Ekonomi Islam : Solusi Inflasi di Bulan Ramadhan

Ekonomi Islam : Solusi Inflasi di Bulan Ramadhan

Sudah menjadi fenomena umum yang terjadi dari tahun ke tahun, ketika bulan ramadhan harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Kondisi ini sering dibahasakan oleh para ahli dengan istilah inflasi. Pada bulan ini masyarakat muslim berpuasa dan dihimbau untuk mengendalikan hawa nafsu, tetapi mengapa justru tingkat konsumsi kebutuhan pokok malah meningkat? Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat muslim yang lebih konsumtif pada bulan Ramadhan, terutama dalam pemenuhan kebutuhan bahan makanan.

Selain itu, inflasi juga disebabkan adanya kelangkaan kebutuhan pokok di pasaran karena penimbunan barang oleh oknum pedagang nakal. Pada kondisi seperti ini peran pemerintah menjadi sangat penting agar masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak semakin tercekik oleh kondisi ekonomi yang tidak berpihak kepada mereka.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data inflasi setiap bulannya sebagai salah satu indikator penting dalam memantau pergerakan perekonomian di Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh BPS, inflasi terjadi hampir setiap tahun menjelang bulan Ramadhan.  Tahun ini, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2016 sebesar 0,66 persen (mtm). Inflasi IHK pada periode bulan Ramadhan tahun ini cukup terkendali dan relatif lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi periode Ramadhan dalam empat tahun terakhir.

Kalau saja umat Islam mau menyambut dan menjalani bulan Ramadhan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, penulis yakin tidak akan terjadi inflasi yang membuat perekonomian kita menjadi tidak stabil setiap datang bulan Ramadhan. Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi Muhammad SAW berbuka puasa sebelum melakukan sholat magrib dengan ruthob, jika tidak ada ruthob (kurma basah) maka beliau berbuka dengan beberapa butir tamr (kurma kering) dan jika tidak ada tamar maka beliau meminum beberapa teguk air putih.” (HR Tirmidzi: 696).

Ekonomi Islam yang berlandaskan Al-Quran dan sunnah ini sudah lebih dulu menjelaskan terkait langkah dalam mengatasi permasalahan kenaikan harga. Sebagai contoh, kita ambil kisah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu terjadi paceklik yang sangat panjang, akibatnya gandum menjadi langka. Terjadilah kenaikan harga di Madinah. Umar mengatasi hal ini dengan mengirimkan gandum dalam jumlah yang besar dari Fustat, Mesir. Kiriman gandum ini dapat mengatasi kelangkaan gandum dan meredam inflasi di Madinah. Kejadian kedua, masih di zaman Umar bin Khattab, saat itu para pedagang dari Madinah mendapatkan keuntungan yang besar dari perjalanan dagang ke negeri Syam. Sepulang dari negeri Syam, para pedagang Madinah membawa uang yang berlimpah. Masuknya uang ke Madinah tersebut membuat penawaran uang naik secara mendadak, terjadilah apa yang dalam ilmu ekonomi disebut impulse buying. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan peningkatan permintaan yang sangat tinggi untuk beberapa barang pokok di Madinah. Akibat adanya kenaikan permintaan, inflasi pun meningkat. Umar bin Khattab mengambil kebijakan menunda/melarang transaksi yang melibatkan barang pokok tersebut. Dengan kebijakan tersebut, inflasi di Madinah kembali dapat diatasi.

Dari dua kisah di atas, jika dikaitkan dengan ilmu ekonomi Islam, stabilitas ekonomi dibedakan menjadi dua, yaitu stabilitas sektor riil dan stabilitas sektor moneter. Stabilitas sektor riil dalam ekonomi Islam ini dilihat dari strukutur pasarnya. Begitulah ekonomi Islam mengatur stabilitas ekonomi dalam suatu negara. Ekonomi Islam bukanlah ‘produk’ yang baru muncul, melainkan ia sudah ada di zaman Rasulullah dan para sahabat. Aplikasi ekonomi Islam pun bukan untuk kepentingan umat Islam saja.

 

Referensi:

Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi, Fiqih Ekonomi Umar bin Khattab, terj. Asmuni Solihan Zamakhsyari, Khalifa (Jakarta : 2006)

Adi Warman A. Karim, Ekonomi Islam; Suatu Kajian Kontemporer, Gema Insani (Jakarta: 2001)

http://wahdah.or.id/puasa-bersama-nabi-03-menu-makan-sahur-ifthar-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam/.

http://bi.go.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *