Notulensi DAGELAN bersama ABU TAKERU: Cinta & Benci Karena-Nya

Notulensi DAGELAN bersama ABU TAKERU: Cinta & Benci Karena-Nya

 

Bismillaahirrahmaanirrahiim

 

Muqaddimah

Tinta sebanyak air tujuh lautan, dan pohon yang menjadi bahan pensilnya, niscaya tak akan cukup untuk menulis segala nikmat Allah.

Allah itu Al Hakim (Maha Penuh Hikmah) dan Al Adl (Maha Adil)

Adil: menempatkan sesuatu pada tempatnya

Hikmah: lawan dari sia-sia atau selalu ada arti dari suatu kejadian, tidak ada yang sia-sia.

 

Allah penuh hikmah

  • Allah penuh hikmah dalam ciptaan-Nya

Allah selalu memberi hikmah dalam ciptaan-Nya, baik itu merupakan ciptaan yang kita anggap baik maupun buruk. Yang buruk menurut sudut pandang manusia bisa jadi merupakan yang  baik di mata Allah.

Allah menciptakan dajjal, iblis, dan sebagainya yang kita anggap buruk, semuanya diciptakan bukan karena keburukan, tetapi karna Allah ingin memberikan yang terbaik. Contohnya, ketika kita diganggu oleh setan, hikmahnya adalah kita jadi meminta perlindungan kepada Allah dan jadi semakin dekat dengan Allah.

  • Allah penuh hikmah dengan takdir-Nya.

Contoh, lulus masuk UI. Semua ini pasti ada hikmahnya. Mungkin saat Allah memberikan kelulusan, kita menjadi jauh dari Allah atau mungkin bisa menjadi lebih dekat. Semua ada hikmahnya.

  • Allah penuh hikmah dalam hukum-hukum-Nya.

Pelarangan minum miras, bisa jadi setelah meminumnya, kita menjadi kehilangan akal dan tidak dapat mengendalikan diri. Maka dari itu, minum miras dilarang.

Pelarangan riba, dosanya ibarat berzina dengan ibu kandung sendiri. Kemiskinan yang merajalela di dunia ini disebabkan oleh riba.

Ada yang haram, tetapi kita tidak tahu apa hikmah dari keharaman tersebut

Contohnya:

 

  1. Minum pakai tangan kiri,
  2. Pelarangan pria memakai pakaian berbahan sutra, sementara wanita dibolehkan.

Intinya, walaupun kita tidak mengetahui makna dari pengharaman itu apa, ketika Allah mengharamkan sesuatu, kita harus berprinsip “kami dengar dan kami taat” karena semua hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah pasti ada hikmahnya.

Setiap yang Allah haramkan pasti ada manfaatnya

Contoh: Miras bisa menghangatkan tubuh

Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah, di miras, ada dosa dan bahaya, serta manfaatnya, namun bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Yang mungkin kedangkalan ilmu manusia membuat manusia tidak tahu mengapa itu diharamkan.

Apabila kita mendengar perintah Allah, namun belum bisa menjalankan perintah-Nya, maka perbanyaklah minta ampun.

Cinta dan Benci Karena-Nya

 

Dasarnya “Allah haramkan sesuatu, maka terimalah. Walaupun ada manfaatnya.”

Cinta terbagi menjadi tiga, begitu juga benci. Namun, yang dibahas kali ini hanya dua saja dari masing-masing cinta dan benci.

Ada cinta yang sifatnya naluri seperti cinta sama kucing, Ayah cinta kepada anaknya dan sebaliknya. Cinta yang sifatnya naluri ini berpahala atau tidak, tergantung. Kalau cintanya dengan melakukan perbuatan yang baik kepada yang dicintai karena Allah, insya Allah ada pahalanya.

Asal hukum cinta yang sifatnya naluri adalah mubah, tidak berpahala dan tidak berdosa. Namun jika diaplikasikan dengan suatu hal yang tidak baik, maka dapat menjadi dosa. Oleh karena itu, salurkan cinta naluri “karena Allah” agar berpahala.

Adapula cinta yang sifatnya berlandaskan perintah Allah. Cinta ini tumbuh karena melaksanakan perintah Allah. Di sana ada nafsu, dan nafsu selalu benci dengan yang namanya ketaatan. Namun, kita dapat  mengendalikan nafsu kita dengan ketaatan, maka ini bisa jadi cinta yang berpahala.

Benci ada yang sifatnya naluri, semisal benci/takut sama kucing, takut pada hantu. Benci ini tidak dosa. Namun, jika benci/takut ini menyebabkan kita jadi syirik, ini baru dosa.

Benci karena Allah adalah benci pada kemaksiatan. Kemaksiatan terbesar di mata Allah adalah syirik dan kufur. Syirik yang dimaksud adalah yang mempersekutukan allah.

 

Dalam Surah Al Mumtahanah ayat 4, tentang kisah ibrahim dan ayahnya.

 

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةُ وَٱلْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَىْءٍۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ

 

Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, ”Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,

Untuk orang yang pobia dengan kata kafir. Jangan seenaknya kita mengatai kafir terhadap sesama orang muslim. Barang siapa yang mengatakan kepada saudaranya muslimnya dengan “Hai Kafir!”, bisa jadi kita malah yang jadi kafir. Maka, berhati-hatilah. Namun, kalau memang dikatakan ke non muslim, maka tidak masalah. Perlu ditekankan kembali kepada non muslim yang sensitif dengan kata kafir bahwa kata kafir tidaklah melanggar SARA. Kata kafir artinya orang yang selain islam.

Al-Maidah ayat 51 mengatakan jangan ambil orang kafir sebagai pemimpin. Kalau ada yang kafir dan kinerjanya bagus, berbeda dengan yang muslim tapi lemah kinerjanya. Kita ingat lagi, ketika Allah ciptakan yang haram, memang ada manfaatnya. Namun, perlu diingat, yang haram itu buruknya lebih besar dari pada manfaatnya. Kita ingat lagi, contohnya seperti di suriah. Negara yang mayoritas muslim, tetapi pemimpinnya non muslim, jadilah Suriah seperti saat ini.

Kita dilarang menzalimi orang kafir. Barangsiapa yang menyiksa/ membebani/ menyakiti tanpa alasan yang benar, maka rasul di hari kiamat akan marah kepadanya. Kita harus santun dan baik selama mereka tidak memerangi islam.

Kita boleh mencintai orang kafir karena naluri misalnya dengan membantu mereka dalam hal yang tidak bertentangan dengan aqidah.

Kalau Allah melarang kita milih pemimpin kafir, maka kita harus mengikuti perintah-Nya karena Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi kita.

Pertanyaan

  • Tentang Aulia, kita tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai teman dekat. Bagaimana jika itu orang tua kita sendiri?

Jawaban: Intinya, kita masih boleh serumah dengan mereka. Dengan ngedakwahi mereka dengan cara yang baik itu boleh.

  • Bagaimana jika ada atasan/pemimpin perusahaan yang non muslim. Boleh tidak kita bekerja di perusahan itu?

Jawaban: Boleh, tetapi jangan sampai melewati batas syariat. Allah membolehkan kita memiliki pemimpin kafir dalam konteks bisnis, tetapi kalau sudah mencakup pemimpin kecamatan, negara, dan sejenisnya itu tidak diperbolehkan.

  • Bagaimana kalau orang tua kita pendukung dari pemimpin kafir?

Jawaban: Harus tetap cintai orang tua kita, dan bicarakan baik-baik. Namun, jika kita dimarahi terus, mungkin cara lainnya adalah dengan mendoakan.

  • Ada suatu mesjid yang menampilkan tulisan berupa “kami tidak mau nyolatin orang yang milih kafir.”

Kalau ada orang muslim yang memilih non muslim sebagai pemimpin, itu bukan otomatis mereka kafir. kalau orang itu memilih karena agamanya yang kafir, itu yang bahaya. Tidak boleh sembarangan mengatakan/mencap muslim lain sebagai kafir. Kalau ada muslim yang melakukan dosa, kita bencinya kelakuannya, jangan orangnya. Orangnya harus tetap dicintai dengan cara mungkin mendakwahi dia agar lebih baik.

 

DAGELAN, 13 April 2017 bersama ABU TAKERU (Ust. Rizal Fadli Nurhadi)

“Cinta & Benci karena-Nya”