Hanya Keisengan Belaka

Hanya Keisengan Belaka

oleh Cherin V Yuniartha, BI 2014
Ketua Keputrian Forum Muslim Angkatan FEB UI 2014

Kalau kamu pake kerudung, jangan setengah-setengah. Pake dari mulai berangkat sekolah, sampai nanti pulang ke rumah!

Kata-kata itulah yang pertama kali membuatku tergugah. Ketika itu aku masih duduk di kelas 5 SD, dan sebagaimana sekolah-sekolah negeri lainnya, saat itu sekolahku juga menetapkan peraturan memakai seragam muslim setiap hari Jumat. Suatu hari di hari Jumat saat jam istirahat teman-temanku membuka kerudung dan menggulung lengan baju mereka karena hari itu sangat panas. Melihat hal itu aku terbawa untuk ikut melepas kerudung dan menggulung lengan bajuku sampai waktu pulang sekolah tiba. Tak disangka hari itu ibuku menjemputku ke sekolah, padahal biasanya aku pulang dengan menaiki mobil jemputan. Ketika melihatku, reaksi pertama ibuku adalah menyuruhku memakai kembali kerudung dan memanjangkan kembali lengan bajuku. Dan dengan sedikit marah mengatakan bahwa aku harus konsisten dalam memakai kerudung di hari Jumat itu, tidak boleh setengah-setengah.

Seperti biasa kata-kata ibuku selalu menohok ke dalam benakku sehingga semenjak saat itu aku tidak pernah lagi melepas kerudung di hari Jumat. Mungkin itulah awal aku terbiasa mengenakan kerudung walau hanya satu kali dalam seminggu.

Awalnya aku menganggap jilbab hanya dikenakan oleh orang-orang yang memang mendalami Islam secara utuh dan sekedar atas keinginan atau kebutuhan. Sedangkan saat itu kondisi keluargaku benar-benar jauh dari rutinitas Islam, ibuku tidak memakai jilbab dan tidak pernah ada disipilin untuk salat dan membaca Al-Qur’an di rumah, sehingga aku tidak pernah mengetahui bahwa dalam Islam perempuan wajib menutup auratnya dan harus menjaga jarak dengan yang bukan mahramnya.

Saat SD maupun SMP aku tidak pernah mendapat ilmu tentang itu, dan aku juga tidak pernah berusaha mencari tahu. Sampai suatu ketika saat menginjak kelas 3 SMP, aku mendadak harus pindah ke Jakarta, meninggalkan seluruh teman dekatku dan harus berjuang beradaptasi di tempat baru. Di SMP yang baru ternyata tidak terlalu sulit mendapat teman, karena mereka cukup tertarik denganku dan banyak yang ingin mengenalku. Namun setelah beberapa lama ternyata aku lebih banyak mengobrol dan bergaul dengan teman-teman yang memakai kerudung. Pertemanan kami biasa saja dan tidak pernah membahas tentang agama, namun suatu saat aku tergerak ketika kami berfoto bersama dan salah satu temanku mengatakan “Wah, kalo Cherin pake kerudung jadi samaan semua, deh, kita.”

Dari secuil motivasi itulah, aku menetapkan akan memakai kerudung saat SMA nanti. Entahlah, saat itu aku hanya berpikir untuk iseng saja. Namun aku sudah menetapkan hati untuk mencoba konsisten memakai kerudung, ibuku pernah bilang untuk tidak setengah-setengah, kan? Setelah lulus SMP dan diterima di salah satu SMA negeri di Jakarta, awalnya ibuku tidak percaya akan keinginan “iseng”ku dan tidak terlalu mendengarkanku. Beliau membelikanku seragam lengan pendek, dan tidak kusangka aku menangis karenanya. Padahal niatku cuma iseng, aku tidak tahu mengapa saat itu aku menangis dan mengatakan “Dila benar-benar ingin pakai kerudung, Ma.”

Di SMA barulah aku mengetahui bahwasanya menutup aurat adalah kewajiban seorang muslimah. Itu adalah bentuk kasih sayang Islam terhadap wanita untuk menjaga mereka dari fitnah dan kerugian-kerugian yang mungkin disebabkan oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Dan di sana pula aku mulai terbiasa mengerjakan salat wajib dan bahkan menambah dengan amalan-amalan sunah. Aku mulai memperbaiki bacaan Al-Qur’anku dan mencoba untuk tidak lagi meninggalkan salat. Namun aku masih terbayang wajah ibuku yang masih belum memakai kerudung. Aku tidak berani mengatakan apa-apa terhadap beliau tentang kewajiban memakai kerudung. Saat itu aku tidak terlalu dekat dengan ibuku dan aku belum menemukan cara untuk menyampaikan hal tersebut. Seiring berjalannya waktu, aku tetap konsisten memakai kerudung walau hanya sebatas menutup rambut dan mengerjakan salat di rumah walau masih sering lalai. Melihat hal itu lama kelamaan ibuku mulai membelikanku banyak kerudung dan pakaian lengan panjang. Dan ternyata suatu hari, ibuku memintaku untuk mengantarnya ke tempat penjahit dan mengambil jahitan yang sudah dipesan beliau, yaitu seragam kantor lengan panjang! Aku berseru dalam hati, aku begitu senang hingga aku mengatakan kepada teman-teman ROHIS di grup social media bahwa sepertinya ibuku akan mulai memakai kerudung dan aku meminta doa mereka. Alhamdulillah tak berapa lama perlahan-lahan ibuku pun mengenakan kerudung, sehingga aku tak ragu lagi jika hendak memasang foto berdua dengan ibuku. Selain itu beliau juga mulai ikut salat bersamaku, dan mulai mendisiplinkan adik-adikku untuk salat dan mengaji.

Namun ternyata tidak hanya berhenti sampai disitu. Allah menunjukkan padaku dengan cara-Nya bahwa yang kulakukan masihlah belum cukup. Aku melihat kakak kelas dan teman-temanku yang memakai “jilbab”, pakaian muslim yang terjulur dari atas sampai bawah. Di Indonesia biasanya terdiri dari kerudung dan gamis, namun untuk beradaptasi biasanya diawali dengan baju yang menjulur sampai melewati pinggang dan dipadu dengan rok serta kerudung yang menutupi dada. Tak lupa dengan kaus kaki dan manset tangan supaya tidak ada bagian kulit yang tersibak. Aku melihat mereka begitu rapi dan cantik dengan busana mereka. Dan lagi-lagi keisenganku muncul, aku ingin mencoba seperti mereka. Aku belajar men-double kerudung transparanku. Mulai mencoba memakai lagi rok yang aku dapat ketika idul fitri. Bahkan rok sekolah pun dipakai untuk pergi keluar di hari libur. Melihat ini ibuku akhirnya membelikan rok, dan aku diam-diam menabung untuk membeli kerudung yang tebal dan lebar. Dan aku nyaman mengenakannya hingga sekarang. Aku merasa bersyukur memiliki ibu yang begitu memahami keinginanku dan diam-diam mendukungku.

Lama kelamaan aku mulai menganggap serius apa yang kulakukan. Aku menjadikan aurat adalah hal penting yang harus dijaga. Ketika rutinitas pulang ke rumah nenekku di kampung halaman, aku berusaha terus mengenakan kerudung walau di dalam rumah, karena di situ ada sepupu lelakiku yang bukan mahram. Awalnya terasa berat sekali, aku sama sekali tidak terbiasa memakai kerudung di dalam rumah, apalagi kalau harus membantu mencuci baju dan piring. Namun ketika ada tetangga nenekku yang mampir ke rumah, aku tidak sengaja mendengar nenekku berkata kepada tetangga beliau tersebut, “Ini loh, cucuku si Dila, jilbabnya ndak pernah lepas” dengan wajah yang begitu bahagia. Lagi-lagi aku tergugah, perjuanganku rasanya terbayar hanya dengan satu kalimat dari nenekku itu. Semenjak saat itu aku semakin bersemangat untuk mempertahankan pakaianku ini.

Alhamdulillah dimulai dari niat yang belum serius, ternyata aku sudah terbiasa mengenakannya sebelum aku menyadarinya. Aku berusaha mempertahankannya karena Allah karena ini adalah hukum dari Allah, yang dibuat dari kasih sayang Allah. Aku sangat bersyukur karena Allah tidak membiarkan keisenganku hanya sekadar menjadi keisengan belaka dan menunjukkan bahwa arti jilbab untuk muslimah adalah jauh lebih krusial dari apa yang awalnya aku kira. Terlebih dengan segala kemudahan untuk memakai jilbab saat ini, dimana jilbab sudah menjadi hal yang lazim dan bukan lagi sesuatu yang dilarang. Sehingga satu-satunya hal yang harus dilawan ialah hawa nafsu kita sendiri, bagaimana kita bisa dengan ikhlas dan ridha menyadari bahwa inilah perintah Allah kepada kita para muslimah, untuk mengangkat derajat kita dari titik yang sangat rendah pada masa jahiliyah menjadi begitu mulia setelah datangnya Islam. Happy International Hijab Solidarity Day, Ukhti! Barakallahu fiikum. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *