Bisnis dan Ideologi Qarun

Bisnis dan Ideologi Qarun

Oleh Amrial
Staff SHINE FSI FEB UI

 

Di dalam kehidupan sekarang ini, bisnis sudah menjadi aktivitas keseharian banyak orang. Bisnis yang merupakan kegiatan mencari keuntungan ini dapat dijalankan seorang diri, berkelompok kecil, maupun dalam sebuah entitas perusahaan dari skala kecil sampai besar. Dewasa ini bisnis sudah banyak dimulai oleh para mahasiswa bahkan tak jarang kalangan yang masih berstatus sebagai pelajar. Bisnis biasanya dilakukan dari sebuah hobi, hal-hal lain yang disenangi ataupun memang murni dari motivasi untuk mendapatkan penghasilan. Disisi lain, bisnis selalu hadir dengan resiko, karena memang bisnis sendiri adalah sebuah resiko. Prinsip berbisnis adalah ingin mencari keuntungan materi sebesar-besarnya atau meminimalisir resiko sekecil-kecilnya. Begitulah prinsip bisnis yang telah merasuk ke dalam pikiran kita.

Kehadiran bisnis di era modern sudah mencapai tahap kreatifitas dan inovasi yang tinggi. Banyak produk-produk yang dihasilkan atas pemikiran unik dari para pelaku usaha. Selain produk, metode penjualannya pun sudah sangat berkembang, mulai dari bisnis online, lalu bisa menjadi seorang reseller, dropshipper, dan lain sebagainya. Bisnis sudah menjadi life style yang sudah sangat mudah dilakukan bagi sebagian orang. Sungguh menakjubkan berkembangnya inovasi dunia bisnis dewasa ini. Namun, sadarkah kita bahwa banyak prinsip dalam bisnis yang telah jauh dari prinsip-prinsip Islam? Bahkan tanpa sadar, benarkah kita sudah menggunakan ideologi Qarun dalam landasan berbisnis?

Ideologi Qarun

Qarun berasal dari kaum Nabi Musa ‘alaihissalam. Namun, Qarun bukan termasuk keluarga Musa. Karena keluarga Musa terdiri dari orang-orang yang beriman berkat dakwah dan risalah yang dia bawa. Qarun adalah orang yang pada awalnya beriman dengan dakwah Nabi Musa. Ketika Allah Swt membukakan baginya jalan untuk mendapatkan harta dan perbendaharaan-Nya dia lupa dengan seruan yang telah diserukan kepada dirinya karena sibuk dengan kekayaan yang dimilikinya, dan kemudian dia berlaku sewenang-wenang pada kebenaran dan kebaikan. Allah telah membukakan untuk Qarun pintu-pintu kekayaan yang luar biasa seperti emas, perak, dan berbagai macam barang tambang. Allah juga menguasakan padanya ilmu dan pengetahuan tentang cara mengumpulkan harta dan menguasakan padanya cara mengolah dan mengembangkan harta serta cara memelihara dan menjaganya.

Namun, dengan segala kelebihan yang dia miliki, Qarun tidak bersyukur dan tidak mengakui bahwa semua yang telah dikaruniakan kepadanya adalah karunia dari Allah Swt. Lebih parah lagi, Qarun memliki ideologi, ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Qarun begitu sombong dengan apa yang dia capai. Dia menyatakan hal itu semata-mata karena ilmu yang ada pada dirinya. Dia mengaku bahwa harta dan perbendaharaan tersebut merupakan buah dari keseriusan, kesungguhan, dan kecerdasannya. Tidak ada seorang pun yang ikut campur di dalamnya.” Kecintaannya terhadap harta telah menyeretnya pada sikap mengesampingkan pikiran sehat dan tindakan yang benar. Qarun masuk dalam lingkaran orang yang kufur nikmat, ingkar, dan membangkang. Perkataannya bahwa ilmunya tidak bersandar pada seorang pun merupakan bukti dia sombong dan tidak menghargai orang lain. Karena dia telah berkeyakinan bahwa harta yang dia dapatkan adalah hasil dari ilmu yang dimilikinya, maka tidak ada seorang pun yang berhak atasnya. Dia beranggapan semua harta kekayaannya merupakan haknya untuk digunakan sekehendak hati. Sebagaimana perkataannya, “Karena ilmu yang ada padaku. Jadi, aku berhak untuk menjadikan manusia sebagai budak dan setiap yang ada pada mereka adalah berkat keutamaanku.”

Bisnis Berideologi Qarun di Era Modern

Prinsip bisnis dewasa ini tanpa disadari telah jauh dari prinsip-prinsip Islam. Tanpa disadari pula kita mulai mendekai cara berpikir Qarun dalam berbisnis dan memaknai harta. Qorun mengatakan “Sesungguhnya kekayaan adalah hasil dari kecerdasanku”. Kecerdasan disini pada era modern bisa dimaknai secara luas seperti pengalaman, relasi, manajemen yang baik dan faktor-faktor lainnya. Bukankah setiap apa yang kita pelajari dalam ilmu bisnis hanya membahas semua itu, tak pernah membahas sedikitpun bahwa rizki adalah takdir dan karunia dari Allah Swt. Padahal, inilah yang membedakan prinsip orang Islam dengan agama lain. Karena dengan prinsip utama ini, para pengusaha akan bertawakal dengan apapaun hasil yang akan diperoleh dari bisnisnya.

Anggapan dan prinsip bisnis yang selama ini dijalani tidak menuangkan unsur penting dalam prinsip Islam. Mereka beranggapan manusialah yang menghendaki semuanya. Sehingga “memaksa” para pelaku usaha untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan materi sebesar-besarnya atau meminimalisir resiko sekecil-kecilnya. Hal itu karena tidak adanya prinsip yang dipegang bahwa rizki adalah karunia Allah Swt, maka penulis ulangi lagi, rizki tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor penting yang dianggap oleh logika manusia saja.

Maka tak heran, kini banyak kasus penipuan yang sangat dzalim pada masyarakat. Sebut saja maraknya beras plastik, es krim dari sampah, dan berbagai produk yang dipalsukan bahan dasarnya. Selain itu, mengurangi timbangan, menutupi aib barang dagangan, dan menimbun sudah menjadi hal biasa bagi sebagian pedagang di era modern ini. Padahal dalam Islam, kita tidak boleh hanya sebatas memikirkan kemudahan atau besarnya keuntungan. Status halal dan haram setiap jenis usaha yang dijalankan harusnya menempati urutan pertama dari semua pertimbangan. Syariat Islam mengajarkan untuk selalu berbuat jujur dalam segala keadaan. Berlaku tidak jujur dapat menimbulkan kerugian pada diri sendiri.

Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, “Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (Hr. Abdur Razaq, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Sebagi penutup, penulis ingin kembali mengingatkan kepada pembaca dan khususnya untuk diri sendiri, kembalilah pada prinsip-prinsip Islam dalam melakukan apapun, termasuk dalam berbisnis. Jauhilah ideologi Qarun yang menyesatkan. Maka tidaklah perlu kuatir jatah rizki kita terhalang kalau belum melakukan segala cara sampai-sampai melanggar syariat Islam -bahkan persoalan rizki ini termasuk dalam ranah akidah yang harus diyakini bagi setiap muslim. Berbisnislah sesuai dengan akhlak seorang muslim serta pelajari hukum-hukum mu’amalah Islam sebelum terjun ke dunia berbisnis. Terakhir, awali niat dengan tulus bahwa tujuan berbisnis adalah untuk ibadah dan mendapatkan ridho Allah Swt.

 

Referensi

http://pengusahamuslim.com/qarun-cerminan-si-kaya-dan-durhaka/

http://pengusahamuslim.com/sukses-dunia-dan-akhirat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *