Notulensi DIoSC bersama Dr. Erwandi Tarmizi, MA

Notulensi DIoSC bersama Dr. Erwandi Tarmizi, MA

NOTULENSI DIOSC – 12 Mei 2017

 

PEMBICARA             : Dr. Erwandi Tarmizi, MA

MODERATOR           : Wahyu Jatmiko, S.E, M.Sc

 

TEMA: HALALKAH TRANSAKSIKU?

 

Dalam jual beli air, kita membayar secara tunai di awal. Ketika terlambat membayar dalam 20 hari semenjak tagihan dikenakan kepada kita, ada pertambahan, inilah yang disebut pertambahan (riba) dalam jual beli. Tambahan tersebut dikenakan secara paksa sehingga diharamkan oleh Allah. Namun, bila tambahan itu diberikan secara sukarela, maka hukumnya halal.

 

Ilmu Agama Allah dalam masalah muamalat sangat luas sehingga diibaratkan sebagai laut yang tidak bertepi. Jika dihitung secara transaksi, dari sejak bangun pagi sampai tidur begitu banyak transaksi muamalah yang kita lakukan sehingga Allah tidak mempersulit manusia untuk mengetahui apakah semua transaksi yang dilakukan halal atau tidak. Kaidah syariah muamalat dalam Al-Qur’an diturunkan oleh Allah secara global. Transaksi halal atau haram dalam muamalah tidak sedetail masalah ibadah. Oleh karena itu, kaidah muamalah yang seharusnya dipelajari adalah dalil yang mengharamkan dari beberapa transaksi muamalah.

 

Setiap pedagang adalah orang yang bermain dengan spekulasi. Tidak ada orang yang bisa menafikkan gharar dalam bisnisnya karena barang yang ia miliki bisa jadi untung ataupun rugi ketika ia jual. Barang yang disampul plastik sebenarnya bisa dibilang sebagai barang gharar karena belum kita ketahui isinya cacat atau tidak. Namun, tingkat ghararnya sedikit sehingga masih disebut halal. Menjual singkong yang masih ada di dalam tanah dan menjual barang yang masih ada di pohon juga termasuk gharar. Misalnya ada orang yang menjual kebun papaya sebesar 2 hektar dan ukuran berapa banyak papaya yang ada di kebun tersebut hanya di kira-kira saja dan tidak di hitung secara detail, ini termasuk transaksi haram karena tidak ada kepastian tentang berapa banyak pepaya di kebun tersebut.

 

Dalam sebuah hadis dikatakan ‘Janganlah kau menjual barang yang belum kau miliki.‘” (HR. Abu Daud). Inilah dalil yang mengharamkan jual beli barang gharar. Ini karena kebiasaan para pedagang dari zaman rasul dulu hingga kini adalah menjual barang yang belum mereka miliki.

 

Pertanyaan:

 

  1. Kebetulan saya punya bisnis baju, tapi sistem dropship tidak boleh. Lalu, gimana? Bukannya ada akad salam? Akad salam maksudnya apa sih? Karena kadang ada order barang tapi barangnya belom ada.

 

Anda harus menanggung risiko kalau tiba-tiba barangnya tidak datang, dan pembeli udah bayar. Anda juga tidak boleh meminta dp dari awal karena dp merupakan bagian dari jual beli. Kalau sudah dp tetapi pembeli tidak jadi membeli, maka dpnya hilang. Namun, jika pembeli memberikan uang jaga-jaga, uangnya berhak diambil penuh.

Solusi untuk dropship:

  • Sebelum menjual barang, hubungi produsen. Kalau produsennya meminta bayar terlebih dahulu berarti akad anda sudah jual beli dan anda sudah memiliki barang tersebut.
  • Produsen sudah mengiyakan anda untuk tidak bayar dulu dan anda adalah orang yang dipercayai oleh produsen, itu tidak apa-apa. Ini disebut akad wakalah. Produsen menjadi wakil dari pembeli.
  • Anda bukan orang yang dipercayai oleh produsen, anda bisa berikan uang jaminan kepada produsen ini. Jika anda menghilang dan tidak membayar dalam waktu yang lama, maka produsen berhak mengambil uang jaminan ini

 

  1. Gerakan kembali kepada dinar dan dirham. Penggunaan uang kertas yang dibawah nilai intrinsik disebut riba. Apakah benar?

 

Bahwasanya, uang dinar dan dirham sendiri belum tentu sesuai dengan nilai intrinsiknya. Umar bin khattab pernah berkeinginan untuk menghancurkan Persia dan negri Syam. Sedangkan, yang mencetak uang dinar dan dirham itu negeri-negeri tersebut. akhirnya negara-negara ini memblokade uang yang mereka cetak untuk beredar di negeri Arab. Akibat yang terjadi adalah harga barang di arab naik. Akhirnya umar mencetak uang baru yang terbuat dari kulit unta. Sebenarnya ini juga belum tentu sesuai dengan nilai intrinsiknya. Jadi intinya, kaidah riba tidak dapat diukur dari lebih besar atau lebih kecil nilai nominal uang dari nilai intrinsiknya.

 

  1. Ayah saya punya paman, beliau punya tanah, di masa lalu ada UU Agraria yang menyatakan bahwa setiap orang punya tanah maksimal 4 hektar. Paman dari ayah saya ini memecah tanahnya dan beberapa bagian dari tanah tersebut diatasnamakan atas nama ayah saya. Kemudian, tanah ini terdaftar di buku desa jadi nama ayah saya. Dan tanah ini dijual oleh ahli warisnya si paman ayah saya. Namun, transaksi ini tidak bisa dilakukan karena ahli warisnya memalsukan ttanda tangan ayah saya, dan ayah saya baru ikhlas tanah itu dijual kalau dikasih bagian seikhlasnya. Ini jadinya gimana?

 

Apakah ada akad hibah dari paman ayahmu? Kalau tidak ada akad hibah, berarti ini hanya pinjam nama. Kalau pinjam nama, berarti ayahmu harus setuju itu tanahnya dijual oleh ahli waris, jika tidak setuju berarti zholim.

 

  1. Jika seorang klien minta kuitansi kosong, tetapi kita sudah tahu kalau niat klien tersebut ini untuk meminta kuitansi kosong agar mendapatkan reimburse(uang ganti) lebih besar. Hukumnya bagaimana?

 

Secara peraturan, boleh. Tetapi jika kita mengetahui bahwa kuitansi kosong itu digunakan untuk berbohong, maka jangan diberikan karena jika anda melakukannya, anda membantu dia memakan harta dengan jalan yang bathil.

 

  1. Ustadz, saya punya usaha kerjasama yang akadnya musyarakah, Musyarakah 70% investor luar (4 org); 30% diri sendiri(dibagi 3 org). Namun, 30% ini akhirnya dibagi jadi 3 lagi sama saudara-saudara terdekat. Dan semuanya punya skill dan bagi hasilnya menjadi 50%; 50%, karena ada skillnya, kerugian juga gitu. Salah tidak?

 

Ingat harus tetap sesuai modalnya masing-masinh. Keuntungan disesuaikan dengan kesepakatan dan kerugian harus sesuai dengan modal yang disetorkan. Hal ini karena kepemilikannya bertambah setelah akad ini sudah beberapa lama berjalan  sehingga harus disesuaikan lagi dengan modalnya.

 

  1. Event tebak harga di sosial media yang sedang nge-tren, halal atau tidak?

 

Dalam islam lelang itu ada 2 jenis, yaitu:

  • Munaqasah: lelang harga terkecil
  • Muzayadah: lelang harga terbesar

 

Karena tebak harga di sosial media tersebut seperti lelang, tetapi perbedaannya adalah angka yang diberikan tidak jelas karena hanya dicari 1 harga yang unik. Oleh karena itu, tebak harga tersebut masuknya sebagai gharar karena harganya tidak jelas.

 

  1. Apa hukumnya kerja sebagai driver online, karena fiturnya banyak yang haram?

 

Nampaknya pernyataan saya tentang Go-Pay haram menimbulkan banyak pro-kontra. Go-Pay menjadi haram karena membedakan meminjamkan uang dengan cara yang deposit dengan yang tidak. Selengkapnya dapat dibaca di http://erwanditarmizi.com/wp-content/uploads/2017/02/GO-PAY-HHMK-2.pdf

 

  1. Ada semacam franchise minuman yang memiliki member card, jadi jika pelanggan beli minuman ini menggunakan member card akan dapet poin, Jika poinnya sudah banyak, dapat ditukarkan lagi dengan minuman secara gratis, hukumnya gimana?

 

Insya Allah boleh

 

  1. Saya ingin meminta nasihat sebagai seorang mahasiswi. Banyak akad yang sudah dikasih DSN halal MUI karena kebutuhan masyarakat, tetapi kalau dipelajarin sebenarnya akad tersebut tidak Bagaimana seharusnya sikap kita?

 

Intinya sebagai mahasiswi pasti ingin mendapatkan nilai bagus, jadi ya ikutin saja jawabannya dengan pendapat dosen anda. Kalau dosennya pakai fatwa DSN, ya pakai fatwa DSN MUI. Namun, sebagai muslim, harusnya kita mempelajari lebih lanjut dan tidak asal pakai DSN MUI.

 

================
Departemen of Study and Research of Islamic Economics and Business
FSI FEB UI
Rumah Ukhuwah Kita
#EmbracingEveryone | 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *