Empowering Muslimah

Empowering Muslimah

Empowering Muslimah

 

Islam merupakan agama yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh dan membahas semua hal dalam berbagai aspek, termasuk dalam permasalahan makhluk yang berjenis kelamin perempuan atau bisa disebut dengan muslimah bagi perempuan muslim. Namun, masih terdapat segelintir pihak yang menganggap Islam membatasi muslimah dalam melakukan berbagai hal, layaknya para muslimin, dan menjadikan muslimah sebagai manusia kelas dua sehingga membuat citra muslimah menjadi perempuan yang terbelakang dan tersisihkan dari kehidupan masyarakat. Padahal, layaknya muslimin, hak-hak muslimah juga terjamin dalam Islam, seperti dalam hal agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya, dan jiwanya. Bahkan Islam sendiri memberikan keistimewaan dan kedudukan tersendiri bagi muslimah dengan memberikan salah satu surat Al-Qur’an dengan nama An-Nisa’ yang berarti perempuan.

Surat An-Nisa’ ayat 124 menjadi salah satu contoh keadilan hak antara muslimah dan muslimin dalam Al-Qur’an dalam hal beribadah dan mendapat pahala, yang berbunyi, “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (Q.S. An Nisâ [4]: 124). Oleh karena itu, untuk mencapai kesetaraan antara muslimah dan muslimin, perlu dilakukan pemberdayaan muslimah agar potensi-potensi dan peran muslimah bisa meningkat sehingga mereka dapat berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negaranya. Pemberdayaan muslimah bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan bagi muslimah untuk meningkatkan keterampilan atau keahliannya sehingga mereka dapat berproduktif dan tidak bergantung kepada para muslimin. Selain itu, sebagaimana surat Al-Mujaadila ayat 11 yang berbunyi, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”, para muslimah wajib hukumnya harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menuntut ilmu seperti muslimin karena Rasulullah bersabda, “mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.” (H.R. Ibnu Abdil Barr).

Kalian pasti sudah mengetahui para muslimah zaman Rasulullah yang super dan sangat inspiratif yang bisa menjadi teladan bagi para muslimah saat ini, sebutlah Siti Khadijah, Siti Aisyah, Fatimah Az-Zahra, dan Ummu Salamah. Selain keempat nama tersebut, kalian juga perlu mengetahui Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Srikandi pejuang muslimah yang merupakan bibi dari Rasulullah ini sangat terpelajar, menguasai sastra, fasih berbahasa, mahir menunggang kuda, dan berani layaknya ksatria. Ada suatu kejadian pada saat Perang Uhud, pasukan muslim yang hampir menang harus terdesak karena mereka tidak menaati perintah Rasulullah untuk tetap berada di posisinya meski apa pun yang terjadi. Kesempatan ini diambil oleh pasukan berkuda kafir Quraisy untuk menyerang balik yang membuat pasukan muslim pun tercerai berai sambil berusaha menyelamatkan diri yang menyisakan Rasulullah yang masih  bertahan pada posisinya dengan hanya dilindungi oleh beberapa sahabat. Shafiyyah yang melihatnya tidak tinggal diam, beliau mengambil tombak dan tetap berada di medan perang. Shafiyyah binti Abdul Muthalib ini mengajarkan pada para muslimah, bahwa sebagai perempuan, kita masih bisa melakukan hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki.

Selain muslimah-muslimah pada zaman Rasulullah, pada masa kini juga terdapat muslimah yang sama inspiratifnya. Kalian pernah mendengar nama Ibtihaj Muhammad? Beliau adalah atlet anggar perempuan muslim berhijab pertama yang berasal dari Amerika Serikat. Pada Olimpiade Rio dua tahun lalu, Ibtihaj berkesempatan untuk mewakili Amerika Serikat di cabang olahraga anggar. Muslimah berdarah Afrika-Amerika ini lahir dan tumbuh di keluarga muslim yang taat agama dan mengajarkan nilai-nilai keimanan. Oleh karena itu, Ibtihaj sudah terbiasa menutupi auratnya sedari kecil. Sering merasa terasingkan dan terus menghadapi hambatan karena warna kulit dan keimanan yang berbeda, membuat Ibtihaj tidak tahan terhadap fenomena diskriminasi terhadap para muslim tersebut. Oleh karena itu, pada Olimpiade Rio yang lalu, sebagai seorang perempuan muslim, Ibtihaj berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kelompok muslim yang lebih besar, khususnya di Amerika Serikat. Berkat keyakinan dan kesungguhannya, beliau memperoleh sederet pencapaian dan prestasi di cabang olahraga anggar, salah satunya adalah meraih medali perunggu di Olimpiade Rio 2016 dalam nomor beregu.

Di Indonesia sendiri juga terdapat muslimah-muslimah yang inspiratif, salah satunya Nurhayati Subakat. Mungkin masih ada dari kalian yang merasa asing dengan namanya. Namun, produk yang beliau hasilkan tentu tidak asing bagi kalian para perempuan. Nurhayati Subakat merupakan pendiri sekaligus CEO PT Paragon Technology Innovation. Beliaulah yang menciptakan produk kosmetik Wardah yang saat ini kita kenal. Berbekal dari pengalaman sebagai staf di perusahaan kosmetik dan juga memiliki otak yang cerdas, Nurhayati mencoba membuat produk sampo yang ia namakan dengan merek “Puteri”. Dimulai dari perjuangannya door-to-door untuk memperkenalkan samponya tersebut di beberapa salon di Jakarta, produk sampo pertama miliknya perlahan diterima oleh masyarakat luas. Hal ini membuat Nurhayati optimis dan mendirikan PT Pusaka Tradisi Ibu. Namun sayangnya, setelah lima tahun sejak bisnis samponya berjalan, pabrik produksi sampo tersebut terbakar di saat utang di bank masih menumpuk. Musibah ini membuat Nurhayati sempat terpikir untuk berhenti dari bisnisnya. Tetapi, pikiran tersebut hilang saat menyadari jika beliau berhenti dari bisnisnya, karyawan-karyawannya akan kehilangan pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. Oleh karena itu, atas dasar tanggung jawabnya terhadap karyawannya, beliau memulai bisnisnya dari nol kembali bermodal meminjam tabungan suaminya.

Pada tahun 1995, Nurhayati menciptakan produk baru yang diberi nama “Wardah” dengan sasaran penjualannya adalah muslimah. Dalam memproduksi Wardah, Nurhayati mengedepankan prinsip halal. Walau sempat mendapat cibiran dengan disebut-sebut menjual agama karena penggunaan prinsip halal pada kosmetiknya, Nurhayati pantang mundur dan menjelaskan bahwa idenya untuk membuat produk kosmetik halal berasal dari latar belakangnya yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Berkat keuletannya, produk yang beliau ciptakan dapat diterima oleh masyarakat luas dan penjualannya yang terus meningkat. Bahkan, atas keberhasilannya, membuat para CEO kosmetik dunia ingin tahu strategi bisnis yang beliau jalankan dan apa yang membuat produknya bisa berhasil seperti ini. Lantas, Nurhayati pun menjawab bahwa ini semua karena pertolongan Allah.

          So, berdasarkan cerita dari ketiga muslimah yang super dan sangat inspiratif di atas, kita sebagai muslimah harus bisa menggali potensi-potensi yang ada di dalam diri kita nih, ladies, sehingga bisa memberikan manfaat dan ikut berkontribusi bagi agama, bangsa, dan negara.

 

Sumber:

https://pondokislami.com/srikandi-pejuang-wanita-islam-sepanjang-masa.html

https://muslim.or.id/9166-islam-menjaga-dan-memuliakan-wanita.html

https://www.arah.com/article/19548/ibtihaj-muhammad-atlet-anggar-muslim-amerika-serikat.html

http://www.muslimahdaily.com/muslimah-zone/focus/item/428-mengenal-ibtihaj-muhammad,-atlet-anggar-berhijab-pertama-di-amerika.html

https://moeslema.com/5520

https://ekonomi.kompas.com/read/2014/05/19/1147335/Kisah.Pendiri.Wardah.dari.Door.to.Door.sampai.Dikejar.CEO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *