Berhijab, Jalan Menuju Taat

Berhijab, Jalan Menuju Taat

oleh Risma Nadira Iswani, Manajemen 2013
BEM FEB UI 2015

Setiap muslimah mendamba dirinya menjadi sosok yang taat kepada Tuhannya. Menutup aurat dengan berhijab adalah salah satu jalannya. Namun ternyata, ketaatan belum dapat langsung diraih setelahnya. Bahkan, setelah perjalanan yang sungguh berat bahkan hingga hampir tersesat, saya harus masih berkutat dengan keyakinan yang pada saat itu belum mantap.

Berawal dari Rasa Malu

Dengan latar belakang keluarga yang sangat heterogen dan ilmu agama yang dirasa belum cukup, kedua orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Saat itu, jilbab yang saya kenakan tak lebih dari sekedar seragam yang tertanggal di tubuh. Berangkat dan pulang dengan jilbab merupakan rutinitas yang harus dilalui setiap hari. Selepasnya, tak ada rasa bersalah sedikitpun untuk melepas jilbab yang saya kenakan ketika keluar rumah selain untuk tujuan bersekolah.

Pada saat usia saya menginjak 11 tahun, saya mulai merasa malu ketika bertemu dengan teman laki-laki saat tidak mengenakan jilbab. Terlebih ketika mereka menyadari bahwa orang yang mereka temui adalah seorang teman yang sehari-harinya memakai jilbab ke sekolah. Berawal dari rasa malu, saya memutuskan untuk mengenakan jilbab setiap kali saya pergi keluar rumah.

Perjalanan Berat Hingga Hampir Tersesat

Keputusan untuk berjilbab tidak serta merta menjadikan saya sebagai sosok yang taat kepada Tuhannya. Banyak hal yang saya lalui dengan cara yang tidak mencerminkan saya sebagai muslimah. Jilbab tak lebih dari sekedar penggugur kewajiban, kata-kata tak pantas tak jarang keluar dari lisan, dan perilaku buruk seringkali dicerminkan melalui perbuatan. Berbagai kegiatan diikuti dengan alasan mencari jati diri. Namun yang dilakukan tak lebih dari sekedar menghabiskan waktu tanpa nilai tambah yang berarti.

Saat hendak menginjakkan kaki di kelas 3 SMA, saya sekeluarga berkesempatan untuk pergi ke tanah suci. Merasa heran dan bingung dengan berbagai tata cara yang harus dilakukan membuat banyak sekali pertanyaan muncul dalam benak saya. Berbagai pertanyaan seperti mengapa mereka yang menjalankan haji dan umroh harus bertawaf, mengapa tawaf harus dilakukan dengan arah berlawanan jarum jam, dan pertanyaan-petanyaan lainnya terus berkelebat dalam pikiran saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menimbulkan pertanyaan baru lainnya dan menggiring saya hingga pada pertanyaan mengapa saya harus masuk islam dan mempertahankan agama yang saya bawa sejak lahir, mengapa saya harus sholat, mengapa gerakan sholat seperti itu, mengapa saya harus ber-Tuhan, dan mengapa kita diciptakan ketika pada akhirnya kita semua akan mati. Ketidakmampuan saya untuk menjawab semua pertanyaan itu memperburuk keadaan hingga pada titik di mana saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah saya akan memeluk agama lain jika saya terlahir pada keluarga yang memeluk agama lain?”.

Berangkat dari hal tersebut akhirnya saya mulai mempelajari agama islam dari nol. Belajarnya pun tidak terbatas melalui guru di sekolah, melainkan juga melalui bahan bacaan, video, hingga siaran radio sekalipun. Sedikit demi sedikit, saya menemukan berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam masa-masa pecarian. Sejak saat itu, saya merasa sangat yakin dengan agama yang saya pilih dan memutuskan untuk menutup aurat saya dengan lebih baik dari sebelumnya. Jilbab yang saya gunakan tak lagi menjadi penggugur kewajiban, melainkan sebagai tabungan amal yang berguna pada saatnya nanti saya dibangkitkan.

Kewajiban atau Pilihan

Perjalanan yang saya lalui menjadi pelajaran bahwa berhijab merupakan suatu perjalanan yang membimbing kepada tujuan sebenarnya. Berhijab bukan merupakan ketaatan, melainkan jalan menuju taat. Ibarat seorang pengendara motor, helm merupakan atribut atau kelengkapan yang wajib dikenakan bagi pengendara motor. Sama halnya dengan jilbab, jilbab adalah kelengkapan yang diwajibkan bagi muslimah. Namun, mana yang lebih baik, menaatinya karena sekedar tau itu diwajibkan, atau tau alasan dibalik mengapa aturan tersebut diwajibkan? Pilihannya ada di tangan teman-teman sekarang. Selamat menentukan.

International Hijab Solidarity Day

International Hijab Solidarity Day merupakan momen peringatan di mana berbagai umat muslim di seluruh dunia memperjuangkan haknya untuk berhijab. Bertempat tinggal di negara yang mayoritas berpenduduk islam merupakan keuntungan bagi kita karena kita dapat menggunakan hijab dengan bebas tanpa larangan sedikit pun. Namun, tidak sedikit saudara kita di luar sana yang masih harus berjuang demi haknya untuk beragama, termasuk salah satunya hak untuk mengenakan hijab. Oleh karena itu, yuk, kita jadikan momen ini sebagai ajang untuk merefleksikan diri dalam berhijabdemi menjadi muslimah yang lebih baik.

One thought on “Berhijab, Jalan Menuju Taat

  1. Agen Sabung Ayam

    Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Alloh lah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *