Best Question Of The Month

Best Question Of The Month

[Best Question of The Month; Ask FSI]

Pertanyaan :

Terkait kasus penyeragan tempat ibadah agama lain sebagai respon dari ikap meliana dalam mengeluhkan azan. Apakah hal amoral hakim sendiri seperti wajar/boleh/haram?

Jawaban :

Islam melarang perusakan rumah ibadah agama lain. Bahkan, dalam kondisi berperang pun dilarang. Islam berprinsip bahwa setiap agama yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai ajaran utamanya harus dihormati dan dihargai meski dilihat secara keyakinan sangat bertentangan.

“Lalu, siapakah yang tepat dianggap lebih zalim daripada orang-orang yang berusaha melarang dan menghalang-halangi disebutnya nama Tuhan di tempat-tempat peribadatan serta berusaha menghancurkan tempat-tempat tersebut. Padahal mereka tidak berhak memasukinya kecuali dalam keadaan takut kepada Tuhan. Kelak mereka (yang menghancurkan tempat-tempat peribadatan) akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan siksaan yang berat di akhirat” (Q.S Al-Baqarah : 104)

Berdasarkan ayat di atas Nabi Muhammad SAW selalu memerintahkan para sahabat untuk tidak merusak tempat-tempat peribadatan dalam peperangan. Ini artinya Nabi sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat peribadatan agama lain meski secara keimanan sangat berbeda secara amat mendasar.

Bahkan pasca perang Hunain, ketika menemukan lembaran kitab Taurat di sela-sela harta rampasan perang, Nabi memerintahkan untuk mengembalikan lembaran kitab tersebut kepada kaum Yahudi. (at-Tabaqat karya Ibnu Sa’ad). Nabi Muhammad bahkan mengajari prinsip kebebasan beragama, terbukti dengan janji beliau melindungi umat Kristiani beserta gerejanya di daerah Najran. (Majallah Majma’ al-Fiqh al-Islami, VII, 1827)

Indonesia adalah Negara Hukum, biarlah Meiliana diadili sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku. Tidak ada pembenaran terhadap tindakan kekerasan atau main hakim sendiri baik secara hukum atau pun Syariat Islam.
Terkait definisi hakim amoral, harus dibenarkan, hakim bukan amoral karena hakim adalah orang yang memiliki pengetahuan, jiwa yang stabil, kemampuan dan umur yang terpenuhi untuk menjalankan profesinya. Kata amoral diatas bisa diganti dengan immoral (seseorang yang mengetahui hal tersebut salah namun tetap melakukan atau tetap membenarkan hal yang salah tersebut. Untuk menghindari kesalahpahaman mengenai profesi hakim, maka akan dijelaskan terlebih dahulu posisi hakim di mata Allah dan selanjutnya bagaimana hakim harus bersikap dalam menangani masalah ummat.

Menjadi hakim adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan membutuhkan kehati-hatian karena kewajibannya untuk melakukan putusan. Putusan inilah yang menjadi beban dan tanggung jawab bagi seorang hakim di hadapan Allah kelak. Karena terkadang orang yang salah bisa dibenarkan dan sebaliknya. Jauh sebelum adanya hukum positif, Allah telah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang orang yang tidak bersalah, karena membela orang-orang yang khianat. {QS. al Nisa’: 105}

Keputusan bersalah yang dijatuhkan hakim kepada Meliana tersebut juga didasarkan pada Undang-Undang yang berlaku di Indonesia. Mengenai apakah hakim tersebut immoral atau tidak, kembali kepada diri hakim itu sendiri. Hanya dia (hatinya) dan Allah yang sejatinya mengetahui benar atau tidak putusan yang diberikan.

Jika dibilang wajar, maka wajar/boleh yang dimaksud adalah yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kita sebagai umat yang bernegara harus tunduk dan patuh terhadap hukum. Karena sejatinya hukum diterapkan dengan sifatnya yang mengikat harus ditaati dan dipatuhi karena merupakan kesepakatan dan norma dalam bermasyarakat. Dalam islam sendiri, perbuatan hakim terbagi-bagi seperti yang telah disabdakan Rasul SAW,
Diriwayatkan dari Buraidah r.a. dia berkata, Rasulullah SAW telah bersabda, “Hakim-hakim itu ada tiga macam, yaitu dua orang berada (akan menjadi penghuni) di neraka dan seorang lagi berada (akan menjadi penghuni) di surga. Seorang hakim yang mengetahui kebenaran kemudian dia menetapkan hukuman berdasarkan kebenaran tersebut maka dia berada (akan menjadi penghuni) di surga; Seorang hakim yang mengetahui kebenaran, tetapi tidak menetapkan hukuman berdasarkan kebenaran tersebut dan menyimpang dari kebenaran dalam menerapkan hukum, dia berada (akan menjadi penghuni) di neraka; dan seorang hakim yang tidak mengetahui kebenaran, kemudian menetapkan hukum berdasarkan ketidaktahuannya, dia berada (akan menjadi penghuni) di neraka.” (H.R. Imam yang empat dan dinyatakan sahih oleh Al-Hakim)[1]

Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia berdasar pada kebenaran dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan men-dapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. { QS. Shād (38): 26}

Wallahu A’lam.

 

Sumber:
journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/tahdis/article/download/4005/3701

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *