Hijab Solidarity – Cindy Claudia

Hijab Solidarity – Cindy Claudia

oleh Cindy Claudia, Akuntansi 2011
Ketua SGB FEB UI 2013/2014

Bismillahirrahmanirrahim…

Assalamualaikum Wr. Wb. Perkenalkan, namaku Cindy Claudia Sari tapi banyak orang yang memanggilku dengan sebutan Dya. Aku kebetulan baru aja lulus dan menjadi alumni dari FEB UI yang tepatnya dari jurusan Akuntansi angkatan 2011. Selama di kampus aku aktif di berbagai kegiatan mulai dari ikut berbagai organisasi sampai kepanitiaan acara yang diselenggarakan di FEB UI. Tetapi yang sangat aku gemari lebih kepada kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan dan kesenian yang sebenarnya tidak ada korelasinya dengan bidang ekonomi yang sesuai dengan fakultasku.

Selama dikampus, aku lebih aktif di Seni Gerak Budaya “Amertha Bhavani” FEB UI yang bergerak dibidang seni tari dan musik tradisional. Aku mulai bergabung dengan Unit Kegiatan Fakultas ini sejak aku masih mahasiswa baru di tahun 2011 sampai aku selesai melakukan studiku di FEB UI yakni Agustus 2015 lalu dan sempat menjabat menjadi Ketua SGB periode 2013/2014. Kemudian aku juga aktif disalah satu kepanitiaan acara kebudayaan lomba tari tradisional dan paduan suara satu-satunya yang ada di FEB UI yaitu National Folklore Festival yang memiliki tagline “Anak Muda Cinta Budaya” di tahun 2012 dan menjadi Project Officer 7th NFF pada tahun 2013 lalu.

Nah sekarang aku mau cerita kapan dan awal mula aku berhijab. Sebenarnya aku mulai berhijab dimulai ketika aku masih duduk di SMP kelas 3, waktu itu sebenarnya aku terkena penyakit asma kulit yang menyebabkan kulitku tidak bisa terkena sinar matahari secara langsung sehingga aku memutuskan untuk berhijab. Sejak saat itu aku berhijab dan terus berlangsung sampai saat ini, walaupun sejujurnya aku masih terus belajar untuk berhijab layaknya muslimah sesuai dengan yang seharusnya Islam anjurkan. Tapi menurutku tidak ada kata telat untuk terus belajar memperbaiki diri, apalagi untuk berhijab.

Menurutku hijab itu dikenakan muslimah bukan hanya secara fisik tetapi juga secara lahir dan juga batin. Maksudnya apa? Pertama kita bicara terkait fungsi hijab yang digunakan untuk penutup badan yang berupa pakaian dengan jilbab. Kedua, kita juga harus bisa membatasi perilaku kita sebagai muslimah dalam beraktifitas dan berinteraksi dengan orang lain tapi tanpa membatasi unsur SARA yaa. Dan yang ketiga, kita juga harus bisa membatasi pikiran kita dan juga menjaga hati kita dari hal-hal yang dilarang oleh agama Islam.

Hijab solidarity yang aku tahu itu terkait konferensi di Inggris yang terjadi pada tanggal 4 September 2004 dan menghasilkan 3 poin penting antara lain dukungan untuk penggunaan hijab, membela hak muslimah untuk mempertahankan busana yang mengenakan hijab, dan dijadikan sebagai momen hari solidaritas jilbab internasional. Maka dari 3 poin tersebut dapat ditarik satu pendapat kalau hijab solidarity ini juga terkait dengan hak kita sebagai muslimah untuk memperjuangkan hak kita untuk dapat terus memakai busana hijab seperti layaknya muslimah sesuai peraturan yang sesuai dengan agama Islam.

Kalau menurut pribadiku sebagai orang yang bergerak di bidang seni khususnya tari, hijab solidarity ini juga sangat penting lho. Seperti menari mengenakan hijab juga tidak ada masalah saat ini, karena sekarang ada berbagai pakaian yang dapat digunakan seperti ciput ninja dan juga manset supaya kita tetap bisa menari walaupun menggunakan hijab. Sebagai penari yang menggunakan hijab seharusnya kita bisa berbangga diri karena tidak semua muslimah terkadang merasa mereka percaya diri apabila mereka menari ataupun bermain musik di depan orang banyak. Tetapi memang tidak dapat disamakan antara kita menari di dalam negeri dengan di luar negeri bagi saya dan teman-teman saya yang menggunakan hijab. Walaupun di Indonesia wanita berhijab menari sudah tidak asing lagi, namun berbeda dengan negara lain yang masih tabu melihat kami para penari yang berhijab.

Menurut pengalamanku misi budaya mengikuti berbagai festival di 2 negara yaitu Czech Republic di tahun 2013 dan Spanyol di Agustus 2015 ini, ada banyak perbedaan yang aku rasakan sebagai wanita muslim berhijab. Ketika aku di Czech Republic persepsi orang kepada kami yang memakai hijab tidak terlalu signifikan terlihat entah itu dari warga Czech nya sendiri maupun negara-negara lain yang mengikuti festival bersama kami di 5 kota. Namun beda hal dengan ketika saya dan teman-teman berhijab lainnya di Spanyol.

Ketika kami mengikuti festival di Spanyol baru baru ini, kami melakukan festival di berbagai daerah bagian barat Spanyol dengan banyak negara mulai dari Mexico, Georgia, Chilie, Cuba, Uruguay, Timor Leste, Senegal, Uzbekhistan, Andalusia, Polandia, dan Spanyolnya sendiri. Sejujurnya dari semua negara tersebut hanya Uzbekhistan yang mayoritas anggotanya muslim sehingga mereka memahami kita sebagai muslim yang berhijab. Namun ada juga beberapa negara yang merasa aneh dan berlaku seperti suatu yang ganjal seperti Georgia, Cuba, Polandia, dan Mexico. Tetapi itu semua tidak membuat kami para hijab-ers merasa tidak percaya diri ataupun merasa dijauhi dan kita sebagai muslimah yang taat alangkah baiknya tetap berperilaku baik hati dan ramah tamah seperti tetap menyapa dan sopan disegala kegiatan yang ada sesuai dengan apa yang diajarkan agama Islam supaya selalu bersikap baik pada siapapun.

Sehingga kita sebagai wanita muslimah entah itu berhijab ataupun tidak alangkah baiknya kita dapat menjadi insan yang dapat menjadikan sesuatu yang tidak baik ataupun kurang baik menjadi lebih baik lagi tanpa harus memaksa, melakukannya dengan keterbukaan pikiran, saling berinteraksi dengan siapapun yang baik dengan kita ataupun tidak, mau menerima pendapat orang lain, dan yang terpenting adalah selalu berpikir dan ambil setiap hal positif dari apa yang telah terjadi supaya kita dapat menjadi muslimah yang lebih baik lagi kedepannya. Amin…

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *