Hijab Solidarity

Hijab Solidarity

oleh Shabrina Khairunnisa, IEI 2014
Departemen Study and Research of Islamic Economic and Business FSI FEB 2015

Penggunaan hijab dikalangan wanita makin hari kian menjamur. Tak jarang fenomena tersebut diikuti dengan maraknya bisnis busana muslim. Berbagai model busana muslim lengkap dengan hijabnya menghiasi etalase demi etalase toko. Preferensi wanita muslimah yang berbeda-beda membuat trend hijab sangat cepat berganti. Penjual dituntut untuk bisa mengikuti keinginan pangsa pasar yang ada. Saat ini, hijab sudah akrab dan menjadi simbol wanita muslimah. Hijab dapat menunjukkan keanggunan, kerapihan, serta kesederhanaan dari penggunanya.

Hijab merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari setiap muslimah. Hijab dapat menutup aurat seorang muslimah dan menjaga keindahannya sehingga tidak terlihat oleh sembarang orang. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah, yang ingin mendapatkan ridho sang ilahi, untuk mengenakan hijab. Banyak muslimah yang menunda menutup aurat dengan alasan belum merasa pantas untuk mengenakan hijab dan belum mendapat hidayah. Padahal, seorang muslimah dalam menggunakan hijab tidak harus menunggu pantas, tetapi memantaskan diri. Tidak harus menunggu hidayah, tetapi mencari kemudian menjemput hidayah tersebut. Karena dengan berhijablah timbul motivasi untuk memperbaiki diri menjadi yang lebih baik semata-mata hanya untuk mendapatkan ridho-Nya.

Di masa sekarang, hijab menjadi trend fashion yang menjanjikan. Pengguna hijab menjadi market yang menggiurkan bagi para produsen busana muslimah. Hanya berselang beberapa bulan, lahirlah model hijab terbaru yang modis, gaya, dan colorful. Hal tersebut mendorong kaum hawa untuk berhijrah mengenakan hijab. Positif memang, mendorong kaum muslimah untuk segera menutup auratnya. Tetapi, hal yang ditakutkan adalah terjadi pergeseran makna dibalik penggunakan hijab yang tadinya semata-mata untuk mendapatkan ridho dari sang ilahi menjadi ajang untuk tampil fashionable.

Setiap muslimah yang memutuskan untuk menutup auratnya pasti memiliki kisah masing-masing. Tak terkecuali saya. Saya mulai mengenakan hijab saat menginjak kelas 12 SMA. Sejak kelas 10 SMA, Ibunda saya mulai mengingatkan bahwa menggunakan hijab adalah sebuah kewajiban. Begitu juga dengan Ayah. Meskipun begitu, kedua orang tua saya sama sekali tidak pernah memaksa untuk menggunakan hijab. Mereka hanya mengingatkan dengan sabar dan lemah lembut, hingga pada suatu ketika saya tersadar bahwa panasnya menggunakan hijab, sulitnya mix n match baju muslim, dan kesulitan dalam menggunakan hijab, tidak menjadi alasan untuk menunda menutup aurat.

Menutup aurat adalah sebuah kewajiban dan saya tidak ingin memberatkan kedua orangtua saya nantinya ketika dimintai pertanggungjawaban atas anak perempuannya yang tidak menutup aurat. Hijab solidarity menurut saya adalah setiap muslimah saling memberikan manfaat satu dengan yang lain. Tidak terbatas hanya untuk muslimah yang sudah mengenakan hijab, tetapi seluruh muslimah. Karena memberikan manfaat dan menyebarkan kebaikan untuk orang lain adalah hal yang wajib dilakukan dalam islam. Selain itu, hijab solidarity juga berarti terciptanya pembauran untuk seluruh muslimah, tidak terpisah antara musimah berhijab maupun tidak. Muslimah harus saling tolong menolong dalam mencapai ridho dari Allah swt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *