#CeritaLaras : Di Negeri Paman Sam

#CeritaLaras : Di Negeri Paman Sam

oleh Laras Istiqomah, Northen Virginia, Amerika Serikat

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Perkenalkan nama saya Laras Istiqomah. Alhamdulillah, lima tahun sudah saya menjalani hidup di United States. Saya pindah ke negeri Paman Sam bersama keluarga karena tuntutan pekerjaan Ayah Laras. Kontrak pekerjaan Ayah Laras berakhir ditahun ketiga, dan ia harus kembali ke Tanah Air. Saya, yang sedang menunggu kelulusan high school dalam tiga bulan, memilih untuk stay dan melanjutkan sekolah disini. Sembari menunggu graduation ceremony dari George C. Marshall High School, saya melanjutkan studi saya di Northern Virginia Community College. Community College adalah institusi pendidikan setara dengan D3 di Indonesia. Tidak sedikit anak-anak yang lulus dari high school memilih untuk melanjutkan study disini lalu transfer ke four-year university. Salah satu keuntungan dari sekolah di community college adalah murahnya biaya sekolah, kurang lebih sepertiganya dari biaya sekolah di four-year university. Sistem perkuliahan di United States berbeda dengan sistem di Indonesia. Dua tahun pertama kuliah biasanya dipenuhi dengan jadwal kelas wajib seperti english, math, science, social studies, humanities, dan art. Jadi penjurusan dimulai ditahun ketiga. Alhamdulillah, tahun ini saya lulus dari community college dengan gelar Associate of Science in Computer Science dan akan melanjutkan ke University of Maryland Baltimore County dengan jurusan yang sama.

Selama lima tahun Laras tinggal di Northern Virginia, state Virginia, yang kurang lebih 30 menit dari ibukota Washington, D.C. Sekarang, saya sudah pindah ke Baltimore di state Maryland, yang berada 40 menit dari ibukota. Tahun ini adalah tahun ketiga Laras untuk menjalankan ibadah puasa tanpa keluarga. Seperti lima tahun terakhir, Ramadan tahun ini jatuh dimusim panas. Puasa dimulai dari pukul 4 pagi hingga pukul 8.30 malam. Berpuasa di negeri Paman Sam ini tidaklah mudah, mengingat orang- orang Muslim disini adalah kelompok minoritas. Tidak ada masjid dengan pengeras suara yang mengingatkan waktu imsak dan salah wajib. Selama saya tinggal disini, saya sangat bergantung dengan jam dan athan app yang saya install disemua electronic gadgets yang saya punya. Tempat makan pun tetap buka dimana-mana tanpa ada penutup di jendelanya. Pandangan pun diuji disini. Tidak seperti di Tanah Air, orang-orang menutup badannya ketika bulan Ramadan tiba. Tidak sedikit orang-orang memilih untuk menipiskan dan memperpendek pakaian mereka. Keimanan orang-orang Muslim benar- benar diuji disini.

Mencari masjid di United States tidaklah mudah seperti di Indonesia. Masjid terdekat berjarak hampir 3.5 kilometer dari rumah kos. Mungkin terdengar tidak terlalu jauh, tetapi karena saya belum memiliki kendaraan pribadi, saya harus bergantung dengan transportasi umum. Masjid terdekat mengumumkan bahwa Imam salah Tarawih berusaha untuk menyelesaikan satu juz setiap malamnya. Sungguh mulia niatnya, namun down side-nya adalah salah kemungkinan selesai pada tengah malam. Sungguh berbahaya bila saya berpergian sendiri digelapnya malam. Oleh karena itu, saya memilih untuk salah Tarawih di rumah saja.

Tinggal di kos tidaklah mudah. Berbagi kamar mandi dan ruang umum seperti dapur. Saya baru pindah ke rumah kos baru satu bulan lalu. Dapur terletak tepat didepan pintu kamar, jadi setiap waktu sahur, saya berusaha tidak membuat kegaduhan untuk menghormati housemate yang sedang terlelap. Menu sahur dan buka biasanya sama untuk dua atau tiga hari. Sebagai anak kos, saya lebih suka memasak dalam porsi banyak. Bila waktu sahur atau iftar datang, saya tidak perlu susah-susah menyiapkan makanan; hanya perlu menghangatkan makanan yang sudah ada. Bosan memang jika harus memakan makanan yang sama, tetapi waktulah yang memaksa saya seperti ini. Suasana yang sunyi membuat sahur dan buka terasa hampa. Tiada canda tawa yang biasa terdengar saat makan bersama keluarga. Hanya bunyi dentingan sendok dan garpu beradu yang terdengar.

Sudah jalan dua bulan saya tinggal di lingkungan baru. Tidak ada yang special di bulan Ramadan ini. Saya lebih menghabiskan waktu di rumah dengan melakukan ibadah sunnah. Tapi saya akan berbagi cerita bulan Ramadan di komunitas Indonesia. Jika kalian pindah kedaerah Washington, D.C., tidak perlu khawatir akan kehilangan suasanya Indonesia. Disini, ada komunitas Muslim Indonesia bernama IMAAM. IMAAM adalah kepanjangan dari Indonesian Muslim Association in America. Ini adalah sebuah komunitas yang dibangun oleh masyarakat Indonesia untuk mempererat tali persaudaraan. Setiap hari Minggu, IMAAM memiliki program Madrasah. Madrasah adalah sekolah yang mengajarkan membaca Qur’an dan ilmu-ilmu tentang Islam seperti Fiqh. Selain Madrasah, IMAAM memiliki banyak program untuk menambah ilmu Islam keseluruh generasi. Alhamdulillah, masyarakat Indonesia sudah memiliki gedung masjid sejak akhir tahun lalu yang dinamai IMAAM Center. Sebelum memiliki masjid pribadi, IMAAM masih menyewa gedung sekolah untuk melakukan kegiatan rohani. Seperti Ramadan tahun lalu, IMAAM hanya membuat acara buka puasa bersama setiap hari Sabtu. Setelah memiliki masjid sendiri, acara buka puasa bersama diadakan setiap hari. IMAAM pun membuat banyak program baru dibulan suci ini, salah satunya pesantren kilat.

Pesantren kilat dibuat untuk mengajarkan Islam khususnya kepada generasi muda. Selama satu minggu mereka diajarkan banyak ilmu tentang Islam. Tidak jarang pembicara mengingatkan “Don’t be afraid to tell you are a Muslim.” Ya, topik ini gencar dibicarakan. Disaat media luar membuat Islam sebagai momok yang menakutkan, disini kami memberi klarifikasi kepada generasi muda bahwa Islam itu bukan teroris. Masih banyak lagi program-program yang diadakan di IMAAM Center. Insha Allah program-program tersebut menguatkan masyarakat Muslim untuk tidak takut mengidentifikasi dirinya sebagai Muslim dan bisa melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *