tiba-tiba salah seorang sahabat beliau berkata,”Aku mau membelinya dengan harga dua dirham.” Maka Nabi saw memberikan dua barang itu kepadanya dan beliau mengambil uang dua dirham itu dan memberikannya kepada lelaki Anshar tersebut”. (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa`i, dan at-Tirmidzi) (1).

Dari hadist diatas dapat dilihat bahwa jual beli lelang dalam islam hukumnya boleh selama hal itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits. Jika penawaran sudah jatuh dan disepakati serta telah dilakukan akad antara penjual dan pembeli (lelang udah ditutup), maka pembeli lain yang baru datang dan menawarkan harga tertinggi tidak bisa diterima karena telah terjadi akad jual beli pada penjual dan pembeli pertama.  Jual beli lelang juga biasanya dilakukan untuk kebutuhan dana sosial yang hal itu merupakan suatu kegiatan untuk mencapai kemaslahatan dalam masyarakat.  Namun, ada juga yang berpendapat bahwa jual beli lelang hukumnya makruh.

Lalu bagaimana dengan black market? Black market merupakan jual beli yang mana barang yang ditawarkan adalah barang yang masuk ke dalam suatu negara dalam bentuk illegal yang tidak terkena bea cukai, biasanya dijual dengan harga yang lebih murah daripada barang yang legal dipasaran. Walaupun jual beli black market ini penjual dan pembeli ridho dalam melakukan jual beli dan sama-sama diuntungkan, namun adanya black market dapat menggangu keseimbangan pasar yang dapat merugikan beberapa penjual lain yang menjual barang legal. Penjual lain dapat merugi dan kehilangan konsumennya, karena konsumen lebih memilih barang black market yang harganya lebih murah dibandingkan barang dalam negeri ataupun barang legal yang kena pajak. Black market juga menimbulkan kerugian yang besar bagi pemerintah karena pemerintah kehilangan pajak negara yang berpotensi dikumpulkan dari bea cukai untuk kesejahteraan rakyat. Hal-hal tersebut merupakan kedzaliman bagi penjual lain, pemerintah ataupun masyarakat luas.

Sebuah barang black market dalam bentuk barang elektronik terkadang mengandung gharar (ketidakjelasan) karena biasanya elemen-elemen yang terdapat di dalam barang elektonik tersebut kualitasnya lebih rendah dibandingkan aslinya (elemen tidak sesuai aslinya) dan tidak memiliki garansi atau ketidakjelasan akan darimana barang itu berasal. Hal itu secara tidak langsung juga merugikan konsumen. Tetapi tidak jarang pula konsumen lebih memilih barang black market karena harganya yang terjangkau.

Dalam maqasid syariah atau tujuan syariah salah satunya adalah mewujudkan kemaslahatan (kesejahteraan) bagi manusia. Dalam black market, tindakan ini menimbulkan kerugian bagi penjual lain, pemerintah dan masyarakat luas, serta juga dapat menimbulkan kerugian yang dirasakan oleh beberapa konsumen. Tindakan yang menimbulkan kerugian bagi sebagian orang merupakan tindakan yang dzalim dan tidak sesuai dengan tujuan syariah. Oleh sebab itu, para penjual dan pembeli sebaiknya menghindari menjual atau membeli produk black market ini demi tercapainya kemaslahatan bagi manusia lain dan lingkungannya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Referensi

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1369833509&=bolehkah-kita-bertransaksi-dengan-cara-lelang.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *